26/03/2018

Perjalanan 50 KM




Perjalanan 50 KM




Sebungkus kenangan, namun tidak akan pernah habis ditelan oleh waktu. Yang selamanya akan selalu melekat di sanubari. Hingga perasaan nyaman, masuk kedalam relung hatiku.

Perjalanan setiap hari yang aku tempuh, torehkan karya indah setiap paginya. Melodi cinta terdengar syahdu di telinga. Udara pagi yang selalu suguhkan kesejukannya. Tak pernah buat aku, tidak terpana.

Hamparan pagi membentang luas. Warna kuning dimata, sejukkan siapa saja yang melihatnya. Semakin berisi semakin merunduk. Pembelajaran hidup yang tak terkira maknanya. Guru suka rela, tentang sifat yang harus dimiliki setiap insan di dunia. Tinggi padi yang berdiri rata, layaknya barisan sang perwira apel di pagi hari. Berbaris rapi sekali. Hatiku geli, karena di kumpulan padi- padi menawan itu ada sosok orang seperti lambaikan tangan. Ahh, orang- orangan sawah. Kau berhasil membuat aku tertawa.

Laki-laki yang menjelma menjadi sebatang pohon, goyangkan rantingnya isyarat lambaikan tangan. Seolah memberikan semangat untukku. Semakin kupandang, terlihat banyak laki- laki menjelma menjadi rumput liar. Yang sukarela terinjak–injak, asalkan bisa ikut memandangku.

Hembusan sang bayu mengajak menari daun-daun hijau yang sedang siapkan keceriannya. Sesekali beberapa jatuh berguguran karena dimakan usia. Meski demikian, ia pun sudah punya cerita.

Tampak juga warna-warni menghiasi pandangan mata ini. Berbagai profesi selalu ada setiap pagi. Dari baju yang dikenakan, aku bisa mengenali apa pekerjaan mereka. Mulai dari bapak pembawa cangkul, pastilah dia petani. Ibu-ibu pembawa sayur mayur. Besar kemungkinan, akan dibawanya ke pasar kota. Bapak berseragam coklat. Yakin sekali kalau  dia seorang polisi. Ada lagi seragam hijau, tentu saja seorang tentara. Kalau coklat muda bergradasi hijau tua, hasilkan seragam khaki, aku baru agak kesulitan. Sebab semua pegawai negeri sipil sama semua seragamnya. Bisa lebih jeli jika Id Card nya aku baca, pasti tau itu dari instansi mana.

Belum lagi anak-anak sekolah yang membaur juga menjadi satu. Kuning, hijau, orange, warna-warna dari anak Paud dan TK. Berangkat dengan riang, bergandengan tangan diantar ibu mereka. Bahu kiri jalan dipenuhi pula pelajar sekolah dasar. Tertawa terbahak- bahak bersama. Entah lelucon apa yang sedang mereka lontarkan. Berjejer pula sepeda anak SMP, yang asyik mengayuh sembari bercerita. Mungkin berbagi curahan hati, setiap pross yang sedang mereka alami. Bertukar pengalaman tentang setiap perubahan yang terjadi. Seragam putuh biru. Usia tahap perkembangan, transisi yang membawa individu dari masa kanak- kanak ke masa dewasa. Semua itu nampak menyenangkan. Serta pakaian putih abu-abu. Yang tak kalah ikut meramaikan jalan. Berbondong-bondong  bejuang menimba ilmu. Sepeda motor dengan berbagai merk yang mereka pilih. Semua itu siratkan sebuah makna, ingin  tunjukkan jati diri masing- masing. Ada juga yang saling berboncengan, serasa dunia hanya milik berdua. Benar banyak orang berkata, SMA suatu masa dimana kehidupan hanyalah indah adanya. Pemandangan itu seperti puding yang siap disantap di pagi hari.

Lalu lalang transportasi turut demo kepada pemiliknya, agar berjalan dengan kecepatan normal. Ramainya pagi, tidak akan bisa aku hindari. Sebab sama-sama ingin segera sampai tujuan masing-masing.

“Mau tau apa yang  membuat perjalananku terasa luar biasa?”

Jalan yang bergelombang tentunya. Jika ingin ngebut, tak akan bisa. Harus mengikuti ritme jalan yang ada. Selama perjalanan hanya berkisar 8-10 km saja yang beraspal baik. Selebihnya sudah rusak.

Tubuh ini ada kalanya terkoyak lunglai. Dada ini penuh dengan angin masuk setiap perjalan yang aku lakukan. Raga ini mulai digerogoti serpihan sang bayu.

Jarak yang tidak dekat untuk karyaku, setiap hari harus melaju pulang pergi 50 km. Saat cuaca bersahabat,  semua itu tidak jadi permasalahan untukku. Namun ada kalanya, bait- bait gerimis datang tanpa diundang. Menyapa diriku dengan lembutnya. Isyaratkan pada diri, bersiaplah nikmati hujan. Sebab hujan yang datang akan menyiram bau- bau kesedihan yang aku rasakan. Kesedihan yang bersarang dalam hati, yang menghalangi suatu kebahagiaan yang hakiki.

Beruntung jika setelah hujan aku masih berada di lingkungan luar. Ketika berteduh menunggu reda. Dan ada pelangi lukiskan kekuasaan-Nya. Menambah hiasan nan apik untuk awan yang tak bermakna.

Apapun itu, alam telah berikan aku berbagai kebahagiaan. Semua itu indah, tergantung cara pandangku terhadapnya. Bagaimana pula aku menghargai upaya mereka.


Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search