13/05/2017

Perjuangan part.2

Perjuangan
Oleh Nicko Andrean

Ini pengalam pertamaku ikut bermain musik di dalam band.setelah aku pulang sekolah aku bersemangat dalam berlatih. Aku terus-menerus membayangkan hal itu. Sebenarnya aku paling malas dalam berpartisipasi kegiatan sekolah, tetapi kali ini aku sangat bersemangat.
            Keesokan harinya, sekolah berjalan seperti biasa. Pulang sekolah aku dan teman bandku berangkat ke Dinamic. Latihan pertama terdengar sangat aneh, bisa dibilang kamu juga baru dalam hal ini.
            “Ayo semangat. Latiahan terus!” Jau menyemangati.
            “Coba main di do=B, turunin setengah soalnya masih ketinggian nadanya,” pintaku.
            Kami berlatih setiap hari saat pulang sekolah, dan kami semakin baik dalam memainkan lagu Jadilah Legenda ini. Lima hari sebelum seleksi, kak Liu dari band Twister datang melihat kami latihan.
            “Kok Cuma polosan?” tanya kak Liu.
            “Polos gimana kak maksudnya?” tanya Pey.
            “Gak ada aransemennya. Coba lagu ini diaransemen biar lolos waktu seleksi,” saran dari kak Liu. “Yaudah, kalian latihan lagi.”
            Kami berunding tentang aransemen dan juga nama untuk band kami. Setelah sepakat nama band kami Helium dan lagu kami diganti genre reggae.Ou mendaftarkan Helium dalam seleksi besok Sabtu.
            Seleksi semakin dekat dan kami semakin bersemangat. Disela latihan kami juga saling memberi masukan agar penampilan saat seleksi semakin bagus.
            Hari seleksi tiba. Setelah pulang sekolah kami berkumpul terlebih dahulu.
            “Nanti jam 1 di Connelo, ya. Jangan telat!” kata Ou.
            “Aku jemput jam 1, Ou,” kata Niu. Ou menyetujuinya.
            “Pokoknya jangan lupa bagian lagunya, ya. Vey terakhir reffnya dua kali,” aku mengingatkan kembali.
            “Oke, Io. Bajunya apa nanti?” tanya Vey.
            “Bebas, kok” jawab Pey.
            Kami pulang ke rumah masing-masing, dan segera berangkat ke Connelo. Ketika kami sudah kumpul di sana, kami menunggu pengumuman dari panitia.
            “Helium silahkan mengambil nomor urutan seleksi!” perintah panitia.
            Aku maju mengambil undian tersebut.
            “Dapat nomer berapa, Io?” tanya Vey.
            “Nomor 13,” jawabku.
            “Aduh, itu angka sial,” ujar Pey.

            “Jangan percaya gituan. Penting berdoa dulu sebelum seleksi,” jawab Jau dengan bijak. Kami menyetujui kata-kata Jau sambil tertawa.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search