06/05/2017

Salam Terindu Part.2

Salam Terindu
Karya: Juventia Llewellyn Pakpahan

Suasana di sekolah sedikit tak terkendali karena beberapa guru sibuk menyiapkan apa-apa untuk besok. Tak mau membohongi diri sendiri, aku menggunakan waktu kosong untuk bermain dengan temanku.
“Juven…” panggil Bu Ratmi sambil melambaikan tangannya. Sial, baru juga mau main, batinku kesal. Aku berjalan menghampiri beliau dan tak lupa kusunggingkan senyum palsu hanya agar terlihat sopan.
“Iya, Bu.”
“Kamu besok rias di mana? Trus anak-anak yang lain mau rias di mana?”
Aku mengerutkan alis dan berpikir sejenak, “Saya rias di rumahnya Ayu. Banyak juga yang ikut rias di sana, Bu.”
“Yaudah nanti temenmu yang lain yang belum tahu mau rias di mana kasih tahu riasnya di Bu Endang.”
“Baik, Bu..” aku menganggukan kepala untuk meyakinkan beliau. Aku menyalami beliau dan hendak pergi. Tapi guru dari dalam kantor memanggilku. Seketika aku datang dan bersiap mendengar apa yang akan disampaikan oleh guru yang masih kerabatku.
“Saya ditelpon papamu, mbahmu meninggal..” deg. 1 detik, 2 detik. Butuh waktu 5 detik untuk mencerna apa yang baru saja kudengar. Tak tahu kenapa tapi aku merasa saraf-saraf tubuhku seketika error hingga kakiku terasa sangat kaku. Tubuhku oleng tetapi serasa ada yang memegang pundakku. “Kamu pulang aja,” suruhnya tapi tak kuhiraukan. Tuhan, dadaku sesak. Sungguh kabar ini menohok ulu hatiku. Tanpa istruksi, buliran air mata meluncur melesat bagai anak panah. Mataku seketika merah. Aku berjalan lunglai keluar ruangan.
“Yang sabar ya. Besok tetep ikut lomba kan...” tak kugubris celotehan guruku meski aku tahu ini tidak benar tapi persetan dengan semua itu. Aku terlalu syok dengan berita menyesakkan ini. Aku melangkah dengan cepat lebih seperti berlari menuju kelas. Entah seperti apa rupaku, aku sungguh tidak peduli. Kumasukkan bukuku ke dalam tas secara kasar. Tanpa berpikir panjang aku segera pulang ke rumah diantar oleh sepupuku yang sekelas denganku.

Mataku sembab dan penampilanku sangat kacau. Ditambah dengan jalan yang sudah mulai dipenuhi para pelayat. Begitu memasuki pintu rumah, kuhempaskan tasku sembarangan. Aku tak kuasa dihadapkan pada pemandangan di depanku. Kakekku tertidur sangat pulas hingga tak menyadari keberadaanku. Di mana lelaki paruh baya yang selalu menyambutku ketika aku pulang? Tidak, ini hanya mimpi. Tidak mungkin. Itu bukan kakekku yang terbujur kaku disana. Oh aku tau, ia hanya berpura-pura. Ya, ia pasti hanya bercanda seperti biasanya. Ini pasti trik barunya untuk menggodaku. Tuhan, ini terlalu menyakitkan.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search