17/04/2017

Abdi Negara

Abdi Negara
(Oleh : Fiqo Pramudia)


Pada suatu hari aku melaksanakan kegiatan karantina paskibraka. Hari-hari di karantina adalah hari-hari yang tak akan kulupakan. Berbagai cerita hidup baru kutemukan bersama teman-teman seperjuangan calon paskibraka. Berjuang bersama dengan satu tujuan yang mulia, yaitu mengabdi pada negara.
            Hari pertama karantina hanya bersih-bersih kamar yang akan dipakai untuk tidur. Saat tiba malam hari, terjadi hal yang tidak diinginkan. Kesurupan masal menjadi penyebab hancurnya agenda karantina. Seketika malam itu menjadi mencekam, banyak sekali temanku yang mengalami kesurupan. Pemuka agama setempat pun turun tangan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi malam itu. Saat pemuka agama mengobati teman-temanku yang kesurupan, kami disuruh pembina kami untuk masuk kamar dan segera tidur. Tentu saja kami tidak bisa tidur, karena masih kepikiran teman kami yang kesurupan. Sekitar jam satu malam kami baru bisa tidur.
            Hari kedua diawali dengan olahraga pagi di alun-alun. Setelah olahraga, hal semalam terjadi kembali. Namun hanya beberapa orang, tidak sebanyak yang semalam. Jadwal latihan pun kembali hancur, latihan yang seharusnya dilaksanakan pagi, akhirnya diganti dengan sore. Kami juga melaksanakan latihan untuk pengukuhan menjadi Paskibraka.
            Di kemudian hari, kami melaksanakan pengukuhan untuk menjadi Paskibraka Kabupaten. Pengukuhan dilaksanakan oleh bupati di pendopo. Saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya, aku merasakan buluku merinding, karena sangat bangga menjadi seorang paskibraka.
“Ikrar putra Indonesia…” bupati membacakan ikrar Paskibraka hingga selesai.
            “Ikrar putra Indonesia…” anggota Paskibraka pun menirukan ikrar yang dibacakan oleh bupati hingga selesai.
            Setelah ikrar dibacakan, akhirnya kami resmi menjadi anggota paskibraka. Lalu kami melaksanakan senam maumere yang dipimpin oleh dua orang temanku. Semua temanku terlihat bersemangat melaksanakan senam karena kebanggaannya menjadi seorang paskibraka. Setelah selesai senam, para pejabat memberi selamat kepada para anggota paskibraka yang telah dikukuhkan.Kemudian acara pengukuhan selesai dan dilanjutkan foto bersama dengan bupati. Setelah itu kembali ke asrama untuk istirahat dan mempersiapkan untuk pengibaran dan penurunan besok.
            Tibalah hari yang telah lama ditunggu. Keringat panas dingin mulai menyerang saat kami berada di DP (Daerah Persiapan).Setelah semua siap, kami baris dengan rapi untuk menuju lapangan upacara.
“Langkah tegap maju… jalan!” aba-aba dari komandan kompi telah dikumandangkan.
            “Belok kiri… jalan!” aba-aba dari komandan kompi yang menandakan kami mulai memasuki lapangan upacara. Setelah sampai di depan tiang bendera, pembawa baki mengambil bendera dari Inspektur upacara, dan pasukan delapan mulai bekerja untuk menaikkan bendera.
            “Bendera, siap!” teriak pembentang bendera yang menandakan bendera siap untuk dinaikkan.
            “Kepada bendera Merah Putih, hormat senjata… grak!” teriak komandan upacara bahwa bendera mulai dinaikkan dengan diiringi lagu Indonesia Raya.
            “Tegak senjata… grak!” bendera telah dinaikkan dengan lancar dan berkibar dengan indah.
            Semua pasukan kembali ke barisan awal, “maju… jalan!” komandan kompi membawa pasukan keluar lapangan upacara dan menuju ke pendopo. Kami pun mendapat tepuk tangan yang meriah dari peserta uapacara dan orang yang ada di sekitar lapangan upacara.
            Setelah sampai di pendopo, kami dibariskan oleh pelatih. Pelatih kami berkata, “jujur, saya kecewa sama kalian. Latihan yang begitu lama sekitar tiga bulan, ternyata hasilnya… bagus,” kami semakin bangga bisa berpartisipasi dalam upaya bela negara yang berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah itu, kami diberi selamat oleh para pelatih dan kakak-kakak PPI (Purna Paskibraka Indonesia) yang telah membimbing kami sampai bisa seperti ini.Hingga pada akhirnya para orang tua dari anggota paskibraka juga memberi selamat kepada semua anggota paskibraka dan yang terpenting adalah memberi selamat kepada buah hatinya. Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto. Kami foto bersama bupati dan dilanjut foto dengan orang tua dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kebanggaan. Setelah semua acara selesai, semua kembali ke asrama untuk istirahat dan persiapan untuk penurunan sore.
            Saat sore hari tiba, kami bersiap di DP dengan kepercayaan diri tinggi atas keberhasilan pengibaran pagi.
            “Langkah tegap maju… jalan!”aba-aba komandan kompi yang membawa pasukannya memasuki lapangan upacara.
            “Belok kiri… jalan!” aba-aba bahwa pasukan akan menuju ke depan tiang bendera.
            Setelah pasukan berhenti di depan tiang bendera, pasukan delapan mulai bekerja menurunkan bendera.
“Bendera… siap!” teriak pembentang bendera bahwa bendera siap untuk diturunkan.
“Kepada bendera Merah Putih, hormat senjata… grak!” aba-aba komandan upacara bahwa bendera mulai diturunkan dengan diiringi lagu Indonesia Raya.
“Tegak senjata… grak!” aba-aba dari komandan upacara bahwa bendera Merah putih telah diturunkan dengan lancar.
Setelah bendera berhasil diturunkan dengan lancar, kemudian pembawa baki mengembalikan bendera Merah Putih kepada Inspektur upacara. Lalu kami meninggalkan lapangan upacara dan menuju DP kembali. Sejak saat itulah kami sudah menjadi PPI.Kami pun melaksanakan senam maumere bersama dengan para pelatih dan kakak-kakak PPI untuk melampiaskan kebanggaan dan kebahagiaan kami.Akhirnya, kami pun kembali ke asrama.
            Malam setelah pengibaran dan penurunan adalah malam yang sangat istimewa bagi mantan anggota paskibraka. Kami bersenang-senang dalam acara kenegaraan yang digelar di suatu tempat hiburan yang baru diresmikan. Namun, malam itu juga menjadi malam yang menyedihkan, karena malam itu juga adalah malam terakhirku bersama teman-teman dalam satu himpunan paskibraka. Kami melepas kepenatan dengan bercanda ria dengan teman-teman dan menyimpan momen ini kedalam memori kehidupan. Acara kenegaraan ini pun segera selesai dan kami kembali ke asrama.

            Pagi hari setelah menjadi paskibraka, kami bersiap untuk pulang. Berat rasanya meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan paskibraka.Sebuah perjuangan yang mendapatkan sebuah hasil yang tak ternilai. Karena semakin berat perjuangan kita, maka semakin besar hasil yang kita nikmati.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search