03/05/2017

Embun Harapan Part.3

Embun Harapan 
Oleh : Hanifa Rizky R. (19)

Part.3
Cerpen
(23 Februari 2016)
            Hei? tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Tahun ini aku sudah duduk di bangku SMA. Aku sudah menginjak fase remajaku. Artinya aku sudah paham betul apa yang terjadi disekelilingku. Siang  ini, aku dan teman-temanku sedang menikmati makan siang di kelas.
            “Eh, Fay! Saiki10 tanggal piro11 ya?” tanya Tia kepadaku sembari mengunyah rotinya.
            Tia adalah teman dekatku di kelas. Kami duduk berdampingan diantara bangku kayu tua ini. Dia tipe anak yang suka lupa dan sedikit ceroboh.
            “Dasar, Tia! Mosok12 tanggal aja lupa,” celetuk Rosi sambil duduk di kursi sampingku.
            “Hehe maaf deh, Ros,” kata Tia sambil terkekeh.
            “ Sekarang itu tanggal 23 Februari.”
            “23 Februari? Eh, hampir lupa. Hari ini hari ulang tahun Ayahku,” gumamku dalam hati.
            Aku segera mengambil ponselku dan membuka salah satu media sosial yang tertera di sana. Sambil mengunyah santapan siang, jari-jariku bergerak dengan sendirinya mengetik tombol huruf di layar mini itu.
            “Aku harap, Ayah meresponnya dan membalas pesan ini,” pikirku penuh harap.
“Hi, Ayah selamat ulang tahun!! Semoga di hari spesialmu ini,
semua harapan yang telah Ayah impikan bisa tercapai. Aku tau Ayah sudah tidaklah muda seperti dulu lagi. Sehat selalu ya,Yah, dimudahkan rezekinya oleh Allah, berkah dunia
akhirat. Amiin : )xx Love –Safaya”
Lalu ku pilih tombol biru yang bertuliskan send. Ayahku jarang sekali merespon surat atau ucapan kecil dariku. Dahulu, aku pernah menuliskan kata-kata sederhana saat hari ayah dan mengirimnya di laman facebook –nama media sosial- milik ayah. Tak lupa aku menandainya diantara selipan kata-kata itu, dan realitanya tak ada secuil respon darinya. Sebenarnya aku tahu ayah telah membacanya. Seakan mendapat respon darinya adalah hal mustahil bodoh yang aku harapkan. Memang aku melakukan itu dengan tulus, tetapi setidaknya ucapan terima kasih masih bisa kudengar. Kuhela napas kesal dan kecewa, karena lagi-lagi ia hanya membacanya.
            “Tia, bolehkah aku pinjam ponselmu?” pintaku.
            “Ya tentu boleh dong,” Tia memberikan posel dengan senyum konyol andalannya.
            Tidak sengaja aku membaca pesan dari Ayah Tia.
“Sayang, pulsa yang papah kirim udah masuk apa belum?”
“Huh?” sontakku terkejut.
            “Wiih, Tia! Ayahmu memanggilmu sayang?” tanyaku
            “Ya, begitulah. Terkadang aku merasa geli dengan panggilan itu, haha. Ayahku tipe orang yang konyol. Ia suka memelukku dan tertawa bersama. Sangat aneh haha,” jawab Tia dan terkekeh.
            “Apa?! geli?! aneh?! Kau seharusnya patut bersyukur. Aku lho, nggak pernah mendengarnya memanggilku sayang, nak, dek, aarhh,” aku mulai frustasi jika mengingat hal itu.
            “Iya kah?” tanya Tia seakan tak percaya.
            “Iya, aku serius Tia. Bercanda, curhat, berbincang saja jarang.”
            “Kamu ini isa wae13, Fay!” ucap Tia.
*  * * *
            “Fay, tadi Ibu mendengar khutbah Jum’at dari radio. Ibu pikir temanya bagus, cocok dengan apa yang terjadi pada Ayahmu hah,” kata ibu sambil tersenyum getir.
            “Tak sedikit pun waktunya diluangkan hanya untuk mu dan kakak-kakakmu,” imbuhnya.
            “Iya kah? Hah.. Bu, aku seakan sudah bosan dan mungkin bisa dibilang itu cemilan sehari-hariku dengan hal bodoh itu. Sepertinya itu sudah menjadi kepribadian Ayah, semua hal ini telah terbukti, Bu. Tak habis pikir Mas yang menurutku bertindak seperti anak usia remaja, ya.. yang entah masih bingung dalam mengurusi masalah hidupnya. Padahal Ibu tahu sendiri kan? Ia sudah hampir 26 tahun, Bu, tetapi lihat problem sendiri saja sulit ia pecahkan. Mungkin itu menjadi salah satu penyebab kurangnya kedekatan sosok ayah dengan anak laki-lakinya,” jawabku lirih sambil menahan air mataku selagi mulutku masih bisa merangakai kata, walaupun saat itu mulutku mengunyah makan siangku.
            “Sebenarnya, Ibu merasa kecewa menikahi seorang pria seperti Ayahmu. Ibu merasa bersalah mendapatkan pendamping hidup yang, yaa... kau tau, sama sekali tidak seperti harapan Ibu, yang kaku atau canggung dengan anaknya, sehingga seakan-akan mereka takut hanya untuk berbicara saja, tetapi ibu tetap bersyukur dan menerima apa adanya, oh.. Ya Allah,” kata ibu dengan nada penyesalan.
            “Ya aku tau, Bu. Itu semua sudah menjadi bagian dari skenario Tuhan. Jadi, ya... ah sudahlah Bu, aku mau meletakkan piring di dapur dulu. Jangan terlalu dipikirkan, kalau ayah cuek aku juga bisa cuek dengannya,” aku beranjak dan berjalan menuju dapur untuk mencuci piringku.
            Setelah aku mencuci piringku, aku berjalan menuju kamar. Tempat dimana yang menjadi favoritku disaat aku bersedih, senang, tertawa, dan bermimpi di malam gelap. Hanya berbaring di atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar. Tanganku meraih sepasang earphone. Hanya lantunan lagu dari band favoritku yang bisa mengalihkan semuanya. Mataku mulai terpejam dan membayangkan, akankah ayahku bisa menjadi seseorang yang benar-benar berperan semestinya? Aku hanya tersenyum kecil dan membuka mataku.
            Ah, mustahil Fay, gumamku heran dengan apa yang aku pikirkan. Aku pikir, ia tidak akan berubah menjadi sebagaimana mestinya peran seorang ayah. Walaupun begitu, doaku akan senantiasa megalir untuknya. Harapan kecil cinta dan perhatian dari ayah selalu ada disetiap bait rangakaian doaku. Setengah ragaku percaya, suatu saat nanti akan ada keajaiban, kapanpun itu waktunya aku tidak akan pernah tahu, tetapi aku akan selalu ingat harapan kecil ini akan selalu menunggumu mengalirkan setitik embun cintamu Ayah, yang membawaku pada senyuman dunia baru.
*  * TAMAT * *
Catatan :
1. sing dadi : yang jadi
2. aja       : jangan
3. mbeta    : membawa
4. mas       : sebutan saudara laki-laki
5. mbak    : sebutan saudara perempuan
6. nggih    : ya
7. wis       : sudah
8. travel    : kendaraan sewa untuk bepergian
9. gedhe    : besar
10. saiki   : sekarang
11. piro    : berapa
12. mosok : masak (menyatakan kepastian)

13. isa wae: bisa  saja

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search