14/01/2018

Kamu Yang Tadi? Part.3


  Kamu Yang Tadi?
    Akhirnya, daripada mendengar celotehan bapak yang semakin nggak jelas, aku memutuskan untuk mengambil kereweng itu dan memegangnya erat, aku nggak percaya dengan mitos bahwa kereweng dapat menahan rasa BAB. Sepanjang jalan aku merasakan perutku semakin menggeliat, dan barang itu (bukan kerewengnya) semakin memberontak ingin keluar dari tubuhku. Langkah kakiku terasa sangat berat, jarak yang hanya beberapa meter saja terasa sangat jauh untuk dicapai. Pandangan mataku mulai mengabur, kurasakan kupu-kupu berterbangan di perutku. Aku yakin ada peperangan besar yang terjadi dalam perutku, badanku mulai melemas, tenaga terakhirku semuanya kupusatkan pada area pantat untuk membendung barang itu, sampai titik tenaga penghabisan.
            Nafasku mulai tersengal-sengal, keringat dingin mulai deras bercucuran, wajahku yang pucat pasi menandakan bahwa perjuanganku akan berakhir. Dan bapakku, sedari tadi ia mengatakan bahwa kereweng dapat menahan rasa itu. Aku sendiri sedari tadi diam membisu memfokuskan penuh tenagaku untuk pembendungan, di akhir penghabisan tenagaku, aku memegang erat kereweng itu seolah itu hari terakhirku. Otakku mulai mempercayai mitos itu, aku mendoktrin otakku untuk percaya pada mitos itu dengan mendengarkan bapakku yang sedari tadi mengatakan khasiat dari menggenggam kereweng itu. Ajaibnya, perlahan lahan aku berasa membaik, dimulai dari perutku yang berangsur angsur berkurang rasa sakitnya, sampai dari pandangan mataku yang mulai jelas. Langkah kakiku semakin dekat dengan pintu gerbang At-taqwa, semua orang melihatku. Bagaimana tidak melihatku? Ketika semuannya memakai baju muslim, sedangkan di tengah mereka hadir sosok lelaki pendek yang memakai jaket dan celana basket yang sudah kummel ditambah sepatu dengan kaos kaki yang hanya terllihat sedikit. Untung aku nggak jadi bawa topi, nanti malah dikira mau nge-rap. Aku hanya tersenyum malu malu anjing kucing kepada setiap orang yang kulewati. Tak terasa, kereweng yang sedari tadi kugenggam hilang, pikiranku mulai berkecamuk lagi, dan hal-hal yang tadi berangsur membaik sekarang berangsur memburuk. Pikiranku melemah.
            Aku dihadapkan oleh dua opsi WC disaat otakku tidak bisa diajak bekerja. Pertama, WC pria yang bila harus kesana mengharuskanku menyebrangi lautan bapak-bapak, otomatis dengan keadaan lagi nahan BAB gini, tidak memungkinkan untuk kesana, bisa-bisa memakan banyak korban. Kedua, WC wanita tempatnya cukup strategis, ada di pojokan, dan cuma ada sedikit orang di sekitar WC, dan merupakan area WC terdekat yang mudah dijangkau, permasalahannya cuma pertaruhan harga diri kalo ketahuan. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke WC wanita, aku mengendap-endap menuju kesana, setibanya didepan pintu aku mengendus-endus masih adakah bau-bau keberadaan wanita didalam WC tersebut, setelah semua dipastikan aman, aku memasukinya perlahan-lahan, dan menyelesaikan misi dengan keras. Mungkin aku terlalu bersemangat saat BAB.
            Aku menghampiri bapakku yang sedang jalan jalan kecil di trotoar depan rumah kosong,
”Gimana? Udah selesai? Sekarang enak,kan?”
“Enak sih, tapi, ya gitu, hampir hilang nyawaku waktu BAB”
“Bapak nyuruh kamu nyimpen kereweng itu buka buat kamu percaya mitos, bapak juga nggak percaya, tapi itu secara nggak langsung menghipnotis otak kamu sehingga rasa sakitnya nggak terlalu kerasa”
“Oalah gitu”
“Yaudah, sekarang diem, dengerin ceramahnya”

Ceramah yang sebentar tapi terasa lama itu selesai pada akhirnya, lalu kami kedatangan seorang lelaki yang kelihatannya berumur sama dengan bapakku, rupanya beliau teman lama bapak. “Pak Moch, apa kabar pak?” tanya temannya kalem,”Alhamdulillah baik pak zain, sampean sendiri apa kabar?” tanya balik ayahku,”Lhoh, ini putrane sampean yang arif itu pak ? ikut denger ceramah juga?” tanya teman bapakku yang rupanya bernama Pak Zain,”Iya pak, setiap minggu pagi kami selalu kesini” jawab ayahku setengah sombong,”Pinter ya anak sampean, anak saya sulit kalo diajak ikut kesini buat denger ceramah ahad pagi”. Kami berdua tersenyum malu-malu, aku merasa sangat bangga, begitu pula bapakku, jarang-jarang aku buat bangga bapak, itung-itung balas budilah. Namun ada pertanyaan tak terkira yang terlontar dari mulut Pak Zain,”Lhoh, kamu bukannya yang tadi masuk di WC perempun tadi ya?”. Kami berdua terdiam, aku pura-pura tidak tahu, sedangkan bapakku.. kelihatannya beliau syok.

Tamat.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search