21/02/2018

Polindes Biru





Bangunan yang tak seberapa luas. Dalamnya terbagi menjadi 6 ruangan. Sekat-sekatnya hanya dari triplek coklat, yang dipenuhi dengan poster-poster kesehatan. Ruang bersalin, ruang periksa, kamar pribadi, dapur, ruang tamu, kamar mandi.

Kamar pribadi yang punya multifungsi. Ada televisi, kasur tidur, almari baju, meja rias sekaligus meja kerja. Berjubelan seolah rebutan kekuasaan.

Ruang tamu juga punya banyak peran. Tempat tunggu pasien periksa, keluarga pasien melahirkan, garasi sepeda motor. Pokoknya super istimewa.

Meski seperti itu, aku sangat nyaman. Betah berlama- lama di kamar pribadi. Apalagi kalau ada buku dan kopi yang menemani.

Tak pernah aku bayangkan sebelumnya, akan tinggal sendiri di rumah seperti ini. Tak banyak tenaga yang harus ku keluarkan, kalau hanya sekedar bersihkan tiap ruangan. Tidak perlu bersusah payah bingung meletakkan berbagai hiasan.

Awalnya aku merasa tidak nyaman. Tiap ruangan terasa sempit. Bernafaspun rasanya sulit. Terbiasa dengan rumah yang luas. Bebas beraktivitas sesukanya. Tanpa memikirkan takut berbenturan. Namun lambat laun, hal itu terbiasa juga. Rumah minimalis lebih menyenangkan.

Namun ada kalanya, pikiran ini melayang kemana- mana. Seandainya sudah berumah tangga. Sungguh aku tidak bisa membayangkan. Pastinya si kecil akan sering benjol kepalanya. Apalagi saat belajar merangkak. Eemm lucu juga pastinya.

Belum lagi, setiap kaki melangkah. Baru beberapa jengkal, akan bertemu dengan buah hati dan sang kekasih tercinta.

Tetapi, meski demikian, semua keadaan itu tidaklah sebanding dengan rasa damai yang menemaniku setiap harinya. Aliran sungai yang kecil, hasilkan suara air yang gemericik. Suara cericit burung-burung bersayap cerlang, menyanyikan lagu dengan riang untukku.Sang mentari, tiap pagi menyapaku dengan pipi merahnya. Muncul malu-malu karena hadirnya yang selalu aku tungu.

Saat senja datang, suguhan warna yang menggoda mataku, agar aku tak berkedip memandangnya. Berpamitan dan katakan selamat tinggal padaku. Ketika bulan bertandang, hembusan anginpun menyapaku dengan lembutnya. Larutnya malam, hasilkan dingin menyayat raga ini. Suara pohon bambu yang diterpa sang bayu, pelengkap pesta setiap malam- malamku.

“Sungguh, nikmat mana lagi yang hendak aku dustakan.”

BACA


Syukurku tak terhingga, karena diberikan semua yang indah di masanya. Tempatku berjuang. Yang nantinya menjadi saksi atas perjalanan hidupku yang indah ini.

Getaran suara yang terdengar dari dinding-dindingnya, selalu bisikkan kata semangat untukku. Begitupun tak pernah lelah, dengarkan setiap cerita yang aku sampaikan.

“Teruslah berjuang, jangan pernah menyerah dengan keadaan. Maju terus Salma!”

Polindes biruku, memang takkan jemu mata ini memandangmu. Halaman yang tidak begitu luas. Ternyata jika dimaksimalkan, bisa menjadi sesuatu yang bermakna. Ingat ketika pertama kali mencoba menanam beberapa tanaman yang bisa menghasilkan. Dibantu mbok Yem kala itu. Tomat dan cabai. Percobaan pertama yang kita lakukan. Dan hasilnya pun tidak mengecewakan untuk pemula.

Keinginan yang sederhana saat itu. Ingin mencarikan teman untuk pohon mangga dan pepaya. Supaya mereka punya banyak teman untuk bercerita. Tak cukup hanya sampai disitu, tanahpun protes juga akhirnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, tumbuh subur pula tanaman waluh.

Keadaan itu, semakin memanjakan mataku. Setiap kali membuka jendela kamar. Sambutan ceria mereka, dengan tunjukkan pesona warna yang berbeda. Merah, kuning, hijau, orange.  Belum lagi, senyum ceria yang tak tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sembari ucapan terimakasih yang mendalam dari mereka.

“Bu Salma, saya minta tomatnya ya. Tadi lupa tidak beli.”

“Bu Salma, saya butuh lombok rawit sedikit. Minta ya!”

Tidak pernah menyangka, akan memberikan manfaat juga untuk orang lain. Terkadang hal yang menurutku sepele, ternyata bagi orang lain suatu hal yang luar biasa. Istimewa!

BACA


Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search