24/05/2017

Lentera Kehidupan,Part.6

Lentera Kehidupan
(karya : Rosada Febytaduri )
CERPEN,Part.6
Aku membuka mata dan melihat sekeliling, semuanya terlihat buram. Hingga aku benar-benar memaksa diriku untuk mengingat apa yang telah terjadi. Aku melihat sosok putih, tinggi, kurus seperti Om Arif mendekatiku.
“Jenazah ayahmu akan dimakamkan besok, Nduk,” aku benar-benar tak kuasa mendengar ucapan Om Arif.”
“Sebenarnya ayah kenapa, Om?”
“Ayahmu sudah lima bulan ini mengidap diabetes akut. Bahkan kakinya yang sebelah kiri sudah tidak berfungsi lagi. Makanya beliau tidak pernah pulang. Disana dia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Seminggu yang lalu terakhir om kesana.”
“Kenapa sampai meninggal aku tidak pernah tau mengenai penyakit ayah, Om? Kenapa keterlaluan sekali? Kenapa aku tidak pernah diberi tahu? Kenapa ayah tidak dirawat disini saja?” tanyaku sambil menahan tangis.
“Ayahmu yang ingin dirawat di sana. Dia tidak mau kamu sama bunda tau mengenai ini. Kamu kan mau Ujian Nasional, takut kamu terganggu. Lagian bunda juga baru tau seminggu yang lalu mengenai penyakit ayah. Sekarang kamu doakan saja ya semoga nenek sama ayahmu tenang disana. Maafkan om, Nduk,” jawab Om Arif sambil memelukku dan menangis dengan raut sangat merasa bersalah.
Aku tak tahu ini sebuah kebetulan atau memang sudah garis takdirnya seperti ini. Ayah dan nenek sama-sama orang baik. Dan beliau sama-sama meninggal dihari yang sama, di hari Jumat. Dulu kakek juga meninggal di hari Jumat, tepat tiga tahun yang lalu. Dan sekarang di keluarga ini cuma aku dan bunda saja. Mereka meninggalkan kami dengan ribuan kenangan yang tak pernah bisa dilupakan. Aku bangga menjadi darah daging mereka, banyak cinta, tawa, dan duka pernah kita lukis bersama. Selamat jalan lenteraku, disini kuselalu memelukmu dari jauh melalui doaku. Semoga tenang di sana.
Lentera dalam kegelapan selalu menerangi setiap jiwa
Seperti embun yang selalu menyejukkan dunia
Lenteraku kini pergi..
Dia bukan lagi menerangi jiwa
Tugasnya kini selesai
Dia menyempurnakan jiwa yang sedang hampa
Aku selalu berharap dapat menggenggamnya

Hanya tuk sekedar melepas tawa

THE END

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search