21/12/2017

CERITA PENDEK 22 April

22 April

Kurang sehari lagi mendekati tanggal 22 April. 22 April adalah hari ulang tahun Rani. Aku bingung, harus memberinya kado apa, atau harus berbuat apa. Pada akhirnya aku dibantu teman-teman untuk membuat kejutan untuk Rani. Yang pertama mengajak kami untuk membuat kejutan adalah Nabilla. Akhirnya kami memutuskan untuk berunding sepulang sekolah.
“Hei teman-teman, gimana kalau kita buat kejutan untuk ulang tahun Rani?”
“Aku sih setuju-setuju aja. Kalau kamu gimana, Tsa?” tanya Nani.
“Baiklah. Lagian kita sudah kelas 6, jadi kita harus membuat satu kenangan yang berkesan.”
Membeli kue untuk merayakan ulang tahun sudah terlalu biasa bagi kami. Setelah bergelut dengan kata-kata akhirnya tercetuslah ide untuk membuat Rani terkesan. Kami yakin, ini adalah kejutan yang tidak akan bisa dilupakan olehnya. Aku sebagai teman sebangku Rani harus mempersiapkan diri agar misi ini bisa berjalan dengan lancar. Jika dipikir-pikir, aku mungkin tidak tahan, karena biasanya aku selalu bercakap-cakap dengan Rani.
“Tsa, kamu cuekin aja si Rani,” kata Nani.
“Iya, jadi pas hari ulang tahunnya, kamu nggak usah ajak ngomong. Kalau dia maksa kamu untuk ngomong, kamu pura-pura marahin dia aja,” sahut Nabilla. 
 “Hei, jangan! Kasihan nanti Rani,” protesku.
“Aku tahu, kamu orangnya nggak tegaan. Tapi sekali ini aja, kan katamu kita setidaknya buat kenangan yang berkesan sebelum kita lulus nanti,” kata Fira.
“Iya, Tsa. Besok sepulang sekolah baru kita ucapin selamat ulang tahun,” sahut yang lain.
“Baiklah akan aku usahakan,” ujarku lemas.
Ya, itulah ide untuk kejutan Rani. Menurutku, sebenarnya itu bukan kejutan, tapi misi untuk mengerjai Rani. Tapi aku harus tetap menjalankan misi ini sesuai harapan teman-teman. Setelah selesai berunding, kami pun pulang sekolah. Kami tak sabar untuk menyambut tanggal 22 April.
Akhirnya tibalah tanggal 22 April. Aku sudah bersiap untuk menjalankan misi ini. Pada saat perjalanan berangkat sekolah, aku sempat bingung, apakah misi ini akan berjalan lancar atau malah tidak sesuai harapan. Seakan sebuah nasib berada ditanganku, dan teman-teman juga memercayaiku.
Sesampainya di sekolah, aku sudah mempersiapkan mental untuk menjalankan misi ini. Pada saat itu Rani terlambat datang ke sekolah, jadi aku bisa merasa sedikit tenang. Pelajaran pertama dimulai, suasana tegang mulai menyelimuti. Apalagi saat itu pelajaran matematika, dan sebangku hanya ada satu buku paket. Mau tidak mau, aku harus berbagi dengan Rani. Aku hanya diam dan fokus mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Bu Zubaidah, guru kami. Sedangkan Rani seperti biasa, ia sibuk menggambar di bukunya dan mengira aku hanya sedang sibuk mengikuti pelajaran. Beberapa menit kemudian, Bu Zubaidah memberi kami tugas dan keluar kelas. Tiba-tiba,
“Tsa, soal ini gimana cara ngerjainnya?” tanya Rani.
Deg! Aku ingin menjawab, tapi aku harus tetap mengikuti rencana. Akhirnya aku diam saja.
“Tsa...Tsa...Tsa...” kata Rani.
Rani terus saja memanggilku. Berharap aku akan menjawab. Sampai dia bertanya ada apa denganku. Jelas sekali, Rani berusaha mengajakku mengobrol. Akhirnya aku mengikuti kata Nabilla. Dengan sangat terpaksa aku pun memarahinya. Maafkan aku ya, Ran.
“Ran, bisa nggak sih kamu diam? Aku nggak bisa konsentrasi! Padahal tugasnya harus dikumpulin hari ini juga!”
“Kamu kenapa sih, Tsa? Kamu dari tadi cuekin aku, terus aku manggil-manggil kamu, tapi kamu malah marahin aku. Kalau aku ada salah ngomong dong, jangan kayak gini!”
Mengapa dia yang berbalik marah kepadaku? Mungkin, karena dia merasa diacuhkan. Dan akhirnya, aku diam saja. Aku sempat melihatnya, ia terlihat kesal, dan wajahnya cemberut.
Hingga waktu istirahat tiba, aku segera mengumpulkan tugas ini di meja guru, dan menghampiri teman-teman yang lain. Aku melihat Rani hendak menyusulku tapi teman-teman menarikku untuk menjauh. Aku sebenarnya tidak tega melihat Rani seperti itu.
“Jangan deket-deket Rani! Harus sesuai rencana!” perintah Nabilla.
“Tapi dia kayaknya mau nangis.”
“Ayolah, Tsa. Jangan buat rencana ini gagal total! Kamu pasti bisa,” kata yang lain.
Setelah membeli makanan, kami bermain di lapangan. Aku bisa melihat dengan jelas Rani duduk di bangku tepi lapangan sambil menangis. Novi dan Nia berada di sampingnya.
“Hei, Rani nangis!” teriakku.
“Wah, iya! Padahal kan kita nggak ingin buat dia nangis. Ini di luar rencana,” kata Fira.
“Aku nggak tega,” sahut yang lain.
Sudah kuduga, Rani akan menangis. Aku sudah sangat mengenalnya. Tapi tetap saja, di antara kita tidak ada yang menghampiri Rani. Bahkan, kami tetap melanjutkan permainan. Aku sebenarnya juga ingin menangis. Tapi memang dasarnya aku cengeng, jadi kalau ada yang nangis, aku juga ikut-ikutan. Waktu istirahat sudah berakhir, kami pun kembali ke kelas. Di kelas pun Rani masih menangis. Apa rencana ini sudah kelewatan? Kukira ia sudah berhenti menangis. Aku dan teman-teman sebagai pencetus ide ini pun memutuskan untuk mengakhiri rencana. Aku membawa Rani keluar kelas dan teman-teman yang lain mengajak satu kelas untuk membuat kejutan. Aku membawa Rani ke tengah-tengah teman-teman yang sudah mengitari dia.
“Selamat ulang tahun!” teriak kami semua.
Rani terlihat kaget dan tangisannya bertambah keras.
“Kalian kok tega banget sih! Tapi makasih ya!” kata Rani tersedu-sedu.
Semua teman memberi ucapan selamat kepada Rani. Rani sangat senang, karena dia mendapat kejutan yang tidak terduga. Dan aku merangkul Rani dan tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
“Selamat ulang tahun ya, Ran! Maaf soal tadi pagi, sebenarnya tadi cuma pura-pura,” ucapku.
“Makasih, Tsa. Jadi ini semua bohong?”
“Iya, tapi ini bukan rencanaku, tapi rencana teman-teman, pada awalnya. Lalu aku pun menyetujuinya.”
“Lain kali, jangan kayak gini lagi ya.”

Akhirnya, suasana kembali seperti semula, dan pelajaran kedua dimulai.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search