Perjalanan 50 KM




Perjalanan 50 KM




Sebungkus kenangan, namun tidak akan pernah habis ditelan oleh waktu. Yang selamanya akan selalu melekat di sanubari. Hingga perasaan nyaman, masuk kedalam relung hatiku.

Perjalanan setiap hari yang aku tempuh, torehkan karya indah setiap paginya. Melodi cinta terdengar syahdu di telinga. Udara pagi yang selalu suguhkan kesejukannya. Tak pernah buat aku, tidak terpana.

Hamparan pagi membentang luas. Warna kuning dimata, sejukkan siapa saja yang melihatnya. Semakin berisi semakin merunduk. Pembelajaran hidup yang tak terkira maknanya. Guru suka rela, tentang sifat yang harus dimiliki setiap insan di dunia. Tinggi padi yang berdiri rata, layaknya barisan sang perwira apel di pagi hari. Berbaris rapi sekali. Hatiku geli, karena di kumpulan padi- padi menawan itu ada sosok orang seperti lambaikan tangan. Ahh, orang- orangan sawah. Kau berhasil membuat aku tertawa.

Laki-laki yang menjelma menjadi sebatang pohon, goyangkan rantingnya isyarat lambaikan tangan. Seolah memberikan semangat untukku. Semakin kupandang, terlihat banyak laki- laki menjelma menjadi rumput liar. Yang sukarela terinjak–injak, asalkan bisa ikut memandangku.

Hembusan sang bayu mengajak menari daun-daun hijau yang sedang siapkan keceriannya. Sesekali beberapa jatuh berguguran karena dimakan usia. Meski demikian, ia pun sudah punya cerita.

Tampak juga warna-warni menghiasi pandangan mata ini. Berbagai profesi selalu ada setiap pagi. Dari baju yang dikenakan, aku bisa mengenali apa pekerjaan mereka. Mulai dari bapak pembawa cangkul, pastilah dia petani. Ibu-ibu pembawa sayur mayur. Besar kemungkinan, akan dibawanya ke pasar kota. Bapak berseragam coklat. Yakin sekali kalau  dia seorang polisi. Ada lagi seragam hijau, tentu saja seorang tentara. Kalau coklat muda bergradasi hijau tua, hasilkan seragam khaki, aku baru agak kesulitan. Sebab semua pegawai negeri sipil sama semua seragamnya. Bisa lebih jeli jika Id Card nya aku baca, pasti tau itu dari instansi mana.

Belum lagi anak-anak sekolah yang membaur juga menjadi satu. Kuning, hijau, orange, warna-warna dari anak Paud dan TK. Berangkat dengan riang, bergandengan tangan diantar ibu mereka. Bahu kiri jalan dipenuhi pula pelajar sekolah dasar. Tertawa terbahak- bahak bersama. Entah lelucon apa yang sedang mereka lontarkan. Berjejer pula sepeda anak SMP, yang asyik mengayuh sembari bercerita. Mungkin berbagi curahan hati, setiap pross yang sedang mereka alami. Bertukar pengalaman tentang setiap perubahan yang terjadi. Seragam putuh biru. Usia tahap perkembangan, transisi yang membawa individu dari masa kanak- kanak ke masa dewasa. Semua itu nampak menyenangkan. Serta pakaian putih abu-abu. Yang tak kalah ikut meramaikan jalan. Berbondong-bondong  bejuang menimba ilmu. Sepeda motor dengan berbagai merk yang mereka pilih. Semua itu siratkan sebuah makna, ingin  tunjukkan jati diri masing- masing. Ada juga yang saling berboncengan, serasa dunia hanya milik berdua. Benar banyak orang berkata, SMA suatu masa dimana kehidupan hanyalah indah adanya. Pemandangan itu seperti puding yang siap disantap di pagi hari.

Lalu lalang transportasi turut demo kepada pemiliknya, agar berjalan dengan kecepatan normal. Ramainya pagi, tidak akan bisa aku hindari. Sebab sama-sama ingin segera sampai tujuan masing-masing.

“Mau tau apa yang  membuat perjalananku terasa luar biasa?”

Jalan yang bergelombang tentunya. Jika ingin ngebut, tak akan bisa. Harus mengikuti ritme jalan yang ada. Selama perjalanan hanya berkisar 8-10 km saja yang beraspal baik. Selebihnya sudah rusak.

Tubuh ini ada kalanya terkoyak lunglai. Dada ini penuh dengan angin masuk setiap perjalan yang aku lakukan. Raga ini mulai digerogoti serpihan sang bayu.

Jarak yang tidak dekat untuk karyaku, setiap hari harus melaju pulang pergi 50 km. Saat cuaca bersahabat,  semua itu tidak jadi permasalahan untukku. Namun ada kalanya, bait- bait gerimis datang tanpa diundang. Menyapa diriku dengan lembutnya. Isyaratkan pada diri, bersiaplah nikmati hujan. Sebab hujan yang datang akan menyiram bau- bau kesedihan yang aku rasakan. Kesedihan yang bersarang dalam hati, yang menghalangi suatu kebahagiaan yang hakiki.

Beruntung jika setelah hujan aku masih berada di lingkungan luar. Ketika berteduh menunggu reda. Dan ada pelangi lukiskan kekuasaan-Nya. Menambah hiasan nan apik untuk awan yang tak bermakna.

Apapun itu, alam telah berikan aku berbagai kebahagiaan. Semua itu indah, tergantung cara pandangku terhadapnya. Bagaimana pula aku menghargai upaya mereka.


Kader-Kader Hebat


Kader-Kader Hebat




“Saya panggil satu persatu dulu ya!”

Setelah selesai mengabsen, kegiatan evaluasi bulanan segera dilakukan. Satu persatu perwakilan dari kader setiap posnya menyampaikan hasil kegiatannya selama satu bulan. Mengevaluasi setiap kegiatan, menemukan masalah ataupun hambatan, melakukan rencana tindak lanjut . Berharap selalu ada perbaikan- perbaikan demi capai hasil yang memuaskan.

Demi mencapai keberhasilan suatu kegiatan, tentu banyak faktor yang menentukan. Manusia itu sendiri sebagai pelakunya, ketepatan dalam menemukan cara, serta uang selaku pendukungnya.

Bahagia sekali hatiku, mempunyai kader-kader yang semangatnya selalu membara. Di desa Banyu Biru aku mempunyai kader berjumlah sepuluh orang. Meskipun mereka tidak mempunyai gaji setiap bulannya, hal itu sama sekali tidak menyurutkan kualitas kerja.

Kaderku ibu Siti Fatimah. Beliau berusia 52 tahun, seorang ibu rumah tangga. Berbadan mungil, mempunyai berat badan hanya 47 kg. Meski hanya lulusan bangku Sekolah Dasar, beliau sangat pintar. Pernah mengikuti lomba pengisian SIP Posyandu dan meraih juara 1 di tingkat kabupaten.

Dari beliau aku mendapatkan banyak pengalaman. Kesabaran dalam mendidik putra-putranya. Hingga menjadi anak yang berprestasi. Meski hanya di rumah, namun pengalamannya seluas samudera. Cara pandang serta pola pikirnya sangat maju.

Lain lagi dengan ibu Mutmainah. Dengan kesibukannya di rumah sebagai penjahit, tetapi beliau selalu aktif mengikuti semua kegiatan di desa. Secara suka rela, menawarkan diri menjadi ketua RT. Dan satu- satunya ketua RT perempuan di desaku.
Suaminya meninggal 4 tahun yang lalu. Beliau memilih tidak menikah lagi. Alasannya hanya ingin fokus membesarkan kedua anaknya saja. Berkat kegigihannya, putra pertamanya diterima di salah universitas negeri ternama tanpa banyak kelurkan biaya. Sedangkan putrinya yang nomer dua, masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas 7. Putrinya juga selalu beprestasi di sekolah.

Kalau masalah bunga dan tanaman hias, ibu Sarah pakarnya. Halaman rumahnya penuh dengan berbagai macam jenis bunga serta tanaman hias. Ada bunga anggrek, aster, azalea, camelia, mawar, dahlia, kamboja, sepatu dan masih banyak yang lainnya. Semua tertata dengan rapi. Dirawat dengan sangat baik. Semua bunga itu dijual untuk membantu mencari nafkah suaminya.

Suaminya bekerja di luar kota. Pulang setiap 2 bulan sekali. Putri pertamanya bersekolah di salah satu SMK Swasta. Kalau pada umumnya, anak seusia itu senang keluar rumah bermain dengan teman-teman. Dia memilih untuk bekerja paruh waktu untuk membantu ibunya hasilkan uang. Setelah pulang sekolah  sampai jam 7 malam, ikut membantu menjahit di konveksi milik saudaranya. Meskipun demikian, dia tetap beprestasi di kelas. Sungguh anak yang luar biasa. Putra keduanya, sudah masuk pondok pesantren sejak di bangku sekolah dasar. Dan saat ini sudah kelas 6.

Belum lagi ibu Sofi, selain aktif sebagai kader posyandu. Beliau juga aktivis masjid. Ketua pengajian ibu-ibu tepatnya. Di desa beliau rutin mengadakan pengajian setiap jumat sore. Beliau hanya mempunyai satu putra. Putranya juga hebat. Sejak Tsanawiyah sudah mondok. Dan akhirnya dapatkan beasiswa di Cairo Mesir. Masih 2 tahun menimba ilmu disana.

Bekerja dengan mereka membuatku bangga. Selalu mengingatkan jika salah satu dari kami berbuat salah dalam melaksanakan tugas. Saling menguatkan bila diantara kami sedang hilang semangat. Lebih dari itu, aku bisa belajar banyak bagaimana cara mendidik putra-putri mereka. Sehingga bisa menjadi anak yang istimewa.

Bersama mereka aku merasa berada di tengah- tengah keluargaku sendiri. Jarak usia yang terpaut jauh. Tidak membatasi komunikasi kami. Aku bisa bebas bercerita apapun. Mulai dari diskusi mengenai masalah- masalah kesehatan yang terjadi di desa, issue kesehatan di republik ini, sampai dengan masalah keseharian.

Mempunyai kader hebat, sangat menentukan keberhasilan sebuah program di desa. Karena setiap apa yang disampaikan mereka, pasti warga akan mengikutinya. Sebab sebelum mengajak, setidaknya mereka sudah melakukannya terlebih dahulu.

Kader hebat juga selalu mempunyai strategi dalam mencapai suatu keberhasilan kegiatan. Contoh yang sering dilakukan kader Banyu Biru yaitu satu hari sebelum pelaksanaan posyandu, mereka mengumumkannya terlebih dahulu di masjid. Pada saat hari pelaksanaan, kader akan melakukan pengumuman ulang. Ketika ada kegiatan khusus seperti bulan Februari dan Agustus, berkenaan dengan pemberian vitamin A. Kader akan memberikan pengumuman setiap kali pengajian. Menghimbau agar semua warga datang ke posyandu. Memastikan semua balita mendapatkan vitamin A. Selain itu,mengunjungi ibu yang sudah dua kali tidak datang ke posyandu. Semua hal itu terbukti efektif untuk mendorong warga agar datang ke posyandu.

Belum lagi, jika aku mengumumkan bahwa akan memberikan penyuluhan di balai desa. Semua kader pasti ikut serta. Mereka aktif dari mulut ke mulut menyambung informasi yang aku sampaikan. Tujuannya, supaya warga banyak yang datang ketika penyuluhan.

Merubah cara pandang dan pola pikir masyarakat. Agar melek kesehatan. Setelah masyarakat faham. Akhirnya dapat menggeser perilaku kesehatan yang selama ini masih salah, berubah menjadi benar.

Ikhlas





Ikhlas
Sore itu hujan baru saja reda. Bau aroma tanah kering yang lama tidak terkena air, terasa segar saat hidungku menghirupnya. Mata ini disuguhi dengan air hujan yang masih tersisa di dedaunan. Ketika sang bayu menyapa, air itu tersirat berjatuhan.

Sembari mendengarkan berita di radio, mata ini sayu- sayu ingin teruskan tidurku lagi.Ya, suasana sejuk selepas hujan buat aku malas beranjak dari tempat tidurku.

Assalamu’alaikum, Bu Salma.” Terdengar suara seorang wanita memanggilku.

“Waalaikumsalam...”  Bergegas aku menuju ruang tamu.
Wanita paruh baya datang ke Polindesku setelah hujan turun dengan lebatnya. Bajunya yang basah kuyup, membuat dirinya menggigil kedinginan. Kulit yang menggelintir karena air dan bibir sampai berwarna biru.

Kupersilahkan ia duduk. Segera aku ambilkan handuk dan membuatkannya secangkir teh manis.

Dia nekat datang karena ingin memeriksakan tubuhnya. Awal berangkat memang sudah mendung. Dalam perjalanan dirinya kehujanan. Berteduhpun tidak ada tempat yang nyaman. Dirinya mengeluh  beberapa hari pusing tak terkira.

Setelah aku periksa ternyata darahnya tinggi. Hasil pemeriksaanku 170/90 mmHg. Ternyata itu yang menyebabkan kepalanya pusing. Ia hidup seorang diri, suami sudah meninggal 3 tahun silam. Sedangkan dirinya tidak mempunyai keturunan.

Mendengar ceritanya aku merasa sedih. Jika sudah tua, ketika sakit seperti ini tidak ada yang menemani. Sakitpun semua tetap harus dilakukan sendiri. Karena memang tidak ada yang mengurusi.

Setelah cukup lama kami bercerita, diakhir pembicaraannya beliau meminta maaf. Karena tidak memiliki uang untuk membayarku. Seketika itupun aku mengatakan tidak keberatan. Mendoakan kesehatan beliau, agar segera diberi kesembuhan.

Langkahnya perlahan-lahan meninggalkan Polindesku. Ku hantar beliau sampai dengan punggungya tak tampak lagi dihadapanku.

Segera ku ambil hpku. Langsung ingat kedua orang tuaku.

Assalamualaikum, Bu.”

Waalaikumsalam.

“Ibu dan ayah bagaimana kabarnya, sehat kan?”

Obrolan panjang terjadi diantara kita. Banyak cerita yang selalu ingin aku sampaikan pada beliau. Rasanya memang setiap hari ingin bercerita panjang, tentang semua yang aku lakukan. Akupun menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Dan seperti biasa, sebelum aku tutup telfonku, beliau selalu ingatkan aku dengan pesan- pesan indahnya.

Pesan beliau padaku, yang sampai kapanpun tidak akan pernah aku lupakan. Selalu bersyukurlah dengan apa yang sudah kita miliki. Berbuatlah kebaikan kepada siapapun tanpa memandang siapa dia. Berbagilah kepada sesama. Tolonglah siapapun selama kita mampu. Dan jangan lupa ibadah.

Keesokan harinya, Pak Ramdan datang ke Polindes. Beliau membawa pisang, terong dan bayam. Katanya ini semua titipan dari nenek Salimah yang kemarin sore periksa.

Aku senang sekaligus kaget. Padahal kemarin aku sudah ikhlas. Sama sekali tidak keberatan kalau beliau tidak bayar. Ternyata Allah memberikan rizki padaku berwujud lain.

Hasil dari sebuah keikhlasan, rizki yang tidak pernah disangka- sangka datangnya. Pembelajaran juga untuk diriku. Saat niat iklas menolong orang, tanpa pamrih apapun. Allah pasti akan menggantinya. Selain itu saat kita membutuhkan bantuan dari orang lain, dan orang lain menolong kita, sebagai rasa terimakasih tidak mungkin kita akan melupakannya begitu saja.

Syukurku tak terkira, dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Setiap apa yang aku alami. Selalu memberikan pembelajaran hidup yang berharga untukku.

Sebenarnya kalau mengingat masa dulu, ketika aku menolak kuliah di jurusan kebidanan, rasanya sangat malu. Karena ternyata profesi ini banyak memberikan kebahagian. Dengan berprofesi ini, pintu berbuat kebaikan terbuka lebar. Setiap apa yang dilakukan bila diniati dengan benar bisa menjadi ladang amal.

Tak bisa kubayangkan, misalkan dulu aku tetap bersikeras tidak menuruti kemauan ayah. Pastinya hanya penyesalan yang aku rasakan.


Setiap orang tua tau pasti, apa yang terbaik untuk anak- anaknya. Pengalaman  menjalani kehidupanlah yang membuat mereka faham, bagaimana mengarahkan anak- anaknya menuju gerbang kesuksesan.

Mbak Atau Ibu




Mbak Atau Ibu



   Sebuah profesi yang selamanya akan melekat dalam diri. Yang tidak semua wanita berhasil menyandangnya. Karena bagiku, profesi ini memanglah tidak mudah. Perlu perjuangan yang memakan tenaga dan pikiran luar biasa. Dibutuhkan mental yang sempurna dalam ukuran manusia. Kemampuan mengolah diri, dalam menyikapi setiap kasus yang terjadi. Baik itu yang berhubungan langsung dengan ilmu itu sendiri. Dan juga kemampuan untuk bersosialisasi. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Hal-hal yang terkadang harus matang sebelum waktunya. Kedewasaan yang sering dari hasil karbitan, karena memang tuntutan keadaan. Kemampuan yang harus selalu diasah, agar tetap mampu mempertahankan keberadaan diri. Ya, memang itulah salah satu pembeda. Antara aku, dia ataupun mereka.

Wajah tidak bisa dipakai sebagai ukuran, usiapun tidak berpengaruh di dalamnya. Status pun seolah juga terabaikan.

“Bu Salma, selamat pagi, selamat pagi bu Salma.” Suara bersahutan anak-anak sekolah dasar lewat depan Polindes.

Sapaan yang hampir setiap pagi aku dengar, seperti sarapan pagi yang wajib aku lakukan. Begitu bersahabatnya mereka padaku.

“Bu Salma, besok lusa ada pertemuan di kantor Kepala Desa. Acara penyambutan untuk mahasiswa KKN dari Jogja. Mohon kedatangannya ya!”

Merasa menjadi bagian penting di desa. Karena setiap kegiatan yang dilakukan, bapak kepala desa selalu melibatkanku. Tak jarang juga, beliau meminta pendapat dan masukan untuk beberapa hal. Diskusi juga sering kali kita lakukan.

Panggilan yang melekat di diriku. Ibu dan ibu. Iya, hal itu panggilan yang bermakna sangat dalam. Dari panggilan itu pula, aku harus selalu menjaga setiap kata yang keluar dari mulutku. Karena setiap informasi yang keluar, akan didengar, diingat bahkan dilakukan. Ketika aku memberikan penyuluhan bagi banyak orang. Setiap yang datang pastinya akan mendengarkan. Memperhatikan apa yang aku sampaikan. Jika salah berucap, akan membawa dampak yang luar biasa. Begitu pula sebaliknya.

Begitupun dengan sikap. Apa yang aku lakukan, menjadi contoh untuk orang yang melihatnya. Misal aku lupa buang sampah sembarangan, dan tidak sengaja ada anak- anak yang melihatnya. Pasti secara tidak langsung, akan memberikan pembelajaran yang buruk juga. Sebab dengan melihat pengaruhnya sanagtlah hebat. Mungkin yang difikirkan, buang sampah tidak ditempatnya boleh. Bu Salma juga melakukannya.

Terlepas dari itu semua, mau berprofesi apapun. Ya memang harus melakukan yang terbaik. Bertutur kata yang baik, bersikapun yang bijak pula.

Adakalanya, stempel yang melekat padaku itu hilang untuk sementara. Saat aku keluar besama teman-teman. Tidak memakai pakaian dinas kebanggaan. Bebas mengekspresikan diri. Keluar sejenak dari ruinitas harian. Melalukan sesuatu hal diluar kebiasaan.

“Mbak mau minum apa?”

“Mbak pilih sepatu nomer berapa?”

Aku seperti hidup di dunia nyata lagi. Sesuai usia tepatnya. Karena memang layak dipanggil mbak. Pun dengan panggilan mbak, tidak ada beban yang ada di pundak. Merasa seperti wanita pada umumnya.

Namun, hal itu bisa sirna seketika. Saat aku sedang menikmati suasana, suara datang seperti kilat menyambar.

“Bu Salma, sedang apa disini. Dengan siapa, Bu?”

Ah, memang ya, dunia ini selebar daun kelor. Mau kemana aja, pastinya suatu ketika akan bertemu dengan orang yang sama. Orang yang memang sudah tahu siapa aku. Bagaimana sepak terjangku setiap harinya.

Tapi apapun panggilan itu, lambat laun menjadi suatu hal yang indah. Mereka melakukannya karena memang semata- mata menghargai diriku. Memang itulah adanya. Sebuah profesi yang unik, jika mau ditelaah dengan hati. Dan aku bangga dengan profesi ini.

Polindes Biru





Bangunan yang tak seberapa luas. Dalamnya terbagi menjadi 6 ruangan. Sekat-sekatnya hanya dari triplek coklat, yang dipenuhi dengan poster-poster kesehatan. Ruang bersalin, ruang periksa, kamar pribadi, dapur, ruang tamu, kamar mandi.

Kamar pribadi yang punya multifungsi. Ada televisi, kasur tidur, almari baju, meja rias sekaligus meja kerja. Berjubelan seolah rebutan kekuasaan.

Ruang tamu juga punya banyak peran. Tempat tunggu pasien periksa, keluarga pasien melahirkan, garasi sepeda motor. Pokoknya super istimewa.

Meski seperti itu, aku sangat nyaman. Betah berlama- lama di kamar pribadi. Apalagi kalau ada buku dan kopi yang menemani.

Tak pernah aku bayangkan sebelumnya, akan tinggal sendiri di rumah seperti ini. Tak banyak tenaga yang harus ku keluarkan, kalau hanya sekedar bersihkan tiap ruangan. Tidak perlu bersusah payah bingung meletakkan berbagai hiasan.

Awalnya aku merasa tidak nyaman. Tiap ruangan terasa sempit. Bernafaspun rasanya sulit. Terbiasa dengan rumah yang luas. Bebas beraktivitas sesukanya. Tanpa memikirkan takut berbenturan. Namun lambat laun, hal itu terbiasa juga. Rumah minimalis lebih menyenangkan.

Namun ada kalanya, pikiran ini melayang kemana- mana. Seandainya sudah berumah tangga. Sungguh aku tidak bisa membayangkan. Pastinya si kecil akan sering benjol kepalanya. Apalagi saat belajar merangkak. Eemm lucu juga pastinya.

Belum lagi, setiap kaki melangkah. Baru beberapa jengkal, akan bertemu dengan buah hati dan sang kekasih tercinta.

Tetapi, meski demikian, semua keadaan itu tidaklah sebanding dengan rasa damai yang menemaniku setiap harinya. Aliran sungai yang kecil, hasilkan suara air yang gemericik. Suara cericit burung-burung bersayap cerlang, menyanyikan lagu dengan riang untukku.Sang mentari, tiap pagi menyapaku dengan pipi merahnya. Muncul malu-malu karena hadirnya yang selalu aku tungu.

Saat senja datang, suguhan warna yang menggoda mataku, agar aku tak berkedip memandangnya. Berpamitan dan katakan selamat tinggal padaku. Ketika bulan bertandang, hembusan anginpun menyapaku dengan lembutnya. Larutnya malam, hasilkan dingin menyayat raga ini. Suara pohon bambu yang diterpa sang bayu, pelengkap pesta setiap malam- malamku.

“Sungguh, nikmat mana lagi yang hendak aku dustakan.”

BACA


Syukurku tak terhingga, karena diberikan semua yang indah di masanya. Tempatku berjuang. Yang nantinya menjadi saksi atas perjalanan hidupku yang indah ini.

Getaran suara yang terdengar dari dinding-dindingnya, selalu bisikkan kata semangat untukku. Begitupun tak pernah lelah, dengarkan setiap cerita yang aku sampaikan.

“Teruslah berjuang, jangan pernah menyerah dengan keadaan. Maju terus Salma!”

Polindes biruku, memang takkan jemu mata ini memandangmu. Halaman yang tidak begitu luas. Ternyata jika dimaksimalkan, bisa menjadi sesuatu yang bermakna. Ingat ketika pertama kali mencoba menanam beberapa tanaman yang bisa menghasilkan. Dibantu mbok Yem kala itu. Tomat dan cabai. Percobaan pertama yang kita lakukan. Dan hasilnya pun tidak mengecewakan untuk pemula.

Keinginan yang sederhana saat itu. Ingin mencarikan teman untuk pohon mangga dan pepaya. Supaya mereka punya banyak teman untuk bercerita. Tak cukup hanya sampai disitu, tanahpun protes juga akhirnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, tumbuh subur pula tanaman waluh.

Keadaan itu, semakin memanjakan mataku. Setiap kali membuka jendela kamar. Sambutan ceria mereka, dengan tunjukkan pesona warna yang berbeda. Merah, kuning, hijau, orange.  Belum lagi, senyum ceria yang tak tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sembari ucapan terimakasih yang mendalam dari mereka.

“Bu Salma, saya minta tomatnya ya. Tadi lupa tidak beli.”

“Bu Salma, saya butuh lombok rawit sedikit. Minta ya!”

Tidak pernah menyangka, akan memberikan manfaat juga untuk orang lain. Terkadang hal yang menurutku sepele, ternyata bagi orang lain suatu hal yang luar biasa. Istimewa!

BACA


Kades Yang Berwibawa dan Bijaksana




Kades Yang Berwibawa dan
Bijaksana


Terekam dalam ingatanku selalu. Pertama kali ku pijakkan kaki disini. Sambutan hangat yang menyapaku. Ucapan selamat datang yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Semua perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader-kader, dan beberapa perwakilan dari masyarakat, berkumpul menjadi satu di balai desa. Khusus untuk menyambut kedatanganku.

Eeemm, se-antusias inikah mereka menyambut kedatanganku?” Tanyaku dalam hati.

Rasa haru dan bangga berselimut dalam hati. Semangat membara saat itu yang aku rasakan. Ingin mengabdi sebaik-baiknya untuk masyarakat.

“Kami merasa bahagia, karena sekian lama setelah ibu Ririn pindah dari desa Banyubiru, akhirnya ada penggantinya. Kami tidak usah bersusah payah jika sewaktu-waktu membutuhkan tenaga kesehatan. Harus mencari bantuan ke desa sebelah. Kami berharap semoga Bu Salma betah di sini, bisa menjalankan tugas dengan baik.”

Sepenggalan sambutan bapak KepalaDesa Banyubiru saat itu. Kalimat yang selalu terngiang-ngiang di telingaku.

Kepala desa yang gagah serta berwibawa. Mengayomi masyarakat. Selalu memecahkan masalah dengan cara yang bijaksana.

Baca 


Rumah beliau selalu terbuka 24 jam untuk masyarakat. Siap menerima masukan jika memang beliau ada kesalahan. Mendengarkan setiap keluhan masyarakat. Selalu mengupayakan yang terbaik untuk masyarakatnya.

Pernah suatu ketika saat putranya melakukan kesalahan. Beliau juga tidak segan-segan memberikan sanksi. Karena bagi beliau, sebuah keteladanan sangatlah penting. Meski punya kekuatan, beliau tidak mau menyalahgunakan.

Masyarakat sangat mencintai beliau. Begitu juga denganku. Beliau menganggapku sebagai anaknya sendiri.

Suatu hari…

“Pak Kades, saya mau mengeluh. Beberapa kali saya berkunjung ke Polindes, Bu Salma selalu menolak saya. Padahal saya mau periksa.”

“Kapan Mas, jam kerja atau sudah diluar jam dinas? Sepertinya, setahu saya jam berapapun kalau ada yang berobat, Bu Salma selalu membukakan pintu. Coba nanti saya klarifikasinya dulu ya.”

Eemm, iya pak.” Mengerutkan dahi.

“Kemarin ke Polindes jam berapa, trus atas nama siapa ini?”

“Bagas, Pak… Rt 01 Rw 04. Saya tunggu kabarnya ya pak.”

Sore itu bapak Kades datang ke Polindes. Aku tertegun dibuatnya. Karena selama ini, jika beliau hendak berkunjung selalu menghubungi dulu melalui sms atau telfon. Dalam hati terasa mengganjal. Pasti ada hal yang penting.

“Bu Salma, maaf sebelumnya. Saya mau tanya ya. Pagi tadi ada warga namanya Mas Bagas datang ke kantor. Dia mengeluh katanya Ibu Salma beberapa kali menolaknya, padahal dia mau periksa. Daripada nantinya timbul masalah, saya langsung tanyakan saja pada Ibu. Apa betul begitu?”

“Saya juga minta maaf sebelumnya, Pak, kalau yang dimaksud adalah Mas Bagas yang bekerja di kantor Samsat, saya pastikan terjadi kesalahfahaman. Saya tidak mengira, kalau dia akan datang pada bapak.”

“Kalau tidak keberatan, tolong Bu Salma ceritakan ke saya.”

“Beberapa waktu lalu, memang dia datang ke Polindes. Sore hari tepatnya, sepertinya sepulang kerja. Karena masih memakai seragam. Dia periksa mengeluh batuk. Setelah saya periksa dan memberikannya obat, kami sempat bercakap-cakap sebentar. Dia juga minta nomor hp saya. Dalam waktu seminggu, dia bisa datang 2-3 kali ke Polindes. Tidak periksa tapi hanya sekedar main. Tapi karena dia datang pada jam–jam orang periksa, saya terpaksa meninggalkannya. Kemudian beberapa hari lalu, dia mengajak saya keluar. Tapi saya juga menolaknya. Sebab saya harus bersikap hati-hati. Demi menjaga nama baik saya. Saya juga harus menjaga perasaan mas Bagas, karena bagi saya dia tidak lebih dari seorang teman. Khawatir jika nanti muncul kesalahfahaman. Sejak saat itu, dia tidak pernah datang lagi ke Polindes.”

Aku tidak pernah mengira sebelumnya, akan terjadi seperti ini. Hal yang berkaitan dengan masalah pribadi, sampai Bapak Kepala Desa tau. Malu juga sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Aku hanya berfikir, mengapa Mas Bagas tidak bisa bersikap dewasa. Kalau ada sesuatu hal yang tidak berkenan di hati, kenapa tidak disampaikan langsung saja. Aku juga harus instrospeksi diri. Apa mungkin dia bersikap seperti itu karena ada kata, kataku yang benar, benar menyakiti perasaannya. Atau mungkin dia yang terlalu perasa.

Bapak Kepala Desa hanya tersenyum mendengar semua penjelasanku. Beliau hanya berpesan, agar aku belajar menjadi dewasa dalam menyikapi semua hal yang terjadi. Tetap menjaga sikap serta tutur kata yang baik pula. Karena semua itu cerminan, siapa diri kita sebenarnya.

Beberapa minggu sudah berlalu dan masalah itupun sudah terlupakan dalam memoriku. Hingga akhirnya ada sepucuk surat yang datang. Aku menemukannya di bawah pintu masuk Polindesku. Hatiku berdetak kencang ketika hendak membacanya. Penasaran apa isinya. Serta dari mana datangnya surat ini.


Dear Dek Salma.
Sebelumnya aku minta maaf kepadamu. Mungkin tulisanku ini akan mengganggumu. Tapi aku harap kamu sudi membacanya sampai selesai.

Sejak kejadian tempo lalu, terus terang aku tidak berani lagi menemuimu. Aku sadar apa yang aku lakukan adalah kekanak – kanakan. Dan itu membuat kamu merasa tidak nyaman. Aku bingung harus bersikap seperti apa ke kamu. Sejak pertama kali bertemu denganmu, ada perasaan lain di hatiku.

Saat itu rasanya ingin aku ungkapkan semuanya padamu. Tapi aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk melakukannya. Aku belum siap untuk menerima rasa kecewa. Karena saat itu aku tahu, kamu tidak tertarik padaku. Dari cara bicara dan sikapmu, aku sudah bisa menyimpulkannya.

Dek Salma, bagiku kamu adalah wanita yang luar biasa. Dari pertama aku bertemu denganmu, aku sudah menaruh hati padamu. Sebenarnya, aku menaruh harapan besar padamu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.

Aku hanya berani ungkapkan perasaanku melalui surat ini. Aku tidak perduli atas  jawabanmu. Yang terpenting bagiku adalah cukup kamu tau apa yang aku rasa. Karena sudah kucoba untuk memendamnya. Tapi aku tak kuasa melakukannya.

Terimakasih atas waktu yang telah kamu luangkan, untuk membaca tulisanku ini.



Dari aku
Mas BAGAS

Bimbang





Bimbang

Cahaya itu, tetiba datang lagi menerangi
Benar-benar rasanya silaukan mata ini
Terpejampun, sinarnya mampu menembusnya
Hingga buat aku tak berdaya.

Seluruh jiwa dan raga ini
Terikat menjadi satu tali
Rasanya ingin melangkah mendekat
Namun, entah mengapa hati terasa berat.

Bimbang.... Itu yang aku rasakan
Karena hati memang tidak membenarkan
Jika aku tetap paksakan langkahkan kaki
Akan ada banyak hati yang tersakiti.

Lalu, aku harus bagaimana??

Oveeta_29

Cerita Salma


Cerita Salma





       Aku Salma Ayu Putri, terbiasa dipanggil Salma. Tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang sederhana. Ayah seorang Pegawai Negeri Sipil Guru, sedangkan ibu, beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Menjadi seorang BIDAN, sebenarnya bukanlah cita-citaku. Melainkan keinginan dari orang tua. Saya ingat betul saat kelulusan SMU tidak boleh mencoba ikut tes di perguruan tinggi yang lain. Sedih, kecewa yang saat itu aku rasakan.

Dalam hati, aku bercita-cita ingin bekerja di kantoran saja. Membayangkan kerja di ruangan ber-Ac, bergelut dengan tulisan-tulisan, berpenampilan rapi, dan yang pasti harum selalu. Karena bekerja di tempat yang bersih, suatu ungkapan keren dan membanggakan.

Ahhh, tapi semua itu buyar!!!

Impianku porak-poranda bagai tulisan salah yang dihapus oleh siempunya. Ingin berontak rasanya.

Tetapi apalah daya, kuatnya pendirian ayahku yang bersikeras agar aku tetap sekolah di akademi kebidanan, menjadikanku tak mampu menolaknya. Sungguh berat hati aku mengiyakannya.

“Lihatlah Bu Yayuk, beliau itu bidan yang sabar. Disegani banyak orang, disukai banyak anak-anak. Menolong orang lain, kerja mapan, dan hasilnya pun bisa dindalkan,” itu kalimat yang selalu diulang- ulang ayah saat menasehatiku.

Iri rasanya, ketika mendengar kabar teman-teman. Ada yang diterima di jurusan ekonomi, ilmu pemerintahan, hukum, apalagi tau ada teman yang diterima di STAN. Saat itu aku hanya diam, berusaha kumpulkan kekuatan.
Iya, kekuatan untuk menjalani hidup tiga tahun kedepan. Suatu perkuliah yang dalam anganku sesuatu yang mengerikan. Berkutik dengan hal-hal yang kotor dan menjijikkan. Bersosialisasi dengan orang-orang yang umurnya jauh di atasku. Kuliah yang pastinya akan membosankan. Belum lagi minimnya liburan semesteran. Huh, menyakitkan!!!

Jikalau banyak anak kuliahan bisa bersantai ria di rumah, punya banyak waktu untuk berkumpul dengan teman–teman, kuliah di kebidanan semua hal itu hanyalah sebuah kemustahilan.

Ternyata benar yang aku bayangkan. Hidup di asrama hampir membuatku tidak bisa bernafas. Hidup bersama dalam satu ruangan. Seolah tak ada privacy antara kami. Dengan karakter yang berbeda-beda. Belum lagi cara belajar yang tidak sama.

Dari hal kecilpun aku harus melakukan adaptasi luar biasa. Tidur ada yang minta lampunya dimatikan. Tapi ada yang tidak bisa tidur kalau lampu padam. Hufftt… Menyebalkan. Seandaikan bisa punya kost sendiri dan aku bisa bebas sesuka hati. 

Jadwal-jadwal yang sebelumnya tak pernah aku lakukan saat di rumah, di asrama harus ku lakukan. Seperti mandi harus antri ketika dini hari, mengambil jatah makan harus sesuai jam yang ditentukan, beres-beres lokal, dan bergiliran bersihkan kamar mandi. Semua itu sudah rapi terdaftar.

Jika bangun kesiangan…???

Jangan tanya kalau gak dapat hukuman. Apalagi sampai ada jadwal yang tidak dilakukan. Tentunya hukuman itu akan semakin berat.

Belum lagi jadwal kuliah yang padat merayap. Aku merasa tertekan, lahir dan bathin malahan. Bayangkan saja jika dari awal saja, sudah ada rasa tidak ikhlas, sebab kuliah di jurusan yang tidak diinginkan. Alhasil yang berat malah semakin tambah berat, imbasnya menerima mata kuliahpun tidak optimal. Nilai-nilai yang aku capai pun tak bisa diharapkan.

Dua bulan sudah, aku melewati semuanya dengan berat hati. Rasanya hanya menjadi sebuah beban. Aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Menumbukan semangat di dalam diri. Memberi sugesti pada diri melalui tulisan–tulisan. Sehingga, kalimat-kalimat itu yang akan selalu ingatkan diri saat lemah menyerang.

·         Ingat akan perjuangan orang tua di rumah.
·         Ingat tidak semua orang diberikan kesempatan seperti ini.
·         Buatlah bahagia dan bangga orang tua.
·         Kelak jika kamu bahagia, kamu juga sendiri yang akan merasakan.
·         Tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Tulisan-tulisan itu aku tempel di mana-mana. Buku pelajaran, pintu almari dan juga samping tempat tidur. Berharap setiap gerakku, tulisan itu melekat di mataku.

Dan semua itu benar adanya. Apa yang terjadi pada kita, sesungguhnya sangatlah bergantung pada apa yang difikirkan. Semua pekerjaan yang awalnya terasa berat, hal itu musnah dengan sendirinya. Mulai menikmati berteman dengan banyak kawan. Lambat laun muncul rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap apa yang dilakukan. Sudah mulai lupa dengan kesedihan yang lalu.Aku sudah mulai temukan ritme belajarku.

Nilai-nilaiku melejit naik seperti roket. Rasa bahagia serta bangga atas capainku. Dan yang pasti bisa melihat orang tuaku tertawa bahagia.

Tiba saatnya ujian praktek perdana. Semalaman aku tidak bisa tidur. Ingin rasanya pejamkan mata. Namun tetap saja tidak bisa. Hati bergemuruh, pikiran melayang-layang. Buku panduan prasat kupeluk erat-erat. Tetap saja tak ada hasilnya. Keesokan harinya, tentu saja menguap tak henti-henti. Buat kopi pun tak berasa, kalah dengan rasa tegang hadapi ujian.

Begitu pun, ketika pertama kali dilepaskan di lahan praktek. Bertemu dengan banyak orang. Harus siap secara teori dan keahlian. Benar-benar harus mempersipakan diri. Mendengarkan seksama apa yang disampaikan oleh dosen pembimbing.

Memperbanyak doa, agar diberikan kelancaran dan kemudahan menjalaninya. Mendapatkan hasil yang di targetkan. Karena sejatinya, praktek inilah yang membentuk karakter yang sebenarnya. Masa-masa indah itu, akhirnya terselesaikan juga. Wajah merona terpancar disetiap senyuman keberhasilan. Secuil kado untuk kedua orang tua. Dengan segala perjuangan mereka, yang menghantarkanku mencapai keberhasilan.

Dua tahun aku mencari pengalaman. Belajar dan belajar. Sengaja tidak pulang ke daerah asal. Mulai dari ikut Bidan yang beberapa kali kujalani. Melamar di sebuah klinik bersalin. Hingga magang di rumah sakit negeri. Semua itu aku lakukan, demi mengasah kemampuan. Masih merasa belum siap dan mampu, jika harus dilepas di masyarakat. Ada rasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Hingga suatu ketika ayah menelfonku. “Salma, ayah minta kamu segera pulang. Besok ada tamu yang hendak datang ke rumah!”

Kalimat itu rasanya mengusik diriku, muncul perasaan penasaran. Namun, muncul juga rasa tidak nyaman di hati.

Ternyata benar, kepulanganku kali itu ada yang berbeda. Sosok laki- laki yang asing bagiku. Duduk berdampingan dengan ayah, seolah menunggu kepulanganku.

“Bagaimana Salma, apa pendapatmu tentang mas Danang? Jika kamu setuju bulan depan dia akan melamarmu.”

Bingung memang, harus menentukan jawaban secepatnya. Karena memang aku sama sekali belum pernah mengenalnya. Ayah yang sangat yakin dengan pilihannya, karena ayah dari mas Danang adalah teman baik ayahku. Di sisi lain, aku masih punya banyak impian demi profesiku. Tapi desakan ayah selalu datang, memintaku secepatnya harus memberikan keputusan.

Istikharah jalan yang kutempuh. Aku ridho atas ketetapanNya. Kalau memang mas Danang adalah takdirku, aku yakin pasti Allah akan memberi kemudahan.

Jika Allah belum menjodohkan, Allah punya segala cara untuk menggagalkannya. Dengan cara yang sangat indah tentunya.

Aku meminta waktu seminggu untuk berfikir. Ahad pagi aku harus siap memberi keputusan. Tetapi apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan. Hari ke empat Mas Danang datang lagi, dia mengurungkan semua niatnya melamarku. Di depan kami semua, dia berkata jujur bahwa dia tidak mencintaiku. Dia mencintai wanita lain. Semua yang terjadi adalah unsur paksaan.

Ayahku sangat kecewa, sempat pula tidak berkomunikasi lagi dengan ayah mas Danang. Tetapi ibuku berhasil meyakinkan ayah, bahwa semua yang terjadi bagian dari takdir. Bila dipaksapun hasilnya tidak akan baik. Kalau aku sendiri, dengan kejadian itu termasuk orang yang paling bahagia. Sebab sudah tidak ada lagi tekanan untuk ambil keputusan. Karena memang sampai hari ke empat pun aku masih belum merasakan adanya getaran hati untuk mas Danang.

Berselang empat bulan dari kejadian itu. Berita baik mampu membuat ayah dan ibu hapuskan rasa kecewanya. Sebab aku diterima menjadi seorang abdi negara. Tangis bahagia tampak di wajah mereka.

Allah selalu mengatur hidup yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Setiap peristiwa pasti selalu ada hikmahnya. Seringkali, menurut pendapat kita hal itu adalah yang terbaik. Namun belum tentu bagi Allah.

Sering juga memaksakan agar kabulkan apa yang kita inginkan. Namun memang Allah selalu berikan tidak apa yang kita inginkan, namun apa yang kita butuhkan. Pasti, datangnya disaat yang tepat.

BACA