08/07/2017

Malam Menangis,part.2

Malam Menangis
Ubaid Isnur Rosyid Prasetiyo


“Pras, dengerin deh nanti ada suara cewek menangis dari lantai tiga,” ujarnya padaku dengan wajah tersenyum
“Oh, iya biarkan saja,” jawabku santai kepadanya.
“Ihihihihi.. hihi...,” suara orang menagis.
Ternyata apa yang disampaikan Rani benar terjadi dan semua orang disana bisa mendengarnya dan ketika dicek tidak ada orang di lantai atas.
“Hei Pras, sekarang dia ada di belakangku sambil memeluk kamu,” katanya sambil tersenyum pula.
“Ha? Siapa? Jangan ngaco kamu,” sambil menoleh dan agak deg- degan.
“Yang pasti dia sekarang ada dibelakangmu, pasti badanmu anget kan?” tanyanya dengan yakin.
“Iya memang sih leherku juga terasa hangat, ya sudah kamu suruh dia pergi,” jawabku kepadanya.
“Tidak,dia masih ingin di situ bersamamu,” jawabnya.
“Hei jangan...”
“Sudahlah turuti saja apa kataku,” paksanya.
Akhirnya beberapa menit kemudian leherku terasa normal.
Singkat cerita waktu pengibaran telah tiba. kami berhasil menjalankan tugas dengan mengibarkan dan menurunkan bendera merah putih dengan sukses dan terbaik se-Jawa Timur. Setelah itu kami kembali ke tempat karantina untuk isirahat.
D ipagi harinya kami berkemas dan setelah itu kami melalukan upacara penutupan lalu pulang. Ketika saling berpamitan kami merasa sedih karena kami disitu telah kompak dan akur sekali. Ada pula temanku yang menagis.
Setelah itu kami menjalani hidup masing – masing seperti biasa. Namun, setelah tiga minggu usai karantina. Ketika tidur ada yang menarik kakiku, hal tersebut terulang hingga tiga malam berturut. Lalu aku bertanya kepada Rani tentang apa yang kualami karena setelah karantina Rani bisa melihat dunia lain.
“Ran, tadi malam dan dua malam lalu aku tidur kok ada yang narik kakiku itu bener apa cuma perasaanku sih?”
“Hahaha, oh itu, kalo itu ya beneran lah. Itu yang kemarin meluk kamu di karantina itu lo,” jawabnya padaku.
“Apa? Serius kamu.”
“Iya aku serius ini, dia memang yang kemarin,”tegasnya ulang.
“haduh.. haduh aku musti gimana? Aku gak mau diganggu terus,” tanyaku panik.
”Ya sudah kamu yang tenang, kamu berdoa aja terus, jangan lupa berdoa juga ketika akan tidur,” jawabnya menenanggkan.
Akhirnya setelah itu Alhamdulillah aku dapat tidur nyenyak lagi, namun karena rasa penasaranku, aku bertanya kepada Rani.
“ Ran itu sebenarnya kenapa kok di karantina bisa ada kesurupan?”
“Itu sebenarnya ketika di karantina waktu adzan magrib da yang ramai, duduk diatas meja dan ada pula yang membuang sampah di kamar mandi. Jadi penunggu tempat itu ada yang merasa keganggu.”
  “Oh jadi gitu, lantas kenapa aku juga diganggu? Padahal aku kan tidak melakukan apa yang kamu bicarakan?” tanyaku makin penasaran.
“Ah tenang Pras, kalo itu kamu pikir sendiri, mungkin kamu bakal tau sendiri.”
“Apa maksudmu?”
“Sudah jangan tanya kenapa,” tegasnya padaku
Akhirnya aku tidak bertanya lagi kepadanya tentang itu dan biarlah menjadi misteri dalam benakku ini selamanya.

TAMAT

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search