21/05/2017

Lentera Kehidupan,Part.3

Lentera Kehidupan
(karya : Rosada Febytaduri )
CERPEN,Part.3

Sekarang ini aku duduk dibangku kelas 3 SMP, dan 3 bulan lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional yang biasa dilaksanakan sebagai target kelulusan sekolah. Aku benar-benar menyiapkannya dengan matang dari jauh-jauh hari, namun semuanya kulakukan sendiri. Tak ada namanya bimbingan belajar tambahan di kamusku. Karena apa? Selain buang-buang uang dan menyita waktu, sistem belajarnya juga sangat tidak efektif bagiku. Ya kurang lebih begitu. Itu hanya opiniku. Kalau untuk masalah kelanjutan sekolah bunda dan ayah tidak memaksa aku harus masuk mana, intinya semua benar-benar diserahkan kepadaku.
“Luna, bisa bantu bunda, Nduk?” panggil bunda dari dapur.
Aku langsung bergegas menghampiri bunda di dapur. Dan betapa kagetnya di sana nenek berdiri sempoyongan sambil dipegangi bunda. Ku kira bunda memintaku untuk bantu bikin adonan kue atau apa, ternyata Bunda memintaku untuk bantu membawa nenek ke kamar. Nenek mengidap penyakit kanker payudara. Sudah lama penyakit itu dideritanya, kata dokter semakin lama penyakit tersebut akan menggerogoti tubuh nenek. Lagian usia nenek sudah 61 tahun. Dulu waktu aku SD seingatku nenek juga pernah dioperasi namun sepertinya dari operasi tersebut penyakit nenek tidak benar-benar sembuh. Dan selama tujuh tahun terakhir ini beliau berjuang melawan penyakit tersebut, beliau selalu hidup sehat dan sama sekali tidak pernah mengeluh sakit di depanku maupun ibu. Kata nenek, obat paling ampuh dari rasa sakit adalah tersenyum. Karena tersenyum adalah rahasia yang luar biasa dari Tuhan untuk meringankan beban apapun itu yang sedang dirasakan manusia. Dari situ juga aku belajar, nenek memang sudah banyak memberi pelajaran hidup yang sangat berharga.
“Lun, kamu telfon Om Arif ya suruh kesini.”
“Baik Bun.”
Dan tidak lama setelah aku menelfonnya, Om Arif datang. Dengan wajah panik melihat ibunya yang berkeringat dingin, wajahnya pucat dan terlihat tak berdaya Om Arif segera menggendongnya menuju mobil. Aku dan bundapun ikut. Selama perjalanan tidak ada kata yang perlu diperbincangkan, Om Arif hanya bertanya.

“Puskesmas nya lewat sini bisa, Mbak?”

Bersambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search