08/02/2018

Cerita Salma


Cerita Salma





       Aku Salma Ayu Putri, terbiasa dipanggil Salma. Tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang sederhana. Ayah seorang Pegawai Negeri Sipil Guru, sedangkan ibu, beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Menjadi seorang BIDAN, sebenarnya bukanlah cita-citaku. Melainkan keinginan dari orang tua. Saya ingat betul saat kelulusan SMU tidak boleh mencoba ikut tes di perguruan tinggi yang lain. Sedih, kecewa yang saat itu aku rasakan.

Dalam hati, aku bercita-cita ingin bekerja di kantoran saja. Membayangkan kerja di ruangan ber-Ac, bergelut dengan tulisan-tulisan, berpenampilan rapi, dan yang pasti harum selalu. Karena bekerja di tempat yang bersih, suatu ungkapan keren dan membanggakan.

Ahhh, tapi semua itu buyar!!!

Impianku porak-poranda bagai tulisan salah yang dihapus oleh siempunya. Ingin berontak rasanya.

Tetapi apalah daya, kuatnya pendirian ayahku yang bersikeras agar aku tetap sekolah di akademi kebidanan, menjadikanku tak mampu menolaknya. Sungguh berat hati aku mengiyakannya.

“Lihatlah Bu Yayuk, beliau itu bidan yang sabar. Disegani banyak orang, disukai banyak anak-anak. Menolong orang lain, kerja mapan, dan hasilnya pun bisa dindalkan,” itu kalimat yang selalu diulang- ulang ayah saat menasehatiku.

Iri rasanya, ketika mendengar kabar teman-teman. Ada yang diterima di jurusan ekonomi, ilmu pemerintahan, hukum, apalagi tau ada teman yang diterima di STAN. Saat itu aku hanya diam, berusaha kumpulkan kekuatan.
Iya, kekuatan untuk menjalani hidup tiga tahun kedepan. Suatu perkuliah yang dalam anganku sesuatu yang mengerikan. Berkutik dengan hal-hal yang kotor dan menjijikkan. Bersosialisasi dengan orang-orang yang umurnya jauh di atasku. Kuliah yang pastinya akan membosankan. Belum lagi minimnya liburan semesteran. Huh, menyakitkan!!!

Jikalau banyak anak kuliahan bisa bersantai ria di rumah, punya banyak waktu untuk berkumpul dengan teman–teman, kuliah di kebidanan semua hal itu hanyalah sebuah kemustahilan.

Ternyata benar yang aku bayangkan. Hidup di asrama hampir membuatku tidak bisa bernafas. Hidup bersama dalam satu ruangan. Seolah tak ada privacy antara kami. Dengan karakter yang berbeda-beda. Belum lagi cara belajar yang tidak sama.

Dari hal kecilpun aku harus melakukan adaptasi luar biasa. Tidur ada yang minta lampunya dimatikan. Tapi ada yang tidak bisa tidur kalau lampu padam. Hufftt… Menyebalkan. Seandaikan bisa punya kost sendiri dan aku bisa bebas sesuka hati. 

Jadwal-jadwal yang sebelumnya tak pernah aku lakukan saat di rumah, di asrama harus ku lakukan. Seperti mandi harus antri ketika dini hari, mengambil jatah makan harus sesuai jam yang ditentukan, beres-beres lokal, dan bergiliran bersihkan kamar mandi. Semua itu sudah rapi terdaftar.

Jika bangun kesiangan…???

Jangan tanya kalau gak dapat hukuman. Apalagi sampai ada jadwal yang tidak dilakukan. Tentunya hukuman itu akan semakin berat.

Belum lagi jadwal kuliah yang padat merayap. Aku merasa tertekan, lahir dan bathin malahan. Bayangkan saja jika dari awal saja, sudah ada rasa tidak ikhlas, sebab kuliah di jurusan yang tidak diinginkan. Alhasil yang berat malah semakin tambah berat, imbasnya menerima mata kuliahpun tidak optimal. Nilai-nilai yang aku capai pun tak bisa diharapkan.

Dua bulan sudah, aku melewati semuanya dengan berat hati. Rasanya hanya menjadi sebuah beban. Aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Menumbukan semangat di dalam diri. Memberi sugesti pada diri melalui tulisan–tulisan. Sehingga, kalimat-kalimat itu yang akan selalu ingatkan diri saat lemah menyerang.

·         Ingat akan perjuangan orang tua di rumah.
·         Ingat tidak semua orang diberikan kesempatan seperti ini.
·         Buatlah bahagia dan bangga orang tua.
·         Kelak jika kamu bahagia, kamu juga sendiri yang akan merasakan.
·         Tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Tulisan-tulisan itu aku tempel di mana-mana. Buku pelajaran, pintu almari dan juga samping tempat tidur. Berharap setiap gerakku, tulisan itu melekat di mataku.

Dan semua itu benar adanya. Apa yang terjadi pada kita, sesungguhnya sangatlah bergantung pada apa yang difikirkan. Semua pekerjaan yang awalnya terasa berat, hal itu musnah dengan sendirinya. Mulai menikmati berteman dengan banyak kawan. Lambat laun muncul rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap apa yang dilakukan. Sudah mulai lupa dengan kesedihan yang lalu.Aku sudah mulai temukan ritme belajarku.

Nilai-nilaiku melejit naik seperti roket. Rasa bahagia serta bangga atas capainku. Dan yang pasti bisa melihat orang tuaku tertawa bahagia.

Tiba saatnya ujian praktek perdana. Semalaman aku tidak bisa tidur. Ingin rasanya pejamkan mata. Namun tetap saja tidak bisa. Hati bergemuruh, pikiran melayang-layang. Buku panduan prasat kupeluk erat-erat. Tetap saja tak ada hasilnya. Keesokan harinya, tentu saja menguap tak henti-henti. Buat kopi pun tak berasa, kalah dengan rasa tegang hadapi ujian.

Begitu pun, ketika pertama kali dilepaskan di lahan praktek. Bertemu dengan banyak orang. Harus siap secara teori dan keahlian. Benar-benar harus mempersipakan diri. Mendengarkan seksama apa yang disampaikan oleh dosen pembimbing.

Memperbanyak doa, agar diberikan kelancaran dan kemudahan menjalaninya. Mendapatkan hasil yang di targetkan. Karena sejatinya, praktek inilah yang membentuk karakter yang sebenarnya. Masa-masa indah itu, akhirnya terselesaikan juga. Wajah merona terpancar disetiap senyuman keberhasilan. Secuil kado untuk kedua orang tua. Dengan segala perjuangan mereka, yang menghantarkanku mencapai keberhasilan.

Dua tahun aku mencari pengalaman. Belajar dan belajar. Sengaja tidak pulang ke daerah asal. Mulai dari ikut Bidan yang beberapa kali kujalani. Melamar di sebuah klinik bersalin. Hingga magang di rumah sakit negeri. Semua itu aku lakukan, demi mengasah kemampuan. Masih merasa belum siap dan mampu, jika harus dilepas di masyarakat. Ada rasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Hingga suatu ketika ayah menelfonku. “Salma, ayah minta kamu segera pulang. Besok ada tamu yang hendak datang ke rumah!”

Kalimat itu rasanya mengusik diriku, muncul perasaan penasaran. Namun, muncul juga rasa tidak nyaman di hati.

Ternyata benar, kepulanganku kali itu ada yang berbeda. Sosok laki- laki yang asing bagiku. Duduk berdampingan dengan ayah, seolah menunggu kepulanganku.

“Bagaimana Salma, apa pendapatmu tentang mas Danang? Jika kamu setuju bulan depan dia akan melamarmu.”

Bingung memang, harus menentukan jawaban secepatnya. Karena memang aku sama sekali belum pernah mengenalnya. Ayah yang sangat yakin dengan pilihannya, karena ayah dari mas Danang adalah teman baik ayahku. Di sisi lain, aku masih punya banyak impian demi profesiku. Tapi desakan ayah selalu datang, memintaku secepatnya harus memberikan keputusan.

Istikharah jalan yang kutempuh. Aku ridho atas ketetapanNya. Kalau memang mas Danang adalah takdirku, aku yakin pasti Allah akan memberi kemudahan.

Jika Allah belum menjodohkan, Allah punya segala cara untuk menggagalkannya. Dengan cara yang sangat indah tentunya.

Aku meminta waktu seminggu untuk berfikir. Ahad pagi aku harus siap memberi keputusan. Tetapi apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan. Hari ke empat Mas Danang datang lagi, dia mengurungkan semua niatnya melamarku. Di depan kami semua, dia berkata jujur bahwa dia tidak mencintaiku. Dia mencintai wanita lain. Semua yang terjadi adalah unsur paksaan.

Ayahku sangat kecewa, sempat pula tidak berkomunikasi lagi dengan ayah mas Danang. Tetapi ibuku berhasil meyakinkan ayah, bahwa semua yang terjadi bagian dari takdir. Bila dipaksapun hasilnya tidak akan baik. Kalau aku sendiri, dengan kejadian itu termasuk orang yang paling bahagia. Sebab sudah tidak ada lagi tekanan untuk ambil keputusan. Karena memang sampai hari ke empat pun aku masih belum merasakan adanya getaran hati untuk mas Danang.

Berselang empat bulan dari kejadian itu. Berita baik mampu membuat ayah dan ibu hapuskan rasa kecewanya. Sebab aku diterima menjadi seorang abdi negara. Tangis bahagia tampak di wajah mereka.

Allah selalu mengatur hidup yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Setiap peristiwa pasti selalu ada hikmahnya. Seringkali, menurut pendapat kita hal itu adalah yang terbaik. Namun belum tentu bagi Allah.

Sering juga memaksakan agar kabulkan apa yang kita inginkan. Namun memang Allah selalu berikan tidak apa yang kita inginkan, namun apa yang kita butuhkan. Pasti, datangnya disaat yang tepat.

BACA




Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search