11/07/2017

Kecerobohan

Kecerobohan
Oleh: Yoga


CERPEN,Minggu sore adalah waktu yang tepat untuk anak-anak keluar bermain bersama teman-temannya. Tak terkecuali bagi Didi yang duduk di bangku SMP. Sore itu, cuaca terlihat biasa saja seperti sore-sore pada umumnya. Didi sedang duduk santai di teras rumahnya sambil membaca koran. Ia menunggu jemputan Ari, teman bermainnya, yang mengajaknya pergi bermain bersama. Mereka berencana untuk bermain sepak bola di tanah kosong yang lumayan dekat dengan rumah Didi. Tak lama kemudian, Ari datang menghentikan laju sepedanya, memecah lamunan Didi yang sudah agak lama menunggu kedatangannya.
“Didi, ayo berangkat!” ajak Ari dengan raut muka riang.
“Oh ya, tunggu aku pamit sama ibuku dulu,” jawab Didi.
Didi masuk ke rumah meminta izin ibunya untuk bermain.
“Ibu, aku boleh kan bermain sepak bola sama teman-teman?” rayu Didi.
Ibu mengizinkannya, “Boleh, tapi mainnya hati-hati, ya?”
“Baik, Bu. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Didi berangkat dengan membonceng sepeda polygon milik Ari. Ari memacu kencang sepeda yang di keranjangnya terdapat bola plastik untuk bermain sepak bola nanti. Semakin lama semakin kencang Ari memacu sepedanya karena ia paham betul bahwa teman-temannya tak akan bisa bermain tanpa kehadirannya.
Sepeda Ari terhenti di tanah kosong tempat bermain anak-anak di sekitar rumah Didi. Ari memarkir rapi sepedanya di samping tanah kosong. Didi dengan cepat membawa bola dari keranjang sepeda Ari. Lalu,  mereka berkumpul di tengah tanah kosong yang telah disulap menyerupai lapangan dengan bahan yang seadanya. Tanah kosong itu telah mereka ubah tampilannya dengan menambahkan gawang dengan bambu dan memberi tanda batas lapangan dengan tumpukan batu.
Seperti permainan sepak bola pada umumnya, mereka membentuk dua tim. Setelah tim dibentuk, mereka mencopot alas kaki masing-masing, karena memang tidak diperbolehkan bermain sepak bola jika masih menggunakan alas kaki. Itu adalah peraturan tak tertulis yang telah disepakati oleh Didi dan teman-temannya.
Permainan pun dimulai.
Di luar dugaan, di tengah pertandingan tiba-tiba hujan datang. Derasnya hujan serta angin kencang membuat anak-anak yang sedang asyik bermain sepak bola panik. Mereka memutuskan untuk menyudahi pertandingan karena cuaca yang tak mendukung. Mereka semua berhamburan, sebagian pulang sebagian lagi memilih berteduh. Karena kepanikannya, Didi berlari pulang, ia mengibas rambutnya yang agak panjang  yang basah tersiram air hujan. Ia tak mempedulikan apapun, yang ada dalam pikirannya saat itu adalah cara untuk pulang dengan cepat agar tak dimarahi ibunya.Didi meninggalkan sandalnya. Ia juga meninggalkan Ari yang lebih memilih untuk berteduh.
Didi sampai di rumah dengan tubuh basah kuyup dan napas terengah-engah. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya usai terkena air hujan yang bercampur keringatnya. Setelah Didi selesai mandi, ibu menghampirinya dengan wajah kebingungan.
“Didi, sandalmu kok gak ada?”
“Ya ampun, aku lupa, Bu. Mungkin tertinggal di lapangan,”  Didi menjawab dengan ekspresi terkejut, “Tadi soalnya aku terburu-buru pulang,” lanjutnya.
“Kamu ini bagaimana to? Kok bisa-bisanya lupa bawa pulang sandal,” ucap Ibu dengan nada agak tinggi.
“Hmm... Iya, Bu, maaf. Besok Didi akan cari, deh,” Didi menjawab dengan kepala tertunduk, dia takut jika sandalnya benar-benar hilang. Bisa-bisa Didi dimarahi seharian oleh ibunya.
“Assalamualaikum,  Didi!” terdengar samar-samar suara Ari dari luar rumah Didi.
Mendengar suara itu, Didi cepat-cepat membuka pintu rumahnya.
“Waalaikumsalam,” jawab  Didi sambil berjalan ke arah trotoar menghampiri Ari.
Ari memberikan sandal Didi yang tertinggal di lapangan usai hujan deras yang menghentikan pertandingan sepak bola mereka.
“Ini sandalmu, Di. Pasti kamu tadi terburu-buru sampai lupa kalau kamu bawa sandal,” ucap Ari sambil tertawa kecil.
“Wah, terima kasih, Ari. Untung kamu bawa sandalku. Kalau tidak, mungkin ibuku akan memarahiku seharian ini,” balas Didi dengan senyum simpul di wajahnya, ia merasa sangat lega.
Ari berpamitan pulang kepada Didi. Mengayuh kembali sepeda polygon miliknya. Didi berlari ke arah rumah dengan wajah ceria dan perasaan lega karena akhirnya alas kaki miliknya telah kembali. Namun, saat ia berlari, ia tak sadar menginjak laintai yang masih basah bekas terkena air hujan. Ia terpeleset. Tubuhnya seketika terjatuh.
“Bruk!” tubuh Didi terjatuh dengan posisi diam duduk. Sandalnya terlempar dari genggamannya saat tangan kirinya berbenturan keras dengan kursi kayu teras rumahnya.
“Aduh! Sakit!” teriak Didi kencang merasakan sakit yang menjalar dari tangannya.
“Kamu kenapa, Didi?” tanya Ibu cemas sambil keluar dari dalam kamarnya.
“Tanganku sakit, Bu,” desah Didi tak sanggup menjelaskan apa yang telah terjadi kepadanya.
“Ya sudah, Bu. Tenang dulu. Ayah akan membawa Didi ke rumah sakit,” kata ayah menenangkan ibu sambil menarik tangan kanan Didi, membangunkannya.
Dengan cepat ayah menyalakan mesin motornya dan memasangkan helm di kepala Didi. Mereka berdua berangkat menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Didi langsung mendapat penanganan dari dokter dan perawat. Penanganan pertamanya yaitu pengecekan dengan me-rontgen tangan kiri Didi. Ternyata, dari hasil rontgen tersebut sudah diketahui bahwa tulang tangan kiri Didi patah karena membentur benda keras. Didi menyesali perbuatan cerobohnya itu. Ia tak mau menjadi anak yang ceroboh lagi karena ia telah merasakan akibat dari kecerobohannya.

TAMAT

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search