03/05/2017

Embun Harapan Part 1

Embun Harapan
Oleh : Hanifa Rizky R. (19)


Cerpen,Hidup sangatlah berarti bilamana masih memiliki sepasang malaikat. Keduanya saling melengkapi dalam mengiringi artinya kehidupan kita. Sangatlah lebih berarti saat keduanya masih lengkap dan tak pandang jarak satu sama lain. Dua malaikat dunia ini telah diciptakan oleh Tuhan dan memang ditujukan kepada makhluk-makhluk ingusan, polos, dan bahkan tidak tau sedikitpun makna kehidupan fana ini. Memberi kasih sayang dengan tulusnya, dan tak berharap setetes imbalan apapun. Mungkin, harapan atau hal yang bisa membuat rupa sumringahnya adalah kesuksesan kita di masa depan nanti.
            Masa-masa dimana kita tak tahu sedikitpun rahasia Tuhan, bahkan bisa disebut masa fatamorgana. Banyak sebutan manis dan bisa dibilang julukan yang pantas untuk memanggil sepasang malaikat dunia itu. Papa-mama, abi-umi, daddy-mommy, papi-mami, ayah-ibu, ayah-bunda, dan sebagainya. Bagiku mereka tetaplah malaikat dunia yang sudah ditakdirkan untuk mendampingi sisa kehidupan ini.
*  * * *
Perkenalkan namaku Safaya Fariha. Teman-teman dan keluargaku biasa memanggilku Fay atau Safa. Menjadi sebagian warga Indonesia membuat kebanggaan tersendiri bagiku. Kedua orang tuaku bahkan tak ada seciprat keturunan bule, cina, arab, atau negro. Aku lahir di Jawa, membuat logat bicara yang biasa kami gunakan sangat kental, apalagi di Jawa Timur. Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku begitu juga sebaliknya. Keduanya juga menyayangiku. Bagaimana tidak? aku lahir dan dibuat karena cinta, oleh sebab itulah tak salah bila mereka sangat menyayangi anaknya. Kepeduliannya sungguh berarti. Bukti apa lagi yang perlu ditunjukkan? Aku tak butuh bukti, karena semua bukti cinta, kasih, dan sayangnya yang tulus telah tumpah di ragaku. Ya, entah mengapa ada yang kurang dibalik semua kesempurnaan itu. Mungkin aku bukanlah orang satu-satunya yang mengalaminya.
Kedekatan atau relasiku antara orang tua dengan buah hati adalah hal yang lumrah dan sebenarnya memang sepatutnya itu terjadi. Aku memang dekat dengan keduanya, tapi aku paling dekat dengan ibuku. Sejak orok hingga remaja ini. Ibulah yang paling dekat denganku. Hingga dulu waktu kecil, saudara perempuanku menjulukiku “anak mama”. Wajar, memang aku anak terakhir dari tiga bersaudara. Entah mengapa sama sekali aku tidak pernah dekat dengan ayahku. Aku juga bingung mengapa ini bisa terjadi. Apakah ini hanya perasaan semu? Atau memang nyata?
*  * * *
“Fay, kamu sing dadi1 !” teriak Ema sambil menunjuk ke arahku.
Aja2 ngintip lho, Fay, hitung siji sampai sepuluh!” sahut Nisa.
“Iya! Siap ya, siji...loro...telu...” aku mulai menghitung dengan menutup mataku di muka dinding musholla dekat rumahku. Malam itu, aku dan kedua teman kecilku bermain petak umpet atau kami biasa menyebutnya dalam bahasa jawa obak delik. Keseruan semakin memuncak disaat aku mulai mencari kedua temanku itu. Berjalan dengan perlahan dan mengendap-endap bak pencuri yang mencari barang berharga. Mulai dari sudut almari kayu hingga bilik adzan aku intip satu-persatu.
Terlihat di sudut pintu masuk musholla bulatan kepala berambut keriting. Sedikit demi sedikit dan perlahan langkahku mendekati gadis itu.
“Haaa! Nisa ka“ teriakanku terpotong oleh suara yang memanggilku. Suara perempuan dari luar musholla itu sangat aku kenali. Rupanya ibuku. Ada apa gerangan ibu memanggilku? Bukannya ia telah memberiku izin untuk bermain sepuasku saat malam minggu? Aku menoleh ke arah dimana ibu berdiri dengan membawa tas besar?
“Ada apa, Bu? Mengapa Ibu mbeta3 tas besar itu?” tanyaku semakin panik ditambah napasku yang tersengal-sengal akibat berteriak terlalu keras.
“Dengar ya, Fay. Ibu harus ke rumah sakit. Mas4 mu itu sakit demam berdarah, Ibu harus ke sana nungguin Mas mu. Kamu di rumah dulu ya, sebentar lagi Ayah pulang dari rumah sakit,” dengan wajah sedih bercampur khawatir, ibu berkata padaku.
“Lha, Mbak5 dimana, Bu?” tanyaku gugup.
“Ada di rumah, sudah sekarang kamu pulang dulu,” pintanya.
“Baik, Bu. Hati-hati nggih6?”
“Iya, Fay,” kemudian pergi selagi menenteng tas besar di pundak kirinya.
“Ada apa, Fay?” Ema penasaran.
“Masku sakit demam berdarah. Aku disuruh pulang,” jawabku pelan.
“ Ya Allah, ya wis7 besok kita main lagi. Sabar ya,Fay,” sahut Ema sambil menepuk pundakku.
“Ayo, Nis kita pulang,” ajakku.
“Iya, ayo.”
*  * * *
Bersambung

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search