09/07/2017

Di Balik Layar,Part.1

 Di Balik Layar 
Oleh : Yella Ariska S.


      Cerpen,Aku duduk termenung sambil menatap kosong hamparan padi dari ambang jendela. Bisa kurasakan angin segar berhembus menerpa wajahku. Beberapa saat waktu berselang aku mulai bosan. Kuputuskan untuk menyalakan televisi dan menonton sebuah konser. Melihatnya mengingatkanku pada pentas seni saat aku masih SMP.
Saat itu aku  dan teman-temanku adalah murid senior di SMP,  jadi kami berperan sebagai panitia pengurus acara. Dalam acara itu aku mendapat bagian sebagai penata musik dan background bersama satu temanku, Ani. Pada hari H aku dan teman-teman berkumpul di Gedung Rakyat, tempat pentas seni akan diadakan. Tak hanya kami, para adik kelas pun juga hadir untuk melakukan persiapan penampilan mereka. Mereka tampak bersemangat sekali. Sementara itu, aku dan Ani duduk menghadap laptop masing-masing untuk mengurus lagu dan background yang cocok untuk setiap penampilan.
“Oke, musiknya sudah siap. Kita bisa melakukan gladi bersih sekarang,” ucapku puas.
“Dan yang kita butuhkan sekarang adalah speaker,” sahut Ani tiba-tiba.
“Kau benar. Kalau begitu aku akan mencarinya ke bagian properti.”
Aku lalu beranjak dari tempat dudukku dan pergi mencari Rendi, pengurus properti. Kucari dia ke mana-mana tapi tak juga tampak batang hidungnya. Aku pun memutuskan untuk bertanya yang lainnya. Kebetulan tak jauh dari tempatku berdiri ada Danang yang sedang menggaruk kepalanya sambil mengerutkan dahi.
“Danang, kau lihat Rendi? Aku butuh speaker sekarang.”
Alih-alih menjawabku, ia hanya menengok dengan wajah frustasi.
“Rendi tidak masuk,” sahut Fahri dengan ekspresi yang tak jauh berbeda dari Danang.
“Lalu bagaimana dengan gladinya? Aku butuh speaker! Tak bisakah kalian bertindak tanpa Rendi? Kalian juga bagian dari tim properti, kan?” ucapku kesal.
“Jangan bicara seenaknya! Kau pikir kami hanya mengurus speaker? Tidak! Karena Rendi tidak masuk, tim properti kacau. Sekarang banyak properti yang belum siap. Acara ini terancam gagal!” teriak Danang kepadaku.
“Kenapa kau melampiaskan kemarahanmu kepadaku? Memangnya ini salahku?” balasku dengan berapi-api.
“Jangan bicara padanya. Dia akan melampiaskan kemarahannya kepada setiap orang yang lewat, tentu saja karena ketidakmampuannya,” sindir Fahri dengan ketus.
“Apa maksudmu? Kau sendiri melakukan apa? Bukannya memesan lampu itu sebenarnya tugasmu?” balas Danang tidak terima.
“Aku hanya bertugas mengambilnya dan Rendi lah yang memesan.”
“Lalu kenapa kenapa kau tidak memastikannya? Lihatlah, semua jadi kacau gara-gara kau!”
“Gara-gara aku? Memangnya aku tahu kalau Rendi akan sakit? Kau sendiri kerja apa?”
“Berhentilah bertengkar! Aku butuh speaker  sekarang!” selaku tak terima karena diabaikan. Pertengkaran pun reda untuk sesaat.
“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” tanya Loni tiba-tiba.
“Propertinya banyak yang belum dipesan. Tapi tenang, aku punya paman yang menyewakan lampu panggung. Kalian bisa menyewa miliknya,” sahut Ani yang tiba-tiba muncul dari belakangku.

BERSAMBUNG


Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search