10/07/2017

Di Balik Layar,Part.2

Di Balik Layar
Oleh : Yella Ariska S.


 “Nah, satu masalah beres, kan? Sekarang kau pergi menyewa lampu,” perintah Loni sambil menunjuk Danang. “Ada lagi yang dibutuhkan?”
“Properti drama, dekorasi, kursi dan mikrofon,” jawab Fahri tak bertenaga
“Dan speaker!” sahutku bersemangat.
“Kalau begitu Fahri pergi ke tempat ini untuk memesan properti drama dan dekorasi,” ucap Loni sambil menuliskan sebuah alamat di tangan Fahri. Mikrofon dan speaker biar aku yang urus.”
“Kalau bisa secepatnya. Kami tidak bisa melakukan gladi bersih tanpa speaker.”
“Mungkin itu akan sulit. Tapi akan kuusahakan,” Ucap Loni yang kemudian pergi.
“Satu lagi masalah,” sela Ani dari belakangku. Aku pun menoleh ke arahnya. “Laptopmu...”
“Ya ampun,”  ucapku seraya menepuk dahi.
Laptopku mati kehabisan baterai. Yang bisa kulakukan hanya berdoa semoga pekerjaanku tidak hilang. Dan syukurlah ternyata itu memang tidak terjadi. Walau ada beberapa hal yang harus kuulang lagi dari awal.
Pukul satu siang properti baru sampai. Kami pun berusaha mengejar waktu yang telah terbuang sia-sia. Dekorasi yang kami buat pun tampak asal-asalan dan seadanya karena dilakukan dengan tergesa-gesa. Tak jauh berbeda dengan berlangsungnya gladi bersih. Kami tidak mempunyai cukup waktu untuk mengulang-ulang latihan. Jadi setiap peserta hanya punya kesempatan latihan satu kali tanpa kesalahan dengan musik penuh.
Malam pun tiba. Aku menatap kosong ke arah deretan kursi di depan panggung. Hanya ada beberapa kursi yang terisi oleh penonton. Selebihnya adalah peserta pentas seni itu sendiri. Melihatnya membuatku putus asa.
Harapanku muncul ketika beberapa warga di sekitar gedung datang untuk menonton. Lalu tak lama kemudian datang lagi beberapa penonton yang bisa kukenali sebagai kakak kelas alumni SMP 1 Jatirogo. Waktu berlalu, dan tanpa kusadari kursi-kursi telah penuh oleh penonton.
Lampu dinyalakan dan musik pun dimainkan. Ada tarian, puisi, nyanyian dan drama musikal ditampilkan. Diiringi dengan suara sorakan penonton setiap akhir penampilan. Mendengarnya, membuat hatiku terasa terangkat.
Aku senang sekali acara ini bisa sukses, walau awalnya banyak kendala terjadi. Dan aku yakin yang lainnya juga. Melihat semangatnya para penonton sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kami. Sungguh ironis,  mereka bahkan tidak tahu masalah apa yang terjadi selama pembuatan acara ini. Seperti bekerja di balik layar, mengatur semuanya di sudut gelap panggung tanpa ada yang tahu. Merasakan kegelisahan, marah, putus asa sekaligus puas. Tak semegah konser Justin Bieber memang, tapi setidaknya ini membuat kami bahagia.
Kupikir mungkin sudah saatnya aku berhenti bernostalgia dan kembali menonton acara favoritku. Aku tak mau melewatkan acara yang hanya berdurasi 30 menit dengan banyak jeda iklan ini dengan sia-sia.

TAMAT

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search