19/05/2017

Lentera Kehidupan,Part.1

Lentera Kehidupan
(karya : Rosada Febytaduri )
CERPEN, Part.1

Dari kejauhan kulihat nenek sedang asyik menyulam baju sambil komat-kamit memainkan nada keroncong andalannya.
Semua indah yang dilihatnya
Seakan di taman bunga
Burung dan kumbang senyum riang
Seakan mengetahui di dalam hatinya..
 Kuhampiri wanita tua itu, yang sedang asyik dari tadi. Nenek tersenyum melihatku yang mulai duduk di sampingnya. Setelah kudekati ternyata kusalah, nenek bukan sedang menyulam baju seperti yang ku kira, tetapi beliau sedang menyulam rok berwarna dusty pink cantik dengan hiasan bunga di depannya. Aku tertawa geli memperhatikan detail rok setengah jadi itu. Awalnya kukira itu rok untukku, ternyata bukan. Itu untuk nenek sendiri. Haha. Entah hal apa yang membangkitkan jiwa muda nenekku, semua ini terlihat sangat konyol.
“Nduk, kamu cah wedok ya harus bisa kalo cuma nyulam begini.”
“Tidak ah, aku tidak bakat bermain jarum seperti itu.”
“Kalo tidak bakat ya apa salahnya dicoba, siapa tau ternyata kamu mahir.”
“Tidaklah, Nek,” kataku jutek.
“Ya sudah nenek masuk dulu ya, mau mandi dulu.”

Setelah nenek pergi, semilir angin sore membawaku kembali terpaku. Kuamati sekeliling, sunyi, sepi, seakan angin mengabarkan bahwa dunia lagi enggan bersuara. Kunikmati senja yang semakin tenggelam, sambil merindukan sosok yang telah lama tak kulihat. Ayah. Iya, ayah dan aku terlibat hubungan jarak jauh, sudah hampir 8 bulan beliau tidak pulang. Beliau merantau di Kalimantan demi menghidupiku dan ibu. Aku tak tahu pasti pekerjaan ayah, karena yang kutahu pekerjaan ayah tak tetap. Beliau pernah bekerja sebagai sopir truk, beliau juga pernah bekerja sebagai pemasok sayur, buruh bangunan dan yang terakhir kudengar ayah bekerja di perusahaan teksil milik paman. Ayah memang orang yang pekerja keras dan serba bisa, begitupun dengan ibu, ibuku juga pekerja keras namun beliau hanya bekerja sebagai penjual kerupuk saja di rumah. Lumayan penghasilannya bisa untuk tambahan biaya sekolahku. Aku memang bangga sekali kepada keduanya, walaupun kami dari keluarga sesederhana ini namun aku selalu merasa kecukupan karena beliau berdua.

Bersambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search