22/05/2017

Lentera Kehidupan,Part.4

Lentera Kehidupan
(karya : Rosada Febytaduri )
CERPEN,Part.4


 “Iya kamu lurus aja nanti belok kiri, kita lewat gang,” jawab ibu.
Ketika kami datang petugas medis langsung bergegas membawa nenek ke UGD, walaupun terbilang hanya puskesmas namun pelayanan disini sangat lengkap. Bisa dibilang mini RS lah. Aku, Om Arif dan bunda menunggu di depan sambil tak berhenti berdoa untuk nenek. Dan beberapa saat kemudian bidan yang menangani nenek keluar dari ruangan mengabarkan bahwa nenek harus dirujuk ke rumah sakit. Katanya, penyakit nenek sudah stadium akhir sehingga sudah tidak memungkinkan lagi pihak puskesmas untuk menangani. Air mataku mengalir, begitupun bunda dan Om Arif yang padahal biasanya terlihat sangat tegar. Kami semua berpelukan erat berusaha saling menguatkan. Kami bergegas menuju rumah sakit rujukan, di sana dokter mengatakan bahwa nenek sudah kritis. Dadaku rasanya sesak mendengar itu. Aku tidak sanggup kehilangan nenek. Siapa nanti yang akan menemani bunda jika aku sekolah, siapa nanti yang akan menyanyi lagu keroncong tiap pagi dan sore hari, siapa nanti yang akan mengajariku menyulam. Semua itu hanya nenek yang bisa. Bergegas aku langsung menelpon ayah, karna ayah anak paling tua dari beliau.
“Assslamualaikum Yah, nenek sedang kritis. Ayah bisa pulang?”
 “Inalillahi.. sejak kapan Lun? Tapi ayah nggak bisa pulang.”
“Iya barusan, Yah. Luna sama bunda sama Om Arif sekarang sedang di rumah sakit. Kenapa ayah nggak bisa pulang?”
“Ayah masih banyak pekerjaan di sini, Lun.”
Seketika air mataku mengalir, rasanya sakit mendengar jawaban ayah. Padahal nenek sama sepertiku yang sangat merindukan kepulangan ayah, lagian sekarang nenek sudah kritis. Seharusnya tidak ada alasan lagi buat ayah nolak untuk pulang.
“Maaf ya Lun, ayah janji dari sini doain buat kesembuhan nenek.”
“Yah, tapi mungkin cuma sekarang kesempatan terakhir ayah ngelihat nenek. Dokter sudah tidak bisa bertindak, Yah.”
“Maaf Lun tapi ayah benar-benar tidak bisa,” suara ayah terdengar lemah.
“Ayah selalu ngomong tidak bisa dan tidak bisa terus ketika disuruh pulang bunda dari kemaren. Ini nenek, Yah yang sakit. Ibu ayah. Ayah kenapa seperti ini?”
“Ayah capek disini, Lun. Ayah tidak bisa pulang.”

“Secapek-capeknya harusnya disempatkan! Keluarga itu nomor satu. Terserah, Yah. Assalamualaikum.”

Besambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search