08/05/2017

Petaka Part.1

Petaka
Oleh Miga Hetty Mulia Sari
 Part.1

Cerpen,Mentari keluar dari sangkarnya. Menebarkan kehangatan yang menggantikan kedinginan beberapa menit lalu yang masih menyelimuti atmosfer pagi ini. Sinarnya masuk ke celah celah rumah menghangatkan hati hati yang juga ikut dingin, namun nampaknya kehangatan itu tidak bisa menembus hati sebuah keluarga yang masih terjadi perdebatan kecil di dalamnya. Kegaduhan itu menyebar dengan cepatnya, membiarkannya terdengar dan tersebar, merusak atmosfer kehangatan yang ada.           
“Nggak mau!!! Pokoknya aku nggak mau!!” suara cempreng Miki menggelegar hingga terdengar sampai rumah tetangga.
            “Ibu nggak mau tau, pokoknya kamu bareng Anin, kan ibu sudah janji sama Anin, kok kamu nggak mau?” balas sang ibu dengan tak kalah keras.
            “Yang mau sekolah siapa? Akukan? Pokoknya aku nggak mau bareng sama Anin!!!”
            “Miki sekali-kali jadi anak penurut dong!”
            “Pokoknya aku nggak mau, badanku kan kecil, nanti kalo boncengin Anin terus jatuh gimana? Ibu mau tanggung jawab?”
            “Nggak bakalan jatuh kok, asal kamu ikhlas boncenginnya,” kata ibu dengan melembutkan sedikit suaranya.
            “Masalahnya aku nggak ikhlas, Buu!! Yaudah nanti kalo beneran jatuh aku nggak  mau tanggung jawab,” seru Miki lalu meninggalkan ibunya yang hanya menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan.
            Tanpa berpamitan dengan ibunya, Miki lalu pergi ke garasi  berniat mengambil sepeda motor yang akan digunakannya ke sekolah.
****
BRMMMM…BRRMMM …BRRMMM…
Suara gas sepeda motor yang sengaja dipermainkan oleh sang empunya, berniat membuat ibu kesal dengan segala tingkah ‘luar biasanya’ dan membuat ibu membatalkan titahnya. Namun, titah tetaplah titah. Gengsi besar untuk ibu jika menarik kembali titahnya.
“Buuuu aku berangkatt!!” teriak Miki  dari luar rumah sambil menuntun sepedanya keluar dari garasi.
Memang, tetangganya sudah hafal betul suara cempreng yang membuat suasana pagi menjadi gaduh, siapa lagi kalau bukan ulah Miki, apalagi kalau sedang berdebat tentang hal yang tidak penting  dengan ibunya, benar benar perang dunia ke-tiga.
Dengan tubuh kecilnya, Miki menghampiri Anin yang telah menunggu di depan rumahnya. Anin mempunyai tubuh dua kali lebih besar dari Miki, itulah yang menjadi alasan Miki menolak titah ibunya.
“Pagi mbak Mikiii!!!” sapa Anin dengan ringannya.
“ Kenapa? Jadi naik nggak? Cepet kalo mau naik, nanti aku telat nih…,” jawab Miki dengan galaknya.
“Iya .. mbak..,” cicit Anin sangat pelan,Anin segera memakai helm yang sejak tadi dibawanya lalu membonceng dengan posisi menyamping.  Tanpa menunggu persetujuan Anin, Miki mengendarai sepeda motor sekencangnya, sangking kencangnya Anin sampai harus berpegangan jok motor dengan erat.

“Mbak Mikiii…. Jangan cepat cepat .. saya takut mbak …,” teriak Anin dari balik helmnya.

Bersambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search