23/05/2017

Lentera Kehidupan,Part.5

Lentera Kehidupan
(karya : Rosada Febytaduri )
CERPEN,Part.5
Seketika badanku terbujur lemas, entah bagaimana pemikiran ayah aku juga tidak paham. Padahal kukira ayah orang yang sangat berwibawa, namun kenyataannya ayah tidak demikian. Aku selalu berpikiran ayah di sana mempunyai wanita lain tapi bunda selalu menepis pikiranku tersebut. Aku menceritakan kepada bunda dan Om Arif tentang respon ayah mengenai berita ini. Dan mereka berdua tampak terkejut. Kemudian mulai berdiskusi tanpa sepengetahuanku. Tidak lama kemudian dokter memberi aba-aba untuk kami semua masuk kedalam ruang ICU. Aku sangat syok melihat keadaan nenek. Aku benar-benar histeris melihat nenek terpenggal-penggal menarik nafas. Badanku benar-benar bergemetar melihat nenek tersiksa seperti itu. Tidak, aku tidak mau kehilangan beliau. Kupeluk erat tubuhnya sambil berteriak histeris menahannya untuk tidak pergi. Namun bunda seketika menahanku untuk tidak seperti itu lagi. Bunda memintaku untuk mengikhlaskan dan membaca ayat kursi untuknya. Dan diujung ayat, aku melihat nenek tersenyum sambil meneteskan air matanya. Terlihat sangat cantik. Dan ternyata yang kulihat ini adalah senyuman terakhir nenek. Kupeluk lagi dan kucium dahinya untuk yang terakhir kalinya. Semua memang tak ada yang abadi, semua orang perlahan akan pergi, namun mereka semua meninggalkan kenangan untuk dikenang di hati.

Pemakaman nenek sangat sesak dipenuhi orang. Semasa hidupnya, beliau memang orang yang baik hati kepada semua orang. Namun aku tidak tahu pasti siapa yang dari tadi telah datang menyapaku, aku tidak fokus. Aku masih berduka atas kepergian nenek. Padahal, baru saja kemaren aku menemaninya menyulam di halaman belakang, dan sekarang dia sudah pergi. Diantara kerumunan tiba-tiba bunda menjerit histeris sambil kulihat memegang telepon. Firasatku tidak enak, aku sontak menghampirinya. Dia memelukku erat sambil menangis dan badannya lemas sekali. Aku bertanya berulang-ulang apa yang terjadi, namun tidak dijawab. Orang-orang disekitar tidak kalah panik denganku. Kudekatkan telepon yang masuk itu, dan kutanya lagi apa yang telah terjadi di seberang sana. Aku tidak begitu mendengarnya. Kusuruh mengulangi lagi. Kusuruh mengulangi lagi sekali. Dan beritanya ayahku meninggal. DEG! Rasanya terlempar batu meteor! Ini sungguh tidak nyata. Aku merasa sungguh tak nyata, rasanya badanku terbujur kaku dan semua pandanganku berubah menjadi hitam. Aku tak tahu apa yang terjadi.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search