05/04/2017

Sayapku yang Hilang

                                                    Sayapku yang Hilang
                                                  Oleh : Elza Dian Siswanto

                      Cerpen,Jika manusia adalah tokoh dalam skenario Tuhan, maka baru saat inilah aku benar- benar memahami amanat yang terkandung dalam skenario tersebut. Ketika hati dan pikiran selalu beradu dalam argumennya, ketika angan dan lisan yang tak pernah sejalan. Akupun paham bahwa inilah kehidupan yang sebenarnya. Yang sudah barang tentu ada yang mengatur yaitu Tuhan. Tapi, aku juga tak tahu, apakah ini memang benar jalan untukku? Terkadang, akupun sering mempertanyakan hal itu. Apa benar seperti ini ,Tuhan? Apa benar seberat ini? Terlintas lagi dipikiranku kejadian itu lagi.
****
            Siang itu, aku ingat betul. Hari itu hari libur nasional, tepatnya karena memperingati imlek (19 Februari 2015). Tentu sekolahkupun ikut libur. Pukul 11.00 aku bersama keluargaku, ayah, ibu dan adik pergi menuju rumah sanak saudara yang sedang mempunyai hajatan perkawinan. Ya, membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari rumahku untuk bisa sampai di tempat itu. Setelah beberapa menit istirahat di rumah saudaraku,ayahku,sang malaikat tanpa sayapku mengeluh sakit di dadanya. Keringat mengucur deras di wajah dan sekujur tubuhnya.
            Panik? Jangan pertanyakan lagi hal itu. Cemas, gelisah,takut,kasihan. Semua rasa campur aduk saat itu. Karena hari itu hari libur, jadi dipastikan dokterpun tutup. Sambil menunggu ambulance datang, saudaraku memanggilkan tukang pijit untuk sekadar melihat kondisi ayahku saat itu. Tak lama, akhirnya saudarakupun juga telah berhasil mendatangkan dokter yang bersedia membantu ayahku. Tapi apa kata dokter? Dengan iringan tangis dan jerit yang sejadi-jadinya, dokter mengatakan malaikatku itu telah meinggal 10 menit yang lalu. Tak ada yang mengetahui, kami hanya mengira ayah tertidur saat itu. Ayah meninggal  dipangkuanku dan pangkuan ibu.
Menangis? Sedikitpun aku tak bisa meneteskan air mata saat itu. Hanya hampa. Ya, hampa. Antara percaya dan tidak percaya mengalami kondisi seperti itu. “Apa ini,Tuhan? Jika mimpi, segera bangunkan aku dari mimpi yang buruk ini,” gumamku dalam hati.
“ Kak, ayah sudah pergi,” ibu coba ingin menjelaskan dengan isak tangisnya. Belum sempat kata itu selesai, ibu kembali berteriak histeris. Aku hanya bisa terdiam, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kulihat pula tak ada satupun orang yang tak histeris saat itu. Aku bagaikan debu yang melayang-layang, terombang-ambing terhempas badai saat itu, kering, panas, hampa dan pasrah.
Kulihat di sudut sana, sosok pria kecil kebanggaan keluargaku, malaikat kecilku sedang tertunduk lemas tak berdaya. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku benar benar tak tega melihatnya seperti itu. Diumurnya yang belum genap 9 tahun, dia harus rela kehilangan kasih sayang seorang ayah.
“Adik yang kuat ya, Kakak ada disini untuk Adik. Disini masih ada ibu dan kakak. Doakan ayah ya, agar selalu baik disana,” ucapku lirih kepada malaikat kecilku.
“ Kakak nggak usah nangis, adik disini juga ada untuk kakak. Kata guruku ngaji, kalau kita nangis nanti kasihan ayah,”jawab adikku sembari mengusap serpihan air mata yang tak bisa kutahan lagi. Aku benar-benar tak menyangka, adikku yang masih kecil bisa berkata demikian.
Segera ku beralih sambil mengecup kening adik kesayanganku satu itu. Segera pula ku lantunkan surat Yasiin untuk ayahku tercinta, dengan harap ini bisa membantu memudahkan ayah menuju hadapan sang khaliq. Tapi aku tak kuasa menghabiskan lantunan bacaan Yasiinku, air mataku kembali menetes dengan deras. Ku kecup kening ayahku. “Ayah, kakak ikhlas jika Ayah harus pergi saat ini juga. Semoga Ayah selalu dimudahkan jalannya, diampuni dosa-dosanya dan semoga Ayah selalu baik ya disana. Disini, kakak selalu mendoakan Ayah. Meskipun raga ayah tak akan pernah lagi bersamaku, tapi aku yakin jiwa Ayah akan selalu bersama ku, setiap waktu. Semoga kakak bisa menjadi apa yang Ayah harapkan. Ayah tenang ya disana. Kakak sayang Ayah  kusudahi kecupan terakhir ku untuk Ayah.
Sampai prosesi pemakaman ayah selesai, aku tak pernah lepas dari sisi ayah. Selalu menemani dan mendoakan. Meskipun saat itu ayah tak berkata apapun, tapi lagi-lagi aku yakin ayah bisa melihatku. Melihatku menjadi gadis yang kuat yang selalu ada untuk ayah.
Mulai dari memandikan, menemani semalaman dirumah sampai terlelap disamping ayah. Karena pada saat itu keluarga sepakat ayah akan dimakamkan keesokan harinya karena menunggu nenek(ibu dari ayah) dan sanak saudara lain. Tepat ketika ayah dimasukkan ke liang lahat, tiba tiba saja pandanganku langsung kabur dan aku tak kuat lagi saat itu. Dadaku terasa sesak dan kepalaku pening. Aku merasa sedang dibopong oleh sahabat-sahabat ayahku, dan membawaku pulang.
Ketika aku membuka mata, kulihat ibu masih histeris tak karuan. Sudah sehari semalam ibu tak pernah mau untuk membuka matanya, hanya bisa menangis dan meronta. Ingin sekali kudekati ibu, tapi aku tak tega. Aku tak tega melihatnya. Aku tau, ibu pasti belum rela menerima kepergian ayah.
Sembari duduk lunglai, kembali ku yakinkan pada diriku. Ada apa ini? Apa benar-benar terjadi?. Aku menjerit, histeris sejadi-jadinya setelah pemakaman ayah. Aku menjadi menangis tak terkendali. Aku benar benar baru merasa kehilangan. Aku baru benar-benar merasa terpukul ternyata ayah sudah tidak ada? Aku bak orang gila saat itu, teriak, diam, teriak, diam. Terus saja seperti itu.
****
            Sejujurnya aku tak sanggup mengingat hal itu kembali, tapi hal itu sering sekali membayangi fikiranku, mengusik hari- hariku. Ayah, diusia yang baru 39 tahun dan baru saja beberapa hari merayakan hari kelahirannya pada tanggal 06 Januari lalu. Kini benar-benar pergi dariku. Tak akan ada lagi senyumanmu, tak akan ada lagi tawamu, tak akan ada lagi nasehatmu, tak akan ada lagi marahmu ketika aku berbuat salah, tak akan ada lagi tempatku berbagi cerita, tak akan ada lagi yang menemaniku belajar, tak akan ada lagi cerita tentang asiknya bersama Ayah yang biasa ku ceritakan pada teman- temanku dan tak akan ada lagi yang ku sebut “Ayah”.
            Sekarang, semua benar-benar berbeda. Yah, sekarang kakak sudah masuk SMA. Sudah kelas 11, yah. Kakak tak sama lagi dengan dulu, yang bisanya hanya merengek dan meminta, sekarang kakak sudah bisa hidup mandiri setelah kepergian ayah. Kakak sudah bisa merasakan gimana sulitnya mencari uang, dan kakak juga udah busa merasakan gimana sakitnya ketika temen temen kakak dengan semangatnya menceritakan liburan dengan ayah mereka .Tapi kakak tetap bangga, mempunyai ayah sepertimu, yang tak pernah mengeluh, bekerja keras, cerdas, pantang menyerah. Nanti suatu saat, ketika aku sudah mejadi apa yang yah harapkan, aku akan mengatakan pada dunia bahwa aku mempunyai motivator hebat dalam hidupku yaitu, Ayah.
            Sayangi orang tua kita selagi mereka masih diberi nafas untuk tetap bisa bersama kita sampai saat ini, kita akan baru menyadari bahwa betapa nikmatnya bisa berkumpul dengan keluarga yang lengkap ketika orang tuamu sudah tak disampingmu lagi.
Tuhan, sampaikan salam rinduku ini untuk malaikat tanpa sayapku.

Oleh : Elza Dian Siswanto
SMAN 1 BOJONEGORO

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search