27/04/2017

Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah
Oleh Genta Antariksa


            Cerpen,Aku adalah siswa kelas 7 waktu itu. Memiliki tempat tinggal di Purwosari,  bersekolah di SMPN 1 Padangan membuatku tidak memiliki banyak teman. Meskipun aku memang tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang. Di sini, kenakalan remaja masih biasa terjadi. Penindasan dari kakak kelas terhadap adik kelas sudah seperti hal yang wajar.
            “Genta, ke kantin yuk?” ajak Andri. Pagi  itu adalah hari yang cerah, aku bisa merasakan betapa bebasnya burung-burung yang terbang di langit, meskipun hanya melihatnya dari balik jendela kelas.
            “Nggak ah, aku gak lapar.”
            “Ayolah, sesekali keluar kelas cari angin.”
            “Di sini anginnya gapapa kok.”
            “...”
Begitulah kira-kira keseharianku, bahkan aku tidak cukup akrab dengan teman sekelasku.
            Hari itu adalah hari Rabu, kelasku harus membeli sebuah bola sepak karena akan ada jam pelajaran olahraga. Jam pelajaran olahraga kelasku bersamaan dengan kelas 8F, di mana sebagian besar berisikan anak-anak yang nakal.Kelasku sendiri adalah 7A, atau biasa disebut sebagai kelas unggulan, sehingga hampir semua anak di kelasku membenci pelajaran olahraga karena tidak suka berkumpul dengan anak-anak yang nakal.
            “Heh! Ayo main bola sama kelas kita,” ajak kakak kelas sedikit memaksa. Tentu saja teman sekelasku tidak ada yang berani menolaknya. Permainan dimulai dan baik-baik saja pada awalnya, namun ketika kakak kelas susah membobol gawang kami, mereka jadi bermain kasar. Aku hanya bermain sebagaimana mestinya karena merasa hal ini sudah wajar terjadi. Permainan selesai karena berbunyinya bel pergantian jam dan semua anak kembali ke kelas masing-masing.
            “Kasar banget ya mereka mainnya,” keluh Yovan.
            “Iya, males banget deh kalau setiap olahraga kayak gini,” sahut Beni.
            “Oh ya, ngomong-ngomong bola kita mana?” tanyaku yang dari tadi hanya diam, mencoba ikut ngobrol dengan mereka.
            “Kayaknya dibawa kakak kelas deh,” jawab Yovan
            “Kok gak ada yang minta?”
            “...”
Mereka semua hanya diam menerima kenyataan bahwa tidak ada yang berani meminta bola ke kakak kelas.
            “Gimana sih?! Ambil lagi dong! Itu kan bola kita. Jangan mau ditindas terus, nanti malah jadi kebiasaan,” kataku sedikit membentak.
Langsung saja aku menuju ke kelas 8F sendirian. Sesampainya di depan pintu, seorang kakak kelas langsung menahanku.
            “Mau apa?” tanyanya ketus.
            “Ambil bola,” jawabku tidak kalah ketus.
            “Udahlah relain aja.”  Dia menjawab sambil mencoba menutup pintu, namun aku menahannya dengan kakiku.
            “Woy! Ada yang rese nih!” Seisi kelas langsung memandang ke arahku.
            “Ada apa nih?” tanya kakak kelas yang lain, yang sepertinya adalah ketua di antara mereka.
            “Aku cuma mau ngambil bola,” jawabku.
            “Nih!” dia menendang bola ke arahku, namun masih bisa kutangkap.
Tanpa meninggalkan sepatah kata pun aku langsung berbalik dan kembali ke kelas, aku tidak ingin mencari masalah.
            Hari-hariku selanjutnya berlangsung seperti biasa, aku hanya berdiam diri di kelas saat jam istirahat dan tidak pernah ada masalah dengan itu. Sampai suatu ketika, kelasku harus dipindah karena akan dicat ulang. Kelasku yang awalnya berada di dekat gerbang depan sekolah, untuk sementara harus menempati kelas baru di samping lapangan olahraga.
            4 hari setelah pindah, tepatnya hari Jumat adalah waktu olahraga bagi kelas 8E. Waktu pemanasan, salah satu dari mereka masuk ke kelasku dan mengambil bola tanpa permisi. Aku yang melihat dari bangku pojok belakang kelas jadi merasa kesal. Aku keluar kelas dan melihat ke lapangan, mencoba mencari bola yang diambil.
            “Nah, itu dia,” kataku dalam hati. Aku menuju bola tersebut dan dengan santai menggiringnya ke kelasku, melewati semua siswa 8E.
 “Heh!” bentak salah satu dari mereka.
            “Woy!” teriak yang lain. Aku tidak mempedulikan mereka, aku tetap tenang membawa bola menuju kelas. Namun, ternyata salah satu dari mereka menghampiriku, Afan namanya. Dari belakang dia mengunciku dan mencoba membantingku, tentu saja dengan badan yang jauh lebih besar dan tinggi hal itu adalah mudah baginya, mungkin begitu pikirnya. Hanya saja, aku sudah berlatih seni bela diri pencak silat sejak kelas 3 SD. Jadi, bukannya aku yang terjatuh, justru aku membalik keadaan dan menghempaskannya dengan satu pukulan tepat di rahangnya. Hampir saja aku mendaratkan pukulan yang lain, tapi Pak Iqbal, guru olahragaku, dengan sigap langsung menengahi dan memisahkanku dari lapangan olahraga.
            Sepanjang pelajaran  hari itu Afan sesekali melirik ke kelasku dengan tatapan penuh dendam, seperti merencanakan sesuatu kepadaku. Benar saja, sepulang sekolah, baru saja aku keluar dari gerbang sekolah ketika dua orang kakak kelas mengunciku dari belakang.
            “Heh! Ini nih anaknya!” teriak salah seorang yang mengunciku. Dengan segera 5 orang teman mereka yang lain datang dan memukuliku. Aku hanya bisa menunduk dan pasrah dengan keadaan itu. Sampai Aku tersungkur.
            “Baru kelas 7 udah berani macem-macem!”
            “Awas ya, kalau berani macem-macem lagi mampus aja sana!” Ancam mereka.
            Setelah kejadian itu aku tidak langsung pulang ke rumah, aku mampir dulu ke rumah Gempar, satu-satunya sahabatku, dengan maksud agar luka-lukaku tidak terlalu terlihat nantinya. Ternyata, baru saja 15 menit aku mampir, ayahku datang lalu mengajakku pulang. Setelah kutanya ternyata dia mendapat telepon dari ayahnya Beni yang melihat kejadian itu dari  kejauhan.
            Sesampainya di rumah, ayahku marah-marah, namun bukan kepadaku. Sebenarnya tidak apa-apa bagiku untuk berkelahi, karena memang wajar bagi laki-laki. Yang membuatnya marah adalah hal itu merupakan pengeroyokan berencana, apalagi dilakukan oleh kakak kelas. Ayahku menghubungi pihak sekolah atas kejadian itu.

            Keesokan harinya, semua anak yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut dipanggil ke ruang BK. Ternyata memang Afan lah yang menjadi dalang dalam kejadian itu sehingga konsekuensinya dia tidak akan dinaikkan ke kelas 9 karena kasus ini adalah kasus yang tergolong berat.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search