07/07/2017

Malam Menangis,Part.1

Malam Menangis
 Ubait

            Cerpen,Aku mempunyai pengalaman mistis yang mungkin tidak aku percayai sebelumnya. Namaku Prasetiyo, aku tergabung dalam PASKIBRAKA (Pasukan Pengibar Bendera). Dalam PASKIBRAKA tersebut aku mempunyai teman bernama Rani, aku sebelumnya tidak begitu mengenal di. Namun, dia terlihat tidak banyak bicara, keras kepala serta memiliki tatapan mata yang bisa dibilang tajam dan menyeramkan.
            Singkat cerita lima hari sebelum pengibaran bendera tanggal 17 Agustus kami dikarantina. Kami dikarantina di bangunan tua yang bernama Hotel Sekarwangi. Hotel ini dikenal cukup angker.  Dan ketika kami sampai disana memang sih tempatnya agak seram dan agak berdebu disana – sini . Mungkin juga disebabkan pemiliknya yang telah meninggal jadi kurang bersih. Karena melihat keadaan itu Rani berkata kepadaku agar aku menemaninya selama karantina sebab dia takut.
            Kami sampai sekitar jam tiga. Lalu kami bersih – bersih dan mempersiapkan kamar setelah itu mandi dan melaksanakan sholat magrib. Setelah sholat kami menuju ke suatu ruangan untuk upacara pembukaan karantina. Ruangan tersebut terlihat kuno dengan mozaik kayu dilangit – langitnya dan hawa yang cukup panas di kala itu.
            “Pras, garuda yang ada didepan itu tersenyum padaku,” ujar Rani padaku sambil menunjuk patung garuda yang tergantung ditembok yang tebuat dari kayu.
            “Husstt, sudah jangan dilihat, pikiranmu juga jangan sampai kosong,” jawabku kepada dia.
            Setelah itu kami duduk berdua dan acara pembukaan dimulai. Saat ditengah upacara aku melihat Rani. Dia tampak memandangi patung garuda tadi dengan tatapan kosong.
            “Rani, kan aku udah bilang sama kamu buat jangan lihat patung itu, kamu juga jangan melamun,” agak teriak aku bicara padanya.
            Dia menengok kepadaku dan dia hanya membalas perkataanku dengan tatapan kosong dan seram. Aku bingung kepada dia karena sikapnya yang aneh. Tiba – tiba ada beberapa temanku yang menangis tanpa sebab. Lalu aku melirik ke Rani lagi dan ternyata dia masih melihatku dari tadi.
            “Hei,jangan lihat aku kayak gitu terus, serem tau,” sambil menepuk punggungnya.
            Lalu dia tiba – tiba meringis kepadaku dengan suara wanita yang bukan suara dia, suaranya begitu seram dan dengan tatapan antara melotot dan pandangan kosong. Serentak aku menjadi merinding.
            Lalu aku tersadar bahwa dia sedang kesurupan dan setelah itu aku meninggalkannya namun dia berlari mengikutiku sambil tertawa. Dan setelah itu ada 18 anak kesurupan dan ada 5 anak yang kesurupan parah. Karena si Rani masih mengejarku akhirnya teman – temanku memeganginya. Ustad yang dipanggil akhirnya datang dan berusaha menenangkan keadaan. Di situ aku juga ikut membantu si ustad sampai jam 11 malam.

            Di pagi harinya setelah olahraga pagi dan mandi kami sarapan. Kejadian tadi malam sudah kulupakan. Ketika sarapan Rani meminta agar duduk di depanku. Dan dia masih saja berlaku aneh.

Bersambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search