09/09/2017

Langkah Awal

Langkah Awal
AININ NUCI VERA AULIA


       Malam itu, kupandangi telepon genggamku untuk ke sekian kalinya. Hatiku bimbang tak karuan. Sudah kuunduh aplikasi yang disarankan adikku. Kuyakinkan hatiku berkali-kali bahwa aku akan berhasil, tapi berkali-kali pula rasa ragu datang menyergap seperti enggan untuk meninggalkan diriku. Membuatku kembali berdiri di titik awal, di mana aku merasa gelisah yang tak berkesudahan.
Pandanganku masih saja beradu dengan telepon genggam yang –masih juga- di tanganku. Benda itu hanya terdiam dan membalas tatapanku dengan layar yang bersinar terang seperti mengejek atas ketidak percayaan diriku. Aku memang tidak mengharapkan jawaban dari benda kecil itu, aku hanya berharap benda itu memberiku beberapa ide –semacam wangsit- agar aku mampu menjalankan rencanaku –yang sebenarnya sudah kuimpikan sejak 4 tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk di kelas 1 SMP.
Tak lebih dan tak kurang, setelah memandangi telepon genggamku tanpa hasil apa-apa, aku menyerah. Kuhentikan aktivitasku –yang sebenarnya konyol- dan mendengus kesal. Memang sulit bagi orang untuk memulai sesuatu yang baru, yah hanya itu yang dapat kukatakan pada diriku sendiri untuk menghibur diri. Ingin rasanya aku menangis karena malu –entah kepada siapa- karena tak bisa memulai langkah awal –yang bisa jadi- membawaku menuju kesuksesan yang sering kali aku impi-impikan.
Suntuk, aku putuskan keluar dari kamar yang lama-lama seperti mendesak dan mencekikku. Munkin saja kadar oksigen di kamarku berkurang karena kekhawatiran yang tak berdasar dari otakku yang sudah tak mau tahu. Ketika pintu kamarku kubuka, aku langsung disambut oleh pemandangan yang sudah biasa aku lihat dari keseharian hidup keluargaku. Suara TV menggema, mengisi kekosongan bunyi karena tiga makhluk bernyawa yang ada di ruang keluarga itu tak mengeluarkan suara sedikitpun. Mata mereka terfokus pada TV yang asyik bermonolog ria.
Kuamati keluarga jecilku yang tengah makan cemilan buatan ibu di ruang keluarga. Semuanya tak bersuara dan sepertinya tak ada yang menyadari kehadiranku di sana. Aku mendekat ke arah bapakku yang tengah memandangi TV dengan seksama dan khidmat seperti adik dan ibuku.
“Bapak” panggilku membuyarkan konsentrasi tingkat dewanya.
Bapak hanya menoleh sekilas dan kembali bertukar pandang dengan TV, seolah-olah ia sudah menduga kalau panggilanku pasti tak memuat sesuatu yang penting seperti tata cara menyukseskan program adiwiyata di sekolahnya. Bapak merespon panggilanku dengan gumaman absurd yang bisa kutangkap maksudnya bahwa ia menanyakan maksud panggilanku.
Kurasakan jantungku mulai mengkhianatiku dengan berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku menggerutu kesal dalam hati, berharap jantungku mau mendengarkan gerutuanku kali ini dan mau bekerja sama denganku. Terpaksa kukulum senyum pahit, jantungku masih saja tak mengindahkan perkataanku dan menambah kecepatan detaknya. Tanganku berkeringat karena juga merasa penasaran apa yang akan bapak katakan apabila aku mengatakan ide gilaku ini.
Ruang keluarga yang cukup besar ini tiba-tiba semakin sempit dan sempit di mataku. Aku yakin ini hanya ilusi, tapi banyangan ini memuatku semakin citu untuk menyatakan niatku. Kutarik napas dalam-dalam dan kudapati tak begitu banyak membantu.
“Kalau aku buat cerita gitu giamana Pak? Kayak novel gitu, tapi diunggah di semacam aplikasi yang menggunakan internet.”
Dalam hati aku bersorak riang karena telah berhasil mengatakannya dengan lancar jaya tanpa tersendat di satu katapun. Satu kelegaan sudat kudapat, sekarang tinggal menunggu respon baliknya. Kuamati perubahan ekspresi dan posisi duduk bapak.
Bapak menoleh dengan cepat –bahkan aku membayangkan apabila itu sedikit diberi unsur hiperbola maka saat itu leher bapak sudah putus, lupakan- dan menatapku dengan kilatan kaget yang kentara di kedua bola matanya. Tak hanya bapak, ibuk dan adikku juga ikut kaget mendengar perkataanku. Mereka seolah bertanya-tanya sebenarnya apa yan otakku sedang pikirkan dan rencanakan. Mereka memandangiku dengan tatapan tak percaya dan muka kaget yang terpatri pas dengan lekuk wajah mereka masing-masing.
“Apa maksudmu?”
Dapat kudengar nada mengejek yang walaupun tak mendominasi kalimat tanya itu, terdengar di sela-sela nada datar yang ada. Tidak ada respon berlebihan di sini. Bapak hanya menanyakan tujuanku, itu biasa bukan?.
“Aku mau bikin cerita di salah satu aplikasi, jadi nanti di aplikasi itu ceritaku bisa dilihat orang banyak. Mungkin saja, nanti ada yang menyukai ceritaku” aku menjawab dengan senyum yang kupajang semanis mungkin di bibirku.
Kepercayaan diri yang tadi bersembunyi entah ke mana, kini kembali lagi kepadaku. Mungkin karena tak ada respon yang berlebihan dari orang tuaku jadi ekspetasiku menjadi naik melejit lagi.
“Nduk nduk, mana ada orang yang akan baca ceritamu.”
“Siapa tahu kan Pak, emang bapak petnah baca ceritaku? Darimana bapak simpulkan kalau tidak ada orang yang akan tertarik dengan ceritaku?”
“Bapak memang ndak pernah baca ceritamu, tapi bapak yakin tulisanmu itu masih kayak anak SD.”
Bang! Ekspetasi yang sebelumnya mengembang memenuhi pikiranku tiba-tiba kempes tertusuk jarum kecil yang tajam dari perkataan bapak. Sontak saja aku langsung naik pitam.
“Ya sudah kalau begitu, bapak tunggu seminggu lagi. Bakal ada banyak orang yang akan membaca dan memberi vote –dukungan karena menyukai cerita di aplikasi- pada ceritaku” aku masuk kamarku dengan cepat.
Kuraih telepon genggamku dan kubuka aplikasi bersimbol huruf W berwarna kuning. Kuketik cepat ide yang –entah mengapa- mengalir deras di otakku. 200 kata, 400 kata, 600 kata, 700 kata, 1000 kata, hingga tak kusadari aku telah menulis sebanyak 1337 kata. Kuhembuskan napas lega. Kutengok jm dinding yang sedari tadi menemaniku menulis.
Pukul 21.00, aku menunggh cerita buatanku. Kututp aplikasi itu dan menaruh telepon genggamku di meja belajar. Kaku merebahkan tubuhku yang kelelahan, tinggal menunggu besok. Mataku terpejam dengan sedikit paksaa, kucoba untuk tidur dan mengabaikan degup jantungku yang tak beraturan.
Esom harinya, sepulang sekolah langsung kubuka aplikasi itu dan melihat karyaku. Hatiku mencelos kecewa. Raut mukaku berubah, yang semula seemangat menjadi tak lagi ingin tahu. Hanya 3 orang yang membaca dan tidak ada yang memvote ceritaku.
“Gimana?” tanya bapak sambil berlalu dengan secangkir kopi di tangan kanannya.
Aku cemberut. Tak sepatah katapun keluar dari bibir mungilku. Aku tetap memantau ceritaku dengan intens. Tak lupa aku juga berdoa agar ada orang yang memerhatikan ceritaku. Aku juga melakukan promosi ke banyak orang.
6 hari berlalu dan bapakku terlihat senang. Hari ini aku tak membuka cerita karyaku sama sekali. Aku takut dengan kenyataan yang mungkin akan sangat menyakitkan.
Tepat seminggu telah berlalu, aku dan bapakku tengah duduk di balkon. Aku dengan telepon genggamku dan bapak dengan kopi dan rokoknya.
“Gimana ceritamu? Sukses tidak?” tanya bapak.
“Ndak tahu” jawabku singkat dan sedikit ketus.
“Lho kamu belum lihat?” bapak menatap tak percaya.
Aku menggeleng lemah. Bapak berdecak kesal dan mengambil telepon genggamku dariku. Ia membuka aplikasi tempat aku mengunggah ceritaku. Bapak mengutak-atik sebentar, entahlah apa yang ia lakukan. Dalam detik ke 15, bapak menunjukkan layar telepon genggam padaku.
Kuamati dengan seksama, walaupun tak tertarik sepenuhnya. Mataku terbelalak kaget menatap layar telepon genggam.
“Selamat ya” ucap bapak lembut sembari mengelus puncak kepalaku. Di situ tertera angka 186 dan 20. Ada 186 orang yang membaca ceritaku dan ada 20 orang yang memvote ceritaku.
Aku tersenyum dan kupeluk bapak erat-erat. Ada orang yang merespon ceritaku. Bahkan beberapa dari mereka berkomentar baik tentang ceritaku.
“Ceritamu bagus, bapak sudah baca.”
“Makasih, Bapak” kukecup pipi bapak penuh sayang.
Bapak memang tidak menunjukkan perhatiannya secara terus terang seperrti ibu, tapi kini aku tahu kalau ia sangat mendukungku. Ceritaku kini sukses, tak sedikit pula orang dari luar kota yang mengapresiasi ceritaku.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search