09/05/2017

Petaka Part.2

Petaka
Oleh Miga Hetty Mulia Sari



Cerpen,Mendengar teriakan Anin, Miki semakin mempercepat laju sepeda motornya, hatinya berteriak kegirangan mendengar suara ketakutan dariAnin. Miki semakin gencar menambah kelajuan sepeda motornya hingga di atas 80km/jam.
            Tanpa dilihatnya kanan kiri jalan yang telah usang, terkikis dan termakan oleh usia, tidak ada jalan lain, Miki memutuskan lewat di tengah tengah jalan, ia tak  menyadari ternyata ada kakek kakek yang juga melintas di tengah tengah jalan tersebut, meliuk liuk laju kakek tersebut.
Tanpa sempat mengurangi kelajuan dan berpikir apa yang harus dilakukan, Miki tetap melanjutkan ‘balapan’pribadinya . Spion sepeda motornya tergaet sepeda motor kakek tersebut. Miki yang kehilangan kendali, terseret ke bahu kiri jalan dan tubuhnya terbanting, ikut terseret bersama motornya ke aspal yang keras, sedangkan Anin sudah terpanting sejak spion kakek dan Miki tergaet.
Lalu bagaimana dengan kondisi kakek? Tentu saja kakek tidak ikut terjatuh. Sebenarnya kakek dalam kondisi yang tidak baik, usai dari check up rumah sakit. Kondisi kesehatanlah yang menyebabkan kakek tidak bisa menghindari kejadian tersebut.
 Kakek berhenti dan menepikan sepedanya di bahu jalan. Pelan ia mengatur nafasnya yang kian lama kian berat. Berusaha mentralkan diri dengan keadaan yang ada. Kakek shock dan seketika itu juga asma yang diidapnya kambuh. Tangannya yang bergetar, pelan mengelus dada. Berusaha menata nafas yang bersahutan.
Di sisi lain, Miki mencoba membangunkan dirinya sendiri dengan penuh usaha dan menahan rasa sakit yang menerpa sekitar kakinya, kaki Miki tergores aspal yang keras, cairan bening berwarna merah keluar dari kakinya dengan tidak ada hentinya. Motornya remuk dan rasa takut yang besar melanda dirinya. Dengan darah yang bercucuran Miki berjalan terseok seok mencari pertolongan dari warga terdekat. Suaranya yang cempreng menjadi ciut dan serak menahan tangis yang sebentar lagi terjatuh. Teriakan  kecil minta tolongnya membuat sepasang suami istri keluar dari tempat peraduannya. Mereka tentu saja kaget melihat keadaan anak tersebut.
“Loh Dek kenapa?” tanya sang istri dengan bingungnya.
“HP Buk .. saya pinjam HP..,” cicit Miki dengan pelan, yang dibenaknya sekarang hanyalah bagaimana cara menghubungi orang tuanya. “Teman saya …  tolong.. Buk.. .,”
“Loh Dek .. Ada temannya juga? Paaaakk Bapakkk itu lo temennya si adek ditolongin dulu, ibuk tak ngambilin air sama HP dulu, Adek tunggu dulu yaaa..,”

****
Bersambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search