19/02/2018

Kades Yang Berwibawa dan Bijaksana




Kades Yang Berwibawa dan
Bijaksana


Terekam dalam ingatanku selalu. Pertama kali ku pijakkan kaki disini. Sambutan hangat yang menyapaku. Ucapan selamat datang yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Semua perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader-kader, dan beberapa perwakilan dari masyarakat, berkumpul menjadi satu di balai desa. Khusus untuk menyambut kedatanganku.

Eeemm, se-antusias inikah mereka menyambut kedatanganku?” Tanyaku dalam hati.

Rasa haru dan bangga berselimut dalam hati. Semangat membara saat itu yang aku rasakan. Ingin mengabdi sebaik-baiknya untuk masyarakat.

“Kami merasa bahagia, karena sekian lama setelah ibu Ririn pindah dari desa Banyubiru, akhirnya ada penggantinya. Kami tidak usah bersusah payah jika sewaktu-waktu membutuhkan tenaga kesehatan. Harus mencari bantuan ke desa sebelah. Kami berharap semoga Bu Salma betah di sini, bisa menjalankan tugas dengan baik.”

Sepenggalan sambutan bapak KepalaDesa Banyubiru saat itu. Kalimat yang selalu terngiang-ngiang di telingaku.

Kepala desa yang gagah serta berwibawa. Mengayomi masyarakat. Selalu memecahkan masalah dengan cara yang bijaksana.

Baca 


Rumah beliau selalu terbuka 24 jam untuk masyarakat. Siap menerima masukan jika memang beliau ada kesalahan. Mendengarkan setiap keluhan masyarakat. Selalu mengupayakan yang terbaik untuk masyarakatnya.

Pernah suatu ketika saat putranya melakukan kesalahan. Beliau juga tidak segan-segan memberikan sanksi. Karena bagi beliau, sebuah keteladanan sangatlah penting. Meski punya kekuatan, beliau tidak mau menyalahgunakan.

Masyarakat sangat mencintai beliau. Begitu juga denganku. Beliau menganggapku sebagai anaknya sendiri.

Suatu hari…

“Pak Kades, saya mau mengeluh. Beberapa kali saya berkunjung ke Polindes, Bu Salma selalu menolak saya. Padahal saya mau periksa.”

“Kapan Mas, jam kerja atau sudah diluar jam dinas? Sepertinya, setahu saya jam berapapun kalau ada yang berobat, Bu Salma selalu membukakan pintu. Coba nanti saya klarifikasinya dulu ya.”

Eemm, iya pak.” Mengerutkan dahi.

“Kemarin ke Polindes jam berapa, trus atas nama siapa ini?”

“Bagas, Pak… Rt 01 Rw 04. Saya tunggu kabarnya ya pak.”

Sore itu bapak Kades datang ke Polindes. Aku tertegun dibuatnya. Karena selama ini, jika beliau hendak berkunjung selalu menghubungi dulu melalui sms atau telfon. Dalam hati terasa mengganjal. Pasti ada hal yang penting.

“Bu Salma, maaf sebelumnya. Saya mau tanya ya. Pagi tadi ada warga namanya Mas Bagas datang ke kantor. Dia mengeluh katanya Ibu Salma beberapa kali menolaknya, padahal dia mau periksa. Daripada nantinya timbul masalah, saya langsung tanyakan saja pada Ibu. Apa betul begitu?”

“Saya juga minta maaf sebelumnya, Pak, kalau yang dimaksud adalah Mas Bagas yang bekerja di kantor Samsat, saya pastikan terjadi kesalahfahaman. Saya tidak mengira, kalau dia akan datang pada bapak.”

“Kalau tidak keberatan, tolong Bu Salma ceritakan ke saya.”

“Beberapa waktu lalu, memang dia datang ke Polindes. Sore hari tepatnya, sepertinya sepulang kerja. Karena masih memakai seragam. Dia periksa mengeluh batuk. Setelah saya periksa dan memberikannya obat, kami sempat bercakap-cakap sebentar. Dia juga minta nomor hp saya. Dalam waktu seminggu, dia bisa datang 2-3 kali ke Polindes. Tidak periksa tapi hanya sekedar main. Tapi karena dia datang pada jam–jam orang periksa, saya terpaksa meninggalkannya. Kemudian beberapa hari lalu, dia mengajak saya keluar. Tapi saya juga menolaknya. Sebab saya harus bersikap hati-hati. Demi menjaga nama baik saya. Saya juga harus menjaga perasaan mas Bagas, karena bagi saya dia tidak lebih dari seorang teman. Khawatir jika nanti muncul kesalahfahaman. Sejak saat itu, dia tidak pernah datang lagi ke Polindes.”

Aku tidak pernah mengira sebelumnya, akan terjadi seperti ini. Hal yang berkaitan dengan masalah pribadi, sampai Bapak Kepala Desa tau. Malu juga sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Aku hanya berfikir, mengapa Mas Bagas tidak bisa bersikap dewasa. Kalau ada sesuatu hal yang tidak berkenan di hati, kenapa tidak disampaikan langsung saja. Aku juga harus instrospeksi diri. Apa mungkin dia bersikap seperti itu karena ada kata, kataku yang benar, benar menyakiti perasaannya. Atau mungkin dia yang terlalu perasa.

Bapak Kepala Desa hanya tersenyum mendengar semua penjelasanku. Beliau hanya berpesan, agar aku belajar menjadi dewasa dalam menyikapi semua hal yang terjadi. Tetap menjaga sikap serta tutur kata yang baik pula. Karena semua itu cerminan, siapa diri kita sebenarnya.

Beberapa minggu sudah berlalu dan masalah itupun sudah terlupakan dalam memoriku. Hingga akhirnya ada sepucuk surat yang datang. Aku menemukannya di bawah pintu masuk Polindesku. Hatiku berdetak kencang ketika hendak membacanya. Penasaran apa isinya. Serta dari mana datangnya surat ini.


Dear Dek Salma.
Sebelumnya aku minta maaf kepadamu. Mungkin tulisanku ini akan mengganggumu. Tapi aku harap kamu sudi membacanya sampai selesai.

Sejak kejadian tempo lalu, terus terang aku tidak berani lagi menemuimu. Aku sadar apa yang aku lakukan adalah kekanak – kanakan. Dan itu membuat kamu merasa tidak nyaman. Aku bingung harus bersikap seperti apa ke kamu. Sejak pertama kali bertemu denganmu, ada perasaan lain di hatiku.

Saat itu rasanya ingin aku ungkapkan semuanya padamu. Tapi aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk melakukannya. Aku belum siap untuk menerima rasa kecewa. Karena saat itu aku tahu, kamu tidak tertarik padaku. Dari cara bicara dan sikapmu, aku sudah bisa menyimpulkannya.

Dek Salma, bagiku kamu adalah wanita yang luar biasa. Dari pertama aku bertemu denganmu, aku sudah menaruh hati padamu. Sebenarnya, aku menaruh harapan besar padamu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.

Aku hanya berani ungkapkan perasaanku melalui surat ini. Aku tidak perduli atas  jawabanmu. Yang terpenting bagiku adalah cukup kamu tau apa yang aku rasa. Karena sudah kucoba untuk memendamnya. Tapi aku tak kuasa melakukannya.

Terimakasih atas waktu yang telah kamu luangkan, untuk membaca tulisanku ini.



Dari aku
Mas BAGAS

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search