04/05/2017

Awal Perjuangan PART 2

Awal Perjuangan  
Oleh : Ilham Yusuf Bachtiar

CERPEN,Part 2
Kost Widya tak terlalu besar, ada sekitar enam kamar yang masing-masing kamar sanggup ditempati satu anak saja. Namun, sangatlah cukup jika hanya sekedar digunakan menginap dan belajar. Kamarnya terletak di lantai 2 di setiap kamar ada jendela menghadap ke jalan raya. Jadi, orang bisa melihat sedikit suasana kamarnya. Warna semua kamar di kostnya sama yaitu biru. Cukup simpel, namun entah kenapa berkesan elegan karena ditambah aksesoris pendukung seperti bingkai foto, jam dinding, wall sticker dll. Halaman kostnya juga kecil, namun ada taman kecil dan kolam ikan di pojok dekat tembok yang membuat kesan indah. Apalagi ada pohon mangga yang cukup besar yang membuat halaman cukup teduh dan rindang.
Cukup lama menanti dan mengamati keadaan sekitar, Widya pun turun dan keluar menemuiku.
“Hai, Doni. Ada tujuan apa kamu datang malem-malem kesini?” Widya membuka percakapan.
“Sebenarnya aku ingin meminta bantuan padamu.Bersediakah kamu membantuku menuliskan beberapa kata di  kertas manila ini. Tak banyak, namun aku tak bisa menulis dengan bagus. Jadi, aku memintamu bantuan karena hanya kamu temanku yang mempunyai tulisan yang bagus.” Jawab Doni tanpa basa-basi.
“Hmmm... Bagaimana ya, bukannya aku menolak sih. Namun, aku juga masih ada kerjaan yang harus dikumpulkan besok atau aku harus dimarahi guruku.” Terang Widya.
“Kalau boleh tahu tugas apa yang harus kamu kerjakan?” tanya Doni.
“Tugas Matematika. Ya, membuat sistem persamaan linier dua variebel dengan grafiknya. Tak banyak juga sih namun aku masih bingung dengan materi itu jadi aku harus belajar terlebih dahulu.”
“Wah kebetulan sekali aku baru belajar dan mengerjakan soal tadi, jadi sedikit banyak aku paham tentang materi ini. Bagaimana jika kamu menuliskan visi misi untukku dan aku mengerjakan pr mu?” sahut Doni dengan antusias.
“Boleh juga tuh, baiklah aku akan mengambil buku pr ku dan bolpoin untuk menuliskan visi misimu.” Widya segera beranjak naik ke tangga untuk mengambil bukunya.
            Keesokan harinya, Doni berangkat sekolah dengan wajah percaya diri. Ia segera menempel pamflet di mading sekolahnya. Pamflet yang berisi nama, kelas, motto, visi dan beberapa misi yang ditulis dengan sangat bagus dan berkesan rapi. Widya pun juga senang karena membawa pekerjaan yang sudah selesai dan siap untuk dikumpulkan.
            Hari yang ditunggu pun tiba. Kandidatnya adalah Bobi anak berbadan besar dan memiliki wajah yang garang namun terkadang sifatnya seperti anak-anak yang masih seringkali berbicara layaknya anak-anak saat itu. Rizky berkulit hitam, tinggi, cukup cerdas namun dia kurang peduli dengan lingkungannya karena keegoisannya jika ia sudah pandai dan mampu melakukannya sendirian. Terakhir, Dina satu-satunya perempuan yang mencalonkan diri menjadi Ketua Osis. Sifatnya yang peduli terhadap sesama namun dia sering kali membelenggu apa yang menjadi keinginannya jadi sering kali ia malu untuk mengatakan kebenaran dan hanya bercerita kepada sahabatnya. Masing-masing kelas dipanggil sesuai urutan kelasnya untuk memilih layaknya pemilu untuk memilih Kepala Daerah. Doni pun turut memilih para calon Ketua OSIS. Namun, anehnya ia tidak mencoblos dirinya sendiri. Entah mengapa demikian, mungkin dia menganggap bahwa orang inilah yang pantas menjadi Ketua OSIS berkat kinerja selama satu tahun bersama yang mereka lalui.
            Hingga saatnya perhitungan suara tiba. Hatinya berdebar sangat hebat, bahkan setelah orasi ia hanya duduk termenung di salah satu sudut baca di sekolahnya tanpa ada kata sedikitpun. Kertas suara sedikit demi sedikit dihitung, hatinya semakin berdebar kencang. Pada dapil satu ia tertinggal cukup jauh dengan Bobi. Karena Bobi suka bercanda sehingga adik kelas banyak yang tertarik dengannya. Dapil dua mulai dihitung, ia semakin mendekat dengan Bobi dan pada kertas terakhir ia berhasil melewati Bobi dengan selisih beberapa angka. Dapil tiga dihitung, inilah penentuan siapa yang akan menjadi Ketua OSIS. Satu persatu kertas pun mulai dihitung nilai Doni dengan Bobi saling berkejaran hingga menjadi sama dan diambilah kertas terakhir yang akan menentukan. Kertas dibuka dan ternyata foto Doni yang berlubang, jadi Doni terpilih menjadi Ketua Osis. Semua kandidat saling berpelukan dan memberi selamat kepada Doni. Doni menangis terharu setelah kejadian tersebut.

Suatu pengorbanan yang tidak sia-sia. Ia sadar bahwa ketika kita rela berkorban kepada orang lain tentu Allah akan membalas pengorbanan kita tersebut. Namun, Doni sadar tugas berat menantinya dan inilah awal perjuangannya dimulai. 

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search