06/04/2017

Liontin Yang Sama Part.1

Liontin Yang Sama
Oleh : Erfi Ana Z. P. P.

Hari berlangsung seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Bangun pagi bersiap-siap berangkat sekolah.
Perkenalkan namaku Mita. Umurku menjelang 15 tahun. Saat ini aku tinggal bersama kakek dan nenekku, karena jarak rumah lebih dekat dengan sekolah.
Pagi ini aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Sebelum berangkat aku berpamitan kepada kakek dan nenek.
“Kek, Nek Mita berangkat sekolah dulu,” kataku seraya mencium tangan keduanya.
“Hati-hati di jalan,” kata nenek.
            Kemudian aku mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, aku bergegas menuju kelas.
“Hey!” sapaku pada Ina ketika sampai di bangku tempat duduk kami.
“Hey, sudah datang rupanya,” seraya menggeser duduknya.
“Seperti biasa kau selalu berangkat pagi,” katanya tersenyum.
            Dia adalah Ina, sahabat dekatku. Kami sudah berteman lama sekali. Kira-kira hampir 6 tahun. Aku selalu bersamanya, dia sudah seperti kakakku sendiri. Selain Ina, aku juga mempunyai sahabat lain. Sahabat pertama semasa kecil. Dulunya rumah kami berdekatan. Kami selalu bermain bersama. Tapi sayang, karena pekerjaan orang tuanya, ia harus pindah rumah. Padahal belum genap 1 bulan kami berteman. Dia pernah berkata kepadaku untuk menunggunya karena kita pasti bertemu lagi. Seperti itulah ucapan terakhirnya. Jadi, sejak saat itu, ketika sepulang sekolah aku selalu menunggunya di danau, tempat pertama kami bertemu dan berharap kami bertemu lagi.
“Mita!!!” aku tersenak ketika Ina memanggil namaku.
“Kenapa pagi-pagi sudah melamun? Ada masalah? Ceritalah!” katanya sambil menatapku.
“Tidak apa-apa, hanya teringat masa lalu. Tidak penting.”
“Kalau begitu ya sudah. Sekarang kurang 3 menit pelajaran pertama dimulai, jadi ayo kita siap-siap berdoa.”
“Baik,” kataku mengeluarkan buku.
            Pelajaran hari ini berlangsung sangat lama, entah mengapa aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Mungkin aku sudah lapar, jadi ingin segera makan masakan nenek.
Teng... teng... teng...
            Syukurlah bel sudah berbunyi. Jadi aku dengan segera mengemasi peralatan sekolah.
“Ina, aku pulang dulu ya?” kataku.
“Tumben, ya sudah hati-hati.”
            Aku mengambil sepedaku dan bersiap-siap pulang. Tidak seperti biasanya, aku langsung pulang dan tidak menunggu dia di danau.
***
            Sesampainya di rumah, aku masuk kamar dan berganti baju. Rasa laparku hilang ketika melihat kakek membawa jaring.
“Kakek mau kemana?”
“Oh ternyata sudah pulang to? Sejak kapan? Kakek mau mengakap ikan. Kamu mau ikut?”
“Baru saja aku pulang. Mau, aku mau ikut,” kataku bersemangat.
            Kemudian kami berangkat dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan aku berceloteh seperti anak kecil. Kadang kakek menaggapinya dengan tertawa, kadang dengan tersenyum. Selalu seperti ini, aku dan kakek selalu akrab. Aku menyayanginya, begitu pula dengan kakek. Dari dulu aku selalu dekat dengan kakek. Dibandingkan nenek, kakek jauh lebih mengenal diriku. Mungkin sewaktu kecil aku selalu bermain dengan kakek. Kami tidak pernah bertengkar sekalipun. Aku akan menjadi anak kecil dan bersikap manja hanya kepada kakek. Karena itu, kakek mengerti sikap dan sifat asliku.
            Tiba di sungai, aku dan kakek mulai menangkap ikan dan bermain-main sampai sore. Ketika matahari akan tenggelam, kami baru bergegas pulang. Setelah sampai di rumah, nenek menyambut kami, dan mengambil ikan tangkapan kakek. Kemudian kami makan malam dengan ikan bakar yang dimasak nenek.
            Seperti itulah hariku berlangsung, biasa saja, tidak ada yang istimewa. Bangun pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah, menunggu di danau, membantu kakek menangkap ikan dan seterusnya. Tapi akhir-akhir ini aku tidak menangkap ikan karena sering mendengar kakek batuk-batuk, semakin lama batuknya semakin terdengar jelas dan parah. Kemudian aku menengok kedalam kamar kakek, aku melihat kakek berbaring diatas ranjang. Aku mendekatinya dan hendak bertanya apakah kakek baik-baik saja. Tapi kuurungkan niatku karena melihat kakek terlelap. Aku pun keluar kamar dan mencari nenek di dapur. Kelihatannya nenek sedang membuat sesuatu.
“Nenek,” panggilku. Nenek akhirnya menoleh.
“Mita, kau lapar? Nenek sedang membuat kue. Tunggu sebentar lagi, ini akan matang,” kata nenek seraya tersenyum.
“Nenek, Mita mau bertanya. Kakek... apa kakek baik-baik saja?”
Seketika senyum nenek menghilang. Kemudian nenek duduk didekatku seraya membelai rambutku.
“Kakek hanya kelelahan, dia tidak apa-apa.”
“Benarkah begitu? Nenek tidak berbohong?”
“Hmm, tentu tidak. Jangan khawatir. Sekarang ayo dimakan kuenya, ini sudah matang.”
Nenek menyerahkan sepiring kue dihadapanku.
“Baiklah,” kataku.
            Aku segera memakannya seraya berdoa dalam hati, semoga kakek baik-baik saja. Sebentar lagi ulang tahunku, jadi aku ingin merayakannya dengan kakek. Semoga kakek cepat sembuh sehingga kami bisa bercanda dan menangkap ikan lagi.
***
Di sekolah...
“Hey, kenapa cemberut begitu?” tanya Ina saat kami di kantin.
“Hhh...,” aku menghela napas.
“Cobalah bercerita kepadaku. Apa masalahmu?”
“Akhir-akhir ini kakek sering sakit-sakitan. Aku jadi sedih dan khawatir melihatnya. Kami jadi tidak bisa bersama lagi,” kataku memanyunkan bibir.
“Bukankah kau tinggal satu rumah dengan kakekmu? Kenapa kau bilang tidak bisa bersama?”
“Bukan itu maksudku, kami jadi tidak bisa bercanda dan menangkap ikan lagi.”
“Bukankah ada nenekmu?”
“Iya, tapi tetap saja. Rasanya berbeda jika bercanda dengan nenek. Tidak seakrab aku bercanda dengan kakek,” kataku menerawang.
“Kalau begitu, kenapa tidak kau coba pergi ke dokter?”
“Sudah, tapi responnya juga sama saat aku membahasnya dengan nenek, kakek hanya kelelahan.”
“Nah, itu kan bagus, jadi kakekmu hanya perlu istirahat agar cepat sembuh. Kenapa kau secemas itu?”
“Ya tidak apa-apa sih, aku hanya takut kakek kenapa-napa,” suaraku memelan.
“Jangan terlalu memikirkannya, berprasangka baiklah. Kakekmu pasti akan cepat sembuh,” kata Ina seraya menepuk bahuku.
“Terima kasih Ina,” aku tersenyum tulus.
“Sekarang cepat habiskan makananmu,” sambil menunjuk makananku yang belum kusentuh.
“Oke.”
***
            3 hari kemudian, aku melihat kakek sudah baikan, aku merasa senang sekali. Ternyata dugaan Ina benar, kakek sembuh secepat ini. Jadi pagi itu  aku berangkat sekolah dengan perasaan bahagia dan lega.
            Di sekolah, seperti biasa aku bercerita kepada Ina betapa inginnya aku bertemu dengan sahabat kecilku. Aku ingin sekali merayakan ulang tahunku dengan dia selain bersama kakek. Jadi aku semakin giat menunggunya di danau. Tapi sepertinya aku masih tidak beruntung, karena siang itu sepulang sekolah nenek memanggilku dan memberiku sebuah kotak persegi panjang yang dilapisi kertas kado.
“Ini, tadi pagi ibumu kemari dan menyerahkan ini. Katanya ini pemberian dari sahabatmu,” kata nenek seraya menyerahkan kotak itu.

            Aku menerimanya dengan hati berdebar. Siapa sahabatku? Apakah Ina? Untuk apa Ina mengirim ini padaku? Apakah ini dari dia? Apakah dia sudah kembali? Kenapa kami tidak bertemu tadi? Kemudian aku bergegas ke kamar dan membuka kotak itu. Ternyata didalamnya terdapat liontin dan sepucuk surat. Aku segera membuka surat itu, dan ternyata benar. Surat itu berasal dari dia. Isinya dia minta maaf dan berterima kasih kepadaku. Dia memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunku. Dia minta maaf karena meninggalakanku dahulu dan telah menyerahkan kado ini seminggu sebelum ulang tahunku. Aku pun menangis, aku ingin bertemu dengannya, tapi sepertinya tidak bisa karena dia juga menulis bahwa setelah menyerahkan kado ini, dia akan pergi lagi. Jadi malam ini aku hanya menangis karena rindu ingin bertemu dengannya.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search