23/02/2018

Mbak Atau Ibu




Mbak Atau Ibu



   Sebuah profesi yang selamanya akan melekat dalam diri. Yang tidak semua wanita berhasil menyandangnya. Karena bagiku, profesi ini memanglah tidak mudah. Perlu perjuangan yang memakan tenaga dan pikiran luar biasa. Dibutuhkan mental yang sempurna dalam ukuran manusia. Kemampuan mengolah diri, dalam menyikapi setiap kasus yang terjadi. Baik itu yang berhubungan langsung dengan ilmu itu sendiri. Dan juga kemampuan untuk bersosialisasi. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Hal-hal yang terkadang harus matang sebelum waktunya. Kedewasaan yang sering dari hasil karbitan, karena memang tuntutan keadaan. Kemampuan yang harus selalu diasah, agar tetap mampu mempertahankan keberadaan diri. Ya, memang itulah salah satu pembeda. Antara aku, dia ataupun mereka.

Wajah tidak bisa dipakai sebagai ukuran, usiapun tidak berpengaruh di dalamnya. Status pun seolah juga terabaikan.

“Bu Salma, selamat pagi, selamat pagi bu Salma.” Suara bersahutan anak-anak sekolah dasar lewat depan Polindes.

Sapaan yang hampir setiap pagi aku dengar, seperti sarapan pagi yang wajib aku lakukan. Begitu bersahabatnya mereka padaku.

“Bu Salma, besok lusa ada pertemuan di kantor Kepala Desa. Acara penyambutan untuk mahasiswa KKN dari Jogja. Mohon kedatangannya ya!”

Merasa menjadi bagian penting di desa. Karena setiap kegiatan yang dilakukan, bapak kepala desa selalu melibatkanku. Tak jarang juga, beliau meminta pendapat dan masukan untuk beberapa hal. Diskusi juga sering kali kita lakukan.

Panggilan yang melekat di diriku. Ibu dan ibu. Iya, hal itu panggilan yang bermakna sangat dalam. Dari panggilan itu pula, aku harus selalu menjaga setiap kata yang keluar dari mulutku. Karena setiap informasi yang keluar, akan didengar, diingat bahkan dilakukan. Ketika aku memberikan penyuluhan bagi banyak orang. Setiap yang datang pastinya akan mendengarkan. Memperhatikan apa yang aku sampaikan. Jika salah berucap, akan membawa dampak yang luar biasa. Begitu pula sebaliknya.

Begitupun dengan sikap. Apa yang aku lakukan, menjadi contoh untuk orang yang melihatnya. Misal aku lupa buang sampah sembarangan, dan tidak sengaja ada anak- anak yang melihatnya. Pasti secara tidak langsung, akan memberikan pembelajaran yang buruk juga. Sebab dengan melihat pengaruhnya sanagtlah hebat. Mungkin yang difikirkan, buang sampah tidak ditempatnya boleh. Bu Salma juga melakukannya.

Terlepas dari itu semua, mau berprofesi apapun. Ya memang harus melakukan yang terbaik. Bertutur kata yang baik, bersikapun yang bijak pula.

Adakalanya, stempel yang melekat padaku itu hilang untuk sementara. Saat aku keluar besama teman-teman. Tidak memakai pakaian dinas kebanggaan. Bebas mengekspresikan diri. Keluar sejenak dari ruinitas harian. Melalukan sesuatu hal diluar kebiasaan.

“Mbak mau minum apa?”

“Mbak pilih sepatu nomer berapa?”

Aku seperti hidup di dunia nyata lagi. Sesuai usia tepatnya. Karena memang layak dipanggil mbak. Pun dengan panggilan mbak, tidak ada beban yang ada di pundak. Merasa seperti wanita pada umumnya.

Namun, hal itu bisa sirna seketika. Saat aku sedang menikmati suasana, suara datang seperti kilat menyambar.

“Bu Salma, sedang apa disini. Dengan siapa, Bu?”

Ah, memang ya, dunia ini selebar daun kelor. Mau kemana aja, pastinya suatu ketika akan bertemu dengan orang yang sama. Orang yang memang sudah tahu siapa aku. Bagaimana sepak terjangku setiap harinya.

Tapi apapun panggilan itu, lambat laun menjadi suatu hal yang indah. Mereka melakukannya karena memang semata- mata menghargai diriku. Memang itulah adanya. Sebuah profesi yang unik, jika mau ditelaah dengan hati. Dan aku bangga dengan profesi ini.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search