08/04/2017

Sehelai Asa yang Tak Datang

Sehelai Asa yang Tak Datang
Oleh: Erika Renka Wiandra

Matahari telah menyilaukan pandanganku, tetapi bel sekolah tak kunjung berbunyi, kupandangi langit dari jendela kelasku, saat yang paling kubenci akan tiba, dimana aku melewati gerbang sekolah untuk pulang.
            “Ris, bel udah bunyi tuh, pulang yuk,” kata Mellan teman sebangkuku.
            “Oh iya, yuk Mel,” sambil tersenyum tipis aku membereskan bukuku.
            Lagi-lagi perasaan itu muncul, perasaan yang bertahun-tahun tak terjawab. Menjadi gadis kecil yang bermimpi seorang malaikat pelindung melengkapi keluarganya lagi. Pandangan terasa kosong, hati tak mampu merasakan goresan luka yang selama ini tertanam dalam, melihat teman-temanku dijemput sekolah oleh ayahnya. “Bagaimanakah rasanya?” Hati kecilku selalu berkata seperti itu. Sebelum air mataku menetes, aku mengalihkan pandangan dan berjalan menghampiri ibu yang sudah lama menunggu untuk menjemputku.
Sesampainya di rumah aku bertanya kepada ibu “Bu, kapan ayah bisa menjemputku sekolah?”
            “Kenapa kamu berbicara seperti itu, Nak?”
            “Aku melihat banyak temanku yang dijemput ayahnya, Bu,” kataku pelan.
            “Ibu mengerti perasaanmu, Nak, jika tidak karena kamu dan adikmu, mungkin ibu tak sekuat sekarang ini,” kata ibu sambil menahan air matanya.
            Aku tak pernah menyadari bahwa ibu satu satunya orang yang memikul beban sangat berat, ia berusaha keras menutupi kesedihannya, sampai aku tak memikirkan apa yang ia rasakan selama 8 tahun ini.
            “Maaf Bu, tak seharusnya aku menanyakan hal seperti itu.”
            Ibu hanya tersenyum tipis dan mengusap rambut panjangku. Keadaan seperti ini selalu mengingatkan aku pada kejadian itu, dimana usiaku masih 4 tahun. Tengah malam itu, aku dan keluargaku terbangun mendengar ketukan pintu, banyak sekali teman ayahku yang datang ke rumahku. Awalnya semua keluargaku kebingungan, tapi tiba-tiba ibuku pingsan dan semua orang menangis. Aku tak mengerti apa yang terjadi, aku hanya duduk dipangkuan pamanku, dan adikku yang baru berumur beberapa minggu digendong oleh bibiku.
            Keesokan harinya banyak sekali orang di rumahku, semuanya berkumpul tapi tak sedikit pun aku melihat ayahku. Saat itu aku keheranan, karena aku melihat peti yang sangat besar. Kata orang, peti itu tak boleh dilihat oleh anak seusiaku. Suara tembakan pun semakin membuatku tersenyum senang, kubanggakan  pekerjaan ayahku di depan teman-teman masa kecilku itu, sampai tak kusadari, aku tak lagi melihat ayahku pulang.
            Bertahun-tahun aku bertanya kepada ibu, “Ayah kemana, Bu?”
            Ibu hanya menjawab, “Ayahmu sedang bekerja, Nak.”
            Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, aku selalu menanyakan hal yang sama, dan selama itu pun ibu selalu menjawab dengan perkataan yang sama. Sampai saatnya aku berumur 7 tahun. Saat itu, aku sedang berbicang-bincang dengan ibu, membuka album kenangan yang menceritakan masa kecilku. Aku terdiam melihat salah satu foto di album itu, rindu rasanya digendong ayahku, bermain petak umpet selagi ayah pulang kerja. “Bu, ayah kapan pulang?” tanyaku.
            “Nak, dengar ibu baik-baik ya, ayahmu sudah pulang tapi kamu tak mengetahuinya, ayahmu selalu melihatmu tapi kamu tak melihatnya”
            “Maksud ibu apa?” tanyaku lagi.
            “ Ayahmu sudah tenang disisi Allah, Nak,” tegas ibu.
            “Jadi selama ini ayah sudah meninggal, Bu?” kupeluk erat tubuh ibu, entah cobaan apa yang kuterima saat ini, semua terasa begitu menyakitkan, tak ada celah untuk melihatnya lagi.
            Yang aku tau sejak saat itu, ayahku meninggal terkena tsunami di Aceh pada tahun 2004. Waktu itu ayah sedang menyelamatkan seorang anak, ya.... memang sudah tugas ayahku sebagai TNI-AL. Selalu pergi dinas dengan waktu yang lama, karena itu, aku selalu mempercayai ibu ketika ibu berkata ayah sedang bekerja. Itulah jawaban dari pertanyaanku selama ini, jawaban dari rasa rinduku pada ayahku. Seringkali aku berpikir “Bagaimana bisa ayah secepat itu meninggalkanku? Bagaimana bisa aku hidup tanpa seorang ayah? Bagaimana jika teman-temanku di sekolah memperbincangkan keseruan mereka dengan ayahnya? Apa yang harus aku ceritakan? Apa aku harus diam dan hanya mendengarkan? Diusia sekecil itu aku belum puas merasakan kasih sayang seorang ayah, aku belum bisa bercerita betapa dekatnya aku dengan ayahku, aku ingin ayah menjemputku sekolah, aku ingin makan bersama ayah, aku ingin jalan-jalan bersama ayah, aku ingin dinasehati ayah, aku ingin memeluk ayah, aku ingin ayah memarahiku disaat aku melakukan kesalahan, bahkan aku belum pernah mengatakan betapa sayangnya aku pada ayah, betapa aku membutuhkan bimbingan seorang ayah, aku lupa rasanya kasih sayang seorang ayah, aku ingin melakukan hal yang biasa dilakukan temanku dengan ayahnya.”
Betapa besar harapanku untuk itu, tapi aku masih beruntung, masih sempat bertemu dan berbicara langsung dengan ayah, walaupun saat ini aku tak bisa mengingatnya. Adikku yang saat itu baru terlahir ke dunia harus kehilangan kasih sayang seorang ayah, sama sekali ia tak pernah merasakannya. Untuk mengetahui wajah ayahku pun, ia hanya bisa menatap fotonya. Ibu yang baru saja melahirkan harus terpukul atas kejadian itu. Begitu banyak cerita yang dituliskan Tuhan untukku.
“Nak, ganti baju dulu, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” ibu membangunkan aku dari kenangan pahit itu.
“Iya Bu, Risya ganti baju dulu,” kataku sambil berjalan ke kamar.

Memang keluarga yang utuh adalah dambaan semua orang, tapi kita tidak mungkin bisa menyalahi takdir Tuhan, bahwa semua akan kembali kepada-Nya. Bila kehidupan adalah sebuah rantai sepeda, mungkin ada saatnya rantai itu putus dan kita harus mencoba memperbaikinya, atau bahkan menggantinya dengan rantai yang baru. Dikehidupanku yang sekarang, aku mulai mengerti apa artinya sebuah keluarga, bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan dan selalu mensyukuri apa pun yang Tuhan berikan padaku.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search