07/04/2017

Liontin Yang Sama Part.2

Liontin Yang Sama
Oleh : Erfi Ana Z. P. P

Part.2,Cerpen

            Esok harinya, aku memakai liotin pemberian darinya.
“Sudah mau berangkat? Ayo sarapan dulu,” kata nenek kakek.
“Iya..”
            Setelah selesai makan, aku berangkat sekolah dan ingin menemui Ina untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
***
            Pukul 3 sore, seperti biasa aku dan kakek menuju sungai untuk menangkap ikan. Setibanya disana, aku langsung melepaskan liontinku dan memandanginya sejenak. Kakek yang melihatku pun bertanya.
“Hadiah dari teman?”
“Iya,” jawabku.
“Laki-laki atau perempuan?”
“Ehmm... laki-laki,” kataku malu-malu.
“Kenapa tidak dipakai saja? Kenapa malah dilepas?”
“Takut hanyut, sungainya dalam, Kek.”
“Kalau begitu, sini biar kakek yang menyimpannya,” kata kakek.
“Baiklah,” kataku sambil menyerahkan liontin itu.
            Setelah itu kami mulai menangkap ikan. 2 jam kemudian, kami telah selesai mengangkap ikan dan bersiap untuk pulang.
“Kakek dimana liontinku?” tanyaku seraya menatap kakek.
“Tadi kakek meletakkannya disitu,” tunjuk kakek kearah batu besar.
“Apa? Kenapa Kakek meletakkannya disitu? Sekarang dimana liontin itu?” tanyaku marah.
            Kakek diam saja. Aku dan kakek mencarinya, tapi hasilnya selalu sama. Tidak ada. Aku pun menangis dan berlari meninggalkan kakek. Inilah pertama kalinya aku marah kepada kakek dan mengabaikan teriakannya. Bagaimana mungkin kakek meletakkan liontin itu diatas batu. Tentu saja liontin itu hanyut. Kenapa aku bodoh sekali tidak memerhatikan dimana kakek meletakkannya. Malam itu juga aku menghubungi ibu dan ayah untuk menjemputku di rumah nenek. Aku ingin tinggal dirumah bersama ayah ibu, aku tidak ingin bertemu kakek untuk saat ini.
***
Esoknya...
“Mita,” panggil Ina saat kami berjalan bersama sepulang sekolah.
Hari ini aku tidak menggunakan sepeda karena saat ini aku tinggal di rumah. Tadinya aku akan dijemput ayah, tapi aku menolak. Jadi aku putuskan untuk berjalan kaki saja.
“Ya,” balasku singkat.
“Kenapa akhir-akhir ini kau selalu berangkat siang?”
“Hmm.. karena aku tinggal di rumah bersama ayah.”
“Loh.. bukankah kau tinggal bersama kakek nenekmu?” tanya Ina penasaran.
“Kau tahu? Aku sedang bertengkar dengan kakek,” balasku datar.
“Apa? Kenapa?”
“Kau tahu? Kakek menghilangkan liontinku.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
“Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi. Aku jadi benci mengingatnya,” kataku cemberut.
“O-oh oke. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi jika kau butuh teman untuk bercerita, telingaku akan selalu terbuka untuk mendengarkannya,” kata Ina sungguh-sungguh.
“Hmm. Tentu saja. Terima kasih,” kataku sambil memandangnya.
***
5 hari kemudian, setelah pertengkaranku dengan kakek, aku sama sekali tidak tahu kabar kakek setelah itu. Rasanya agak menyesal, seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku saat itu. Sepertinya kakek tidak sengaja melakukannya. Tapi mengingat bahwa liontin itu adalah pemberian dari sahabatku, rasa menyesal itu berubah menjadi rasa amarah. Sehingga rasanya benar-benar ingin menyalahkan kakek. Padahal besok adalah hari ulang tahunku yang ke-15, aku malah bertengkar dengan kakek. Tapi sudahlah, itu semua sudah terjadi, aku tidak akan bisa mengulang waktu.
            Malam itu aku terjaga, samar-samar aku mendengar percakapan ibu dan ayah. Aku mendengar mereka membicarakan kakek. Sepertinya kakek jatuh sakit. Aku tersentak, apakah itu benar? Apa kakek benar-benar sakit? Tapi sepertinya aku salah dengar, karena tak berapa lama aku melihat kakek membuka pintu kamarku.
“Mita,” panggil kakekku.
Aku hanya menoleh.
“Selamat ulang tahun yang ke-15 Mita. Semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Maafkan Kakek ya, waktu itu ceroboh sekali menghilangkan liontin itu. Padahal itu pemberian dari sahabatmu. Ini kakek berikan hadiah sebagai gantinya sekaligus hadiah untuk ulang tahunmu. Dipakai terus ya, supaya kamu selalu ingat kakek.”
Kakek menyerahkan kotak persegi panjang. Kemudian aku membukanya. Ternyata isinya sama seperti hadiah dari sahabatku, yaitu liontin. Tapi ini lebih indah dan cantik dari sebelumnya.
“Terima kasih, Kakek,” kataku tersenyum bahagia.
“Sama-sama Mita. Kakek pergi dulu. Selamat tinggal,” kata kakek meninggalkan kamarku dengan tersenyum.
            Setelah itu aku terbangun. Ternyata hanya mimpi, tapi rasanya seperti nyata. Ternyata hari sudah siang. Kemudian aku menengok ke arah meja belajarku. Disitu, aku menemukannya, kotak yang sama yang diberikan kakek seperti dalam mimpi.
            Pintu kamarku terbuka, kemudian aku melihat ibu, ayah, dan nenek mendekatiku dengan wajah sedih. Kenapa dengan mereka? Bukankah seharusnya mereka memasang raut wajah senang karena hari ini ulang tahunku. Seharusnya mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Tapi tiba-tiba ibu memelukku dan mengelus punggungku. Ada apa ini?
“Nak, Kakek...”
Kenapa? Kenapa dengan kakek? Dimana kakek? Kenapa dia tidak disini? Sejenak aku melupakan rasa amarahku dengan kakek. Tiba-tiba aku merasa khawatir. Kemudian ibu memandangi wajahku.
“Kakek sudah meninggal.”
            Apa? Apa yang barusan ibu katakan?
“Ibu bercandakan? Dimana kakek sekarang?” tanyaku sambil menjerit.
“Kakek sudah meninggal dan ini hadiah terkahir dari kakekmu,” sambung nenek.
            Ayah kemudian berjalan dan mengambil kotak itu diatas meja belajarku. Aku mulai membuka kotak itu, kotak yang sama persis seperti yang ada dalam mimpiku tadi malam.
“Kakek sangat menyesal setelah menghilangkan liontinmu. Semalaman dia mencari di sungai.Pulang ke rumah, mendadak kakekmu jatuh pingsan dan sakit. Beliau meminta Nenek untuk mengganti liontinmu dan menyerahkannya di hari ulang tahunmu. Katanya dia sangat menyesal dan ingin minta maaf padamu. Dan terakhir, beliau berterima kasih kepada Mita karena Mita telah menjadi cucu kakek. Dia sangat menyayangimu Mita,” kata nenek menangis.
“Kenapa Nenek tidak memberitahuku kalau kakek sakit? Kenapa?” tanyaku berlinang air mata.
“Nenek minta maaf, tapi kakekmu tidak ingin membuatmu khawatir.”
            Aku masih menangis, perlahan-lahan rasa menyesal menyeruak kedalam hatiku. Apakah ini hadiah dihari ulang tahkunku. Mengingat percakapan terakhirku dengan kakek di sungai waktu itu. Itu bukan perpisahan yang baik-baik. Aku masih ingat ketika aku berteriak didepan kakek. Aku tidak tahu bahwa itu adalah pertemuan terakhirku dengan kakek. Kini tinggal rasa penyesalan yang ada.
***
Di pemakaman...
Aku memandangi nisan kakek untuk terakhir kalinya. Aku mencoba untuk tersenyum tapi tetap tidak bisa. Kali ini aku benar-benar menyesal.
            Kakek terima kasih atas segalanya. Akan kujaga pemberianmu. Aku minta maaf karena sikapku ini. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku menyayangimu kakek. Terima kasih.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search