09/05/2017

Petaka Part. 3

Petaka
Oleh Miga Hetty Mulia Sari


15 menit berlalu, orang tua Miki telah berhasil dihubungi. Mereka  datang bersama ayah Anin yang tampak shock dan juga kaget. Mereka menyelesaikan masalah yang baru saja terjadi, dan bernegosiasi dengan kakek yang masih terkulai lemas. Setelah menemukan beberapa titik temu dalam penyelesaian, Anin segera dibawa pulang oleh ayahnya. Dan Miki yang lukanya terus menerus mengeluarkan cairan bening berwarna merah dibawa ke rumah sakit oleh ibunya.
Ruang putih, kursi putih, dinding putih, semua serba putih, bahkan yang terlihat di mata gadis itu hanya putih dan kabur. Mungkin, ini juga pengaruh dari cairan bening di pelupuk yang tak kunjung jatuh. Pelan ia turut mengekor di belakang ibunya, memasuki ruangan yang masih bernuansa putih dan duduk di dipan empuk yang tersedia. Sosok lelaki tua dengan senyum yang menghangatkan menghampirinya, menanyainya tentang rasa sakit dan mengobatinya, bukan bermaksud apa, tapi itu memang tugasnya.
Selesai dengan tugasnya, lelaki tua itu memberikan resep obat dan memberikan oleh oleh berupa ‘kartu rumah sakit’ untuk Miki. Rasa enggan ke sekolah sempat menghampiri .Namun, apa boleh buat , hari ini klub ekstrakurikuler yang diikutinya diberi tugas untuk menjadi pembuka dalam acara sekolah, dan Miki ikut terlibat di dalamnya.
****
Beberapa menit berlalu, Miki dan ibunya sampai di depan sekolah, dengan dituntun ibunya ia melewati gerbang sekolah, memasuki ruang guru piket dan meminta izin untuk masuk. Ibunya menceritakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Miki dan sebagai  gantinya lembaran izin masuk didapatkan.
“Sudah diobati Mik?” tanya seorang guru piket yang sedang berjaga.
“Sudah Pak, ini baru dari rumah sakit, hehehe …,” jawabnya mencoba sambil mencoba tertawa.
“Bapak permisi, saya pulang dulu yaa …,” pamit ibu.
“Ohh .. iyaa Bu mari.”
“Pak, ini gimana? Saya boleh masuk?”
“Bisa jalan sendiri nggak? Saya penggilkan petugas uks dulu ya …”
“Tidak usah Pak, nanti malah repot.”
“Ya sudah saya yang antar ya?”
“Tidak usah Pak, beneran ini saya bisa sendiri.”
“Ya sudah hati-hati, nanti kalau naik tangga pelan pelan ya ..,” ucap pak guru memberi saran.
“Siap pak.”
Miki memutuskan untuk pergi ke kelasnya sendirian, ia berjalan dengan terseok seok dengan menjinjing celana olah raganya. Lama ia baru sampai di depan kelasnya, Miki mengatur nafasnya dengan tenang, sembari mempersiapkan diri  untuk mengetuk pintu kelas.
TOK.. TOK ..TOK..
Tidak menerima respon apapun dari dalam, Miki membuka pintu dengan pelan.
KRIEEEEEETTTT …
“Mikkkk …”
“Loh Mik kenapa?”
“Jalanmu kok gitu? Kamu habis jatuh to?”
“Mana Mik yang sakit?”
“Sini aku bantu ya?”
“Jangan jangan kamu habis kecelakaan yaaa…”
Serentetan pertanyaan dan pernyataan memberondong ketika Miki sampai di dalam kelas, teman temannya berkumpul mengerubunginya, dengan keadaan tersebut, Miki yang sebelumnya menahan cairan bening di pelupuk matanya sekarang runtuh sudah. Bulir bulir air menetes dengan derasnya dari mata. Ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala ketakutan dan menyadari kesalahan yang diperbuatnya.


-TAMAT-






Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search