10/04/2017

Untung Tak Dapat Digayuh Sial Tak Mau Menjauh

Untung Tak Dapat Digayuh Sial Tak Mau Menjauh
Oleh Faza Rashif

            Sore itu, Faza, murid yang duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, terbaring lemah di kamar sempitnya. Ia meratapi nasib buruk yang hari ini menimpanya. Dengan wajah yang bengkak dan tubuh penuh luka, ia terdiam sambil sesekali merintih kesakitan.
            “Faza, bagaimana keadaanmu? apakah masih sakit?” tanya mama dari dapur.
            “Sudah agak mendingan  kok, Ma,” jawab Faza, walaupun rasa nyeri masih menjalari tubuhnya.
            Sambil membenarkan posisi tidurnya yang terlentang, ia menatap langit-langit kamar. Langit langit yang kusam berwarna abu-abu itu mencerminkan keadaan hatinya saat ini. Pikirannya kacau balau, walaupun logikanya masih berfungsi sebagaimana mestinya. Ia pun mengingat-ingat kembali rentetan kejadian buruk yang menimpanya tadi pagi.
            Pagi itu, Faza hendak berangkat les sekaligus sekolah. Di sekolah Faza yang sistem masuk sekolahnya siang itu, mempunyai kurikulum yang cukup sulit, sehingga membuat siswanya dianjurkan mengikuti les di guru-guru tertentu. Setelah mandi, sarapan, dan bersiap-siap, Faza pun pamit kepada mamanya.
            “Ma, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” pamit Faza.
            Mama pun menjawab,”Waalaikumsalam, hati-hati di jalan ya, Za.”
            Setelah pamit kepada orang tuanya, Faza pun berangkat les yang berada di rumah gurunya menaiki sepeda abu-abu kesayangannya.
            Setelah sampai di rumah gurunya, Faza pun belajar bersama teman-temannya. Faza yang saat itu bercita-cita ingin menjadi dokter, belajar sungguh-sungguh, karena ia menyadari bahwa untuk menggapai cita-citanya tersebut, jalan yang harus ia jalani tidaklah mudah. Setelah jam les berakhir, ia pun bersiap berangkat ke sekolah. Setelah berpamitan kepada gurunya, ia pergi ke sekolah menaiki sepeda ontelnya.
            Faza mengayuh sepedanya dengan santai penuh wibawa dan menikmatinya. Semilir angin yang berhembus melewati tubuhnya, memberikan sensasi tersendiri bagi pengguna sepeda sepertinya. Saat mengetahui dirinya hampir sampai di sekolahnya, ia mempercepat kayuhan sepedanya. Angin yang tadinya bertiup lembut mengusap rambutnya, kini menjadi angin ganas yang mengacak-acak rambut lebatnya tersebut.
            Saat di depan sekolah, Faza yang mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi tersebut langsung membelokkan sepedanya, yang berada di seberang jalan, tanpa menoleh kebelakang untuk melihat adakah kendaraan yang sedang melintas. Karena kecerobohannya itu, ia tidak sadar di belakangnya ada bapak-bapak yang mengendarai sepeda motor berkecepatan sedang.
Tabrakan pun tak dapat dihindarkan. Bapak-bapak tersebut tidak bisa menyeimbangkan sepeda motornya dan akhirnya terjatuh ke tanah. Naasnya, Faza terlempar dari sepedanya dan terjatuh ke jalan sembari mulutnya terbuka lebar mencium aspal. Kakinya bergesekan dengan aspal yang membuat goresan cukup dalam di lututnya. Butuh waktu beberapa detik bagi Faza untuk mencerna kejadian apa yang barusan menimpanya.
Mendengar suara tabrakan, para pedagang kaki lima yang berjualan di depan sekolah, dengan sigap meninggalkan barang dagangannya untuk menolong korban kecelakaan tersebut. Sebagian pedagang membantu bapak-bapak untuk berdiri dan menuntunnya ke tepi jalan, sebagian lainya membantu Faza, yang sedang menangis, berdiri dan memapahnya ke trotoar.
“Kamu tidak apa-apa, Dik?” tanya salah satu pedagang
“Saya ndak apa-apa, hiks.” jawab Faza dengan ketus karena menganggap pertanyaan yang dilontarkan kepadanya sangat tidak logis mengetahui bahwa yang ditanya baru saja mengalami kecelakaan.
Faza pun diantar oleh pedagang tersebut ke sekolah untuk diserahkan ke gurunya dengan memapahnya perlahan. Guru Faza pun dibuat terkejut melihat salah satu anak didiknya bersimbah darah. Tanpa diberi komando, Guru tersebut mengambil sepeda motornya yang terparkir di samping ruang basement. Faza pun diantar oleh gurunya ke Puskesmas Wisma Indah tempat mamanya bekerja.
Sesampainya di puskesmas, Faza langsung diberi perawatan darurat oleh petugas puskesmas. Petugas membersihkan kotoran dan debu di sekitar luka dan disusul dengan memberikan antiseptik, yang Faza sangat membenci baunya, ke luka Faza. Guru yang mengantar Faza menjelaskan panjang lebar runtutan kenjadian yang menimpa Faza yang membuat anaknya menjadi seperti ini. Setelah diberi perawatan, Faza pun diantar ke rumah dan beristirahat.
Ketukan jarum detik jam dinding di kamar menyadarkan Faza atas lamunannya.
Pandangannya tetap tertuju pada abu-abu langit-langit kamarnya. Bau masakan mamanya yang menyelinap masuk ke kamarnya membuat penghuni perutnya berteriak meminta untuk diisi.
            “Faza, ayo makan dulu. Ini masakannya sudah jadi.” sahut mama dari dapur.
            Faza pun mengiyakan ajakan mamanya untuk makan “Iya, Ma.”
            Suara bising sepeda motor yang melintas di depan rumahnya membuat risih telinga Faza. Berbicara tentang hal itu, Faza pun tersadar akan hal penting yang belum terpikirkan sejak kecelakaan tadi pagi, Hal kompleks yang bisa membuat hidupnya tambah runyam, Hal utama yang dapat melengkapi runtutan nasib sial yang menimpanya,
“Kemana perginya sepeda ontel abu-abu ku tersayang?”





Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search