03/05/2017

Embun Harapan Part.2

Embun Harapan Part 2
Oleh : Hanifa Rizky R. (19)


Cerpen
(Seminggu kemudian)
“Fay, besok Ibu harus ke Malang, ngantar Masmu kembali kuliah,” kata Ibu.
“Lho, Bu! Kenapa harus diantar? Lha, aku di rumah sama siapa?”
            “Ibu harus mengantar Masmu kembali kuliah, kan Masmu baru pulih. Kamu di rumah saja sama Ayah. Lha wong cuma sebentar kok,” sambung ayahku dari dapur.
“Kapan Ibu berangkat?” Aku boleh ikut, Bu?” tanyaku kembali.
“Besok pagi naik travel8, mungkin seminggu Ibu sudah pulang,” kata Ibu sambil mengelus kepalaku.
“Nggak usah ikut, Fay. Wis to, di rumah saja, apa kamu ya nggak sekolah?” sahut Ayah.
            “Iya, Yah,” aku berjalan masuk kamar.
            Seminggu bersama ayah di rumah? Mungkin bagi orang lain akan terasa biasa atau bisa saja menyenangkan. Bagiku tidak. Aku jarang sekali berbicara dengannya, jika memang ada permasalahan penting atau saat memang kami benar-benar ingin bicara. Hari demi hari mulai berlalu. Sudah seminggu lebih ibu takkunjung pulang juga. Hari-hariku sangat membosankan. Ayahku tidak sekalipun menanyakan apa yang terjadi padaku. Aku ingin ibu pulang dan menemaniku saat malam. Aku merasa tidak nyaman tidur bersama ayah. Rasanya tidak hangat seperti saat aku tidur bersama ibu. Tanpa kusadari, air mata jatuh juga. Aku menangis, karena rindu ibu. Aku berusaha menangis sepelan mungkin, tetapi gagal.
            “Fay, kenapa kok nangis? Kamu ingin apa?” suara ayah mengejutkanku.
            “ E-enggak i-ingin a-apa ap-a,” kataku terpatah-patah.
            “Ya, sudah jangan nangis. Sudah gedhe9 kok nangis,” lalu pergi meninggalkanku.
            Aku  merasa ayahku memanjakanku dengan materi, tapi aku tidak membutuhkan itu. Aku hanya butuh setetes kepeduliannya. Aku ingin ia menjadi ayah yang peduli dan humoris terhadap anaknya. Bukan menjadi seorang ayah yang kaku dan cuek.
*  * * *
            Hari ini cuaca kurang bersemangat. Langit mendung dari pagi hingga senja. Hujan tak hentinya turun dari peraduannya. Aku hanya duduk di kursi ruang tamu sambil menatap langit senja yang perlahan mulai gelap. Hanya berhias kilatan cahaya dan air mata awan. Adzan maghrib telah berkumandang. Saatnya menghadap untuk beribadah kepada Sang Khaliq. Aku segera beranjak dan mengambil air wudhu.
            “Ibu, aku mau sholat berjamaan di musholla,” kataku.
            “Kamu nggak ngerti ini lagi hujan? Kalau mau ke musholla, sana bernagkat sama Ayah bawa payung.”
            “Eh nggak jadi, Bu,” kataku berbalik.
            “Lho, gimana to? Berangkat sama Ayahmu sendiri kok nggak mau. Dia itu ayahmu bukan orang lain.”
            “Ya sudah, Bu.”

            Bukannya aku tidak mau, tapi memang rasanya canggung untuk berjalan bersama ayah. Duh.. Bukan hanya aku saja yang merasakan kecanggungan, begitu juga kedua kakakku. Ayah hampir tak pernah meluangkan sedikit waktunya berkumpul bersama ketiga buah hatinya. Mendengar tawa atau lontaran kata diantara kami bertigapun jarang.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search