02/04/2017

Pindah Part.1

Pindah Part.1

Cerpen"Halo Io? gue mau pulang kampung nih, pas lebaran tahun ini," terdengar suara tenor dengan logat ibukota yang khas dari gagang telepon yang digenggam orang yang dipanggil Io itu.
Io nampak mematung berusaha mencerna kalimat yang diucapkan lawan bicaranya itu.
"Wah bagus dong Fai, tapi bapakmu yang super galak itu ngijinin nggak? takutnya malah bapakmu marah-marah lagi," ucap Io dengan nada khawatir.
"Aduh Rio, gue bisa pulang bararti bapak gue kan ngebolehin. Lagian kita mau pulang sekeluarga abang-abang sama adek gue juga pada ikut," jawab orang yang dipanggil Fai itu.
Io hanya mampu ber-oh ria dalam hatinya ia bahagia karena akan berjumpa dengan saudaranya yang sudah lama tak dapat ia temui itu.
"Eh, kapan kamu pulang Fai ? nanti kan bisa barengan."
"Gue pulang dua hari sebelum hari raya Io baik kereta biar gak macet gitu," ucap Fai menumpali.
"Aduh, kok baru ngasih taunya mendadak sih Fai kan aku gak ada persiapan," ucap Rio sambil mendengus kesal.
"Ya ... maaf deh, eh udahan duu ya, nitip salam buat pak lik bu lik. Daaahhh...,"
Belum sempat Rio menjawab tapi sambungan telepon sudah diputus oleh Rifai.
~~~***~~~
Dua hari telah berlalu kini adalah waktu dimana Rio da Rifai memulai perjalanan mudikny, bagi Rio perjalanan mudik dari rumah ke rumah kakeknya memakan waku tiga jam sedang untuk Rifai membutuhkan waktu satu hari menggunakan kereta untuk mencapai rumah kakek.
Tepat adzan maghrib berkumandang Rio sampai dirumah kakeknya.
"Assalamualaikum kek....," ucap Rio setengah berteriak.
"Waalaikumsalam....eh cucuku sudah datang,"
"Bukan hanya aku lo yang datang nanti ada cucu kakek yang di Jakarta juga datang,"
Terlihat dari raut muka kakek ada keterkejutan tapi seketika berubah menjadi kegembiraan. Sang kakek bersama Rio kemudian mulai mengingat-ingar nama cucu kakek yang di Jakarta itu. Jwara Richardo, Jwara Parulian, Jwara Rifai, Rajai Hasudungan dan terakhir Buldes Tuta. Itulah nama mereka.
Drrrt drrrt.....
Ponsel berwarna putih itu bergetar , segera tangan kurus itu mengangkatnya.
“Halo?” kata Rio
“Halo? Rio kok ayahmu gak bisa dihubungi sih, aku udah sampai stasiun. Tolong suruh ayahmu jemput dong!”
“ Ini jam berapa sih? Aku masih ngantuk nih.”
“Jam dua Rio. Ayolah....... pak lik dihubungi juga gak bisa, bapak marah- marah terus nih,” ucap Rifai sambil memelas.
“iya deh aku bangunin bapakku dulu,nanti habis sahur kalian dijemput”
Rio pun membangunkan ayahnya, dan ketika ayahnya mengecek ponselnya telihat banyak panggilan tak terjawab dar suami kakak iparnya. AyahRio bersiap siap ketika kakek bangun, kemudian kakek menyuruh ayah Rio untuk berangkat setelah sahur. Setelah sahur waktu pukul 03.30 WIB.

Ponsel ayah Rio terus saja berbunyi . Tentu saja hal itu membuat ayah Rio semakin gugup padahal kakek sudah memperingatkan agar ayah Rio tidak terburu buru. Tapi demi menghindari omelan suami kakak iparnya itu ayah Rio segera menjemputnya. Tak berselang lama ayah Rio sampai di stasiun, nampak dari kejauhan keluarga kakak iparnya menunggu di lobby stasiun segerah ayah Rio memarkirkan mobil dan menghampiri mereka. Manulang selaku suami kakak iparnya yang melihat ayah Rio menghampirinya segera meluncurkan ribuan omelannya karena keterlambatan ayah Rio. Dengan berang ia meneriaki ayah Rio.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search