04/04/2017

Pindah Part.2

Pindah Part.2
CERPEN


Ponsel ayah Rio terus saja berbunyi . Tentu saja hal itu membuat ayah Rio semakin gugup padahal kakek sudah memperingatkan agar ayah Rio tidak terburu buru. Tapi demi menghindari omelan suami kakak iparnya itu ayah Rio segera menjemputnya. Tak berselang lama ayah Rio sampai di stasiun, nampak dari kejauhan keluarga kakak iparnya menunggu di lobby stasiun segerah ayah Rio memarkirkan mobil dan menghampiri mereka. Manulang selaku suami kakak iparnya yang melihat ayah Rio menghampirinya segera meluncurkan ribuan omelannya karena keterlambatan ayah Rio. Dengan berang ia meneriaki ayah Rio.
" Dari mana saja kamu? Disuruh jemput jam dua ya jam dua, malah datang jam segini, gak tau ya kita nunggu di sini berapa lama? Huh?" Ujar Manulang tanpa koma.
" Maaf mas tadi disuruh sahur dulu sama kakek," bela ayah Rio.
" Enak ya situ makan makan , lha kita nungguin sambil kelaperan, badan capek pengen tidur, eh situ malah enak enakan makan,"caci Manulang.
Ayah Rio hanya bisa terdiam ia juga merasa bersalah karena tidak segera menjemput keluarga kakaknya, ia malah mementingkan makan sahur.
" Sudalah bapak paklik kan menjalankan ibadah sesuai agamanya seharusnya kita bisa mentoleransinya, dulu kan mama juga gitu, " ujar anak Manulang yang tertua yang diketahui namanya Richardo.
" Jangan sok tau kamu Fo, kamu gak capek apa nunggu?" Ujar Manulang kemudian.
" Sudah sudah.... sebaiknya kita segera masuk mobil,"ujar Wanti selaku kakak ipar ayah Rio.
"Anu... saya mohon ijin mau salat subuh dulu mas," pinta ayah Rio sambil memelas.
"Bah, apa pula ini, enak betul kau rupanya, sudah subuh di ruham saja kau, badan sudah pegal, lapar juga perut ini," kata manulang.
"Sudahlah Pak, kalo nanti sampai rumah pasit sudah kesiangan, sudah habis batas waktunya, kasihan paklik," bela Richardo.
"Paham betul kau Do, mau masuk islam rupanya kau?" Ejek ayah Richardo sendiri.
~~~***~~~
Selama perjalanan Richardo hanya bisa mernungi apa yang dikatakan oleh ayahnya "Masuk Islam" Sebuah gagasan yang tak pernah terbersit di kepalanya kini malah menghantuinya. Ia jadi mengingat masa lalu ketika ibunya masih menjadi seorang muslim, waktu itu ayahnya tidak begitu menyukai jika ibunya melakukan ibadanya. Padahal ibunya pernah bercerita bahwasannya ayahnya dulu pernah menjadi seorang muslim ketika akan meminangnya. Kini Richardo tahu ayahnya masuk islam hanya untuk mendapat restu saja, ia hanya mempermainkan agama saja. Walaupin statusnya menganut salah satu agama diktpnya tapi dia lebih terlihat seperti orang ateis.
Kini ia pun juga ikut mempertanyakan staus keagamaannya. Ia merasa jauh dar Tuhan dan pernah sesekali berpikir Tuhan itu tidak ada. Mungkin guyonan ayahnya itu bisa menjadi jawaban. Mungkin menjadi seorang muslim lebih baik, ia bisa merasakan eratnya tali persaudaraan, keindahan ayat ayat sucinya, kebersamaan saat hari raya semuanya indah menurutnya daripada ia harus menjadi makhluk individualis metropolitan yang hanya mementingkan uang. Richardo tersadar dari lamunannya ketika adiknya menepuk pendaknya memberitahukan bahwa mereka sudah sampai.
            Inilah suasana yang Richardo sukai, asri dan nyaman jauh dari kebisingan ibukota , jauh dari hiruk pikuk tiada henti untuk mencari lembaran uang, jauh dari sikap individualis yang ia benci. Ia jadi teringat dengan kehidupannya, ia merasa miris. Hidupnya hanya untuk mememnuhi permintaan ayahnya, hanya untuk mencari uang. Ia lelah, tapi ada tangung jawab yang harus ia penuhi terhadap keluarganya.
Tak terasa hari-hari ia lalui dirumah kakek sarat akan rasa kekeluargaan ditambah ketika saudaranya yang lain mulai berdatangan. Hingga pada suatu malam takbiran...
"Eh, Rio bu lik dimana?"
"Oh, ibuk di teras depan bang. Ada apa?"
Sesampainya di teras.
"Hai bu lik, Richard mau bicara sama bu lik"
"Iya, ada apa Do?"
"Bu lik Richardo mau masuk islam, ntar kalo Do uadah punya uang banya Do mau pulang ke rumah bu lik, mau belajar agama disana, doain ya bu lik,"
Dengan terharu bu lik terenyum. Setetes airmata jatuh dari pelupuknya setelah Richardo menyatakan pengakuannya. Malam takbiran ini menjadi yang terindah bagi Richardo karena dimalam inilah ia membuat keputusan besar pada hidupnya.
~~~***~~~
Sebulan setelah hari raya Richardo kembali kekehidupan metropolisnya. Ia kembali kepekerjaannya, ya sebagai pembalap liar. Semua itu ia lalukan untuk mendapat banyak uang dengan singkat, jumlah uang yan dia dapatkan juga tergantunh oleh seberapa besar ia dan temannya bertaruh.
"Eh, bro kira- kira dapet berapa?" tanya Richardfo pada seorang temannya.
"Sebelas tiga ratus Do," ucap temannya sambil mematik korek api untuk menyalakan rokoknya.
"Yah, masih kurang nih."
"Kalo lo butuh duir banget kenapa lu gak nagih si Joni aja, dia kan utang ke elo tiga juta, emang buat apa sih uangnya?"
"Buat pulang kampung ker rumah bu lik gue bro."
"Oh, yaudah deh mending lo siap siap deh, ntar lagi mo mulai semangat biar dapte tuh duit".
Ketika peluit dibunyikan Richardo langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dibenaknyan ada hasrat untuk memenangkan balapan, ia ingin mewujudkan angan angannya, mencari ketentraman hidup. Sejauh 3 kilometer sudah ia lalui, dengan pikiran yang tak terlepas dari harapannya, yang membutakannya dari sekelilingnya hingga....
SREEEKKKKK...............
BRUAAKKKK..............

Sebuah motor menubruk sebuah truk yang terparkir di tepi jalan, ya itu Richardo. Tubuhnya terpental sejauh 5 meter dari titik kejadian, telinga dan jemarinya putus dari tubuhnya yang kini berlumur darah. Kini Richardo telah pergi dengan meninggalkan sejuta harapan yang belum  tercapai, angannya hanya menjadi ilusi saja yang menjadi sia sia. Atau kini ia telah pindah, bukan kepercayaannya yang pindah melainkan kehidupannya telah berpindah kekehidupan kekal abadi.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search