05/05/2017

Salam Terindu Part .1

Salam Terindu
Karya: Juventia Llewellyn Pakpahan


Cerpen,Aku termenung di tengah kegelapan dan hembusan angin malam. Ingatanku seolah dihempaskan pada piringan kecil yang disebut kenangan. Serpihan memori yang hampir pudar kini berangsur berputar bak film layar lebar. Tak kuduga kenangan itu membawaku terbang, melayang dalam dinamika waktu. Ingatanku terpatri pada sosok gadis kecil yang tengah asyik menyantap makanan di depannya. Kutelaah lebih jauh, gambaran itu terlihat semakin jelas dan meraung meminta keluar.
“Halo. Iya, Wentia calon dokter,” ucap lelaki paruh baya yang tak lain adalah kakekku. Begitulah kakekku, ia kerap kali mengatakan hal-hal yang aneh untuk menggodaku. Seperti yang baru saja ia katakan, sebenarnya aku juga tak begitu paham maksudnya. Tapi biarlah, orang dewasa terkadang sulit dimengerti.
“Aku ngga mau jadi dokter,” sambarku sambil meletakkan piring yang baru kupakai di tempat cucian.
“Yaa, seragamnya diberesin. Jangan ditaruh sembarangan!!” suara cempreng budheku yang sudah sangat kuhapal kembali ia serukan. Bosan, mungkin iya. Tapi aku terlanjur hobi membuatnya mengomel.
“Iya-iya, Bu.”
Kenanganku terhenti sesaat. Sebersit kerinduan hadir dalam hatiku. Kuremas tanganku untuk tak terlarut pada kepedihan yang dulu sempat bersemayam di diriku. Aku ingat kala itu. Aku yang masih bocah kelas 5 SD yang suka bermain layang-layang dan pulang hanya jika matahari sudah berada di persinggahannya. Tinggal dengan 2 kakak perempuan, kakek, dan budhe, menurutku tak ada yang istimewa. Hanya terkadang bertengkar dengan saudari yang berakhir dengan omelan budheku atau bahkan sampai jadi tontonan orang jika sudah menangis diiringi teriakan. Itupun bukan hal yang patut dibanggakan, tetapi malah terkesan memalukan.
*******
            Aku kembali memasuki ruang kosong yang kini mulai terisi sederet bayangan abu-abu yang berbaris bergerombol bagai isi meriam yang siap dilepas kapan saja. Bocah kecil yang sudah pasti diriku sedang menikmati es selendang mayang yang kata orang menggugah selera. Padahal rasanya tak karuan, aku berani bersumpah.
            “Udah disiapin semua? Ngga ada yang ketinggalan?” celoteh mamaku yang terlampau rempong mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa pulang.
            Kakakku mengeceknya lagi, “Ngga, Ma. Udah siap semua.”
            “Mbak, mau es ini?” aku menyodorkan esku pada kakakku.
            “Gamau, gak enak rasanya. Aku gak doyan.”
            Aku menghela napas dan dengan sedikit eneg menghabiskan es khas Jakarta ini. Hari ini aku dan kakakku akan kembali ke Bojonegoro karena liburan kenaikan kelas telah usai. Menyebalkan, padahal aku ingin berlama-lama disini. Berkutat dengan tumpukkan buku adalah hal yang paling membosankan. Jika bisa memilih, aku lebih ingin cepat dewasa tanpa bersekolah tetapi tetap menjadi orang terpandang nantinya. Sungguh pikiran tolol.
*******
            Sekarang aku menjadi kakak tertua di sekolah. Menyenangkan tapi juga mendebarkan. Belum-belum pikiranku sudah kalang kabut membayangkan UN yang tampaknya menyeramkan. Senin berlalu, hari pertama sekolah berakhir dengan cepat. Ya, karena hanya perkenalan dengan wali kelas baru dan membersihkan kelas, cukup mudah.
Waktu terus berjalan. Detik berganti menit, jam berganti hari, dan minggu berganti bulan. Kau tahu, kehidupanku yang membosankan tetap kujalani. Mau bagaimana lagi? Terlalu egois bila aku mengatur seluruh kehidupan. Bahkan terlampau menantang kekuasaan Tuhan.

Kuberitahu kalian, aku bukanlah bocah dengan segudang prestasi yang gemilang. Tak buruk, aku juga bukan murid yang mendapat peringkat terbawah. Beberapa waktu lalu aku mendapat juara 1 gerak jalan. Mungkin tak terpercaya tapi akulah yang menjadi pemimpin. Ya, sadar dengan tubuh mungil ini tak memungkinkan bila aku menjadi pemimpin. Beruntunglah diriku dengan bekalan suara yang bak lonceng gereja ketika dibunyikan, guruku memilihku. Atau entah karena tidak ada siswa lain yang berminat sehingga aku yang dipilih. Masa bodoh, yang lalu biarlah berlalu, yang harus kusiapkan adalah lomba drum band besok.

Cerpen,Bersambung.......

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search