06/07/2017

SAKTI,Part 2

SAKIT,Part 2
OLEH: TEGAR ALEND RENALDHY

    Cerpen,Setelah terbangun dari pingsanku, ternyata aku sudah berada di rumah sakit. Entah siapa yang membawaku ke rumah sakit aku juga tak tahu. Saat aku terbangun, sudah ada perban di bagian kiri kepalaku. Ibu dan ayahku yang saat itu sudah berada di rumah sakit menungguku sambil menangis. Dan seringkali aku memegang kepalaku itu, ternyata masih sakit bila dipegang, hehe.
            Setelah semuanya sudah selesai,  hari itu pun dokternya memperbolehkanku untuk pulang. Saat pulang, ternyata hari sudah sore. Setelah sampai di rumah aku melihat teman-teman sedang bermain sepak bola. Awalnya aku ingin ikut sepak bola tetapi tak diperbolehkan oleh ibuku. Itu pun tidak membuatku gentar, aku mempunyai akal. Di lapangan ada banyak penjual makanan ringan berbagai macam. “Bu, aku mau beli jajan di lapangan,” ujarku sambil tersenyum.
“Iya hati-hati. Tapi setelah membeli jajan harus segera pulang,” balasnya.
“Iya Bu,” balasku sambil tergesa-gesa.
Aku langsung menuju lapangan. Iya memang aku membeli jajan dan melihat teman-temanku bermain sepak bola.Tapi setelah melihat itu aku ingin bermain sepak bola secara diam-diam agar ibuku tidak mengetahuinya. Beberapa saat kemudian, adzan maghrib pun berkumandang. Sepak bolanya pun otomatis selesai dan semuanya segera pulang ke rumah masing-masing.
Saat aku sampai di rumah, aku lupa kalau aku masih berkeringat. “Dek, kok berkeringat? Tadi beli jajan apa main sepak bola?” tanya ibuku.
“Aku tadi memang beli jajan, Bu. Tapi setelah itu aku langsung bermain sepak bola karena aku pengen bermain sepak bola,” jawabku dengan jujur.
“Lho Dek, kan ibu sudah bilang kalau jangan bermain sepak bola dulu. Nanti kalau sakit lagi kan repot. Yaudah lain kali jangan diulangi lagi,” balas ibu dengan lembut.
“Iya, Bu. Aku janji tidak mengulangi lagi bu,” jawabku sambil kepala tertunduk.
Aku pikir setelah aku bilang begitu aku dimarahi. Tak kusangka, aku tak mendapat marah dari ibuku. Ibuku hanya mengingatkanku jangan mengulangi perbuatanku ini. Mungkin ibuku kasihan dengan kondisiku saat itu, tetapi aku tetap saja bandel. Maafkan aku ya, bu, hehe.
Untung saja di Sman 1 Bojonegoro tidak ada ayunan. Mungkin aku akan melakukan hal itu lagi. Eh tidak, aku hanya bercanda. Aku tidak mengulangi hal itu lagi, karena tidak memberikanku keberuntungan, malah kerugian yang kudapat saat itu. Imbasnya pun kepala bagian kiriku sudah tak bisa tumbuh rambut lagi, karena adanya bekas jahitan. Ya walaupun kecil sih, hehe.

Tamat

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search