29/03/2017

Tak Kenal Menyerah

Tak Kenal Menyerah
Oleh: Dimas Zabirurrohman Putra


Cerpen,Sinar fajar pagi menyinari rumahku. Rumahku yang sederhana yang terletak di pedesaan. Suasana pagi yang sejuk ini, membuat hatiku tenang. Hari-hari penuh kesibukan, kini berubah menjadi hari yang tenang. Aku masih libur sekolah karena aku sudah menjalankan tugasku di SMP. Sekarang, aku harus sudah mulai memilih sekolah SMA untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Aku telah lulus jenjang SMP dan ingin melanjutkan ke jenjang SMA. Ada banyak sekali SMA favorit yang terdapat di Kabupaten Bojonegoro. Sekolah itupun bukan hanya sekolah biasa. Tetapi, sekolah itu adalah sekolah yang luar biasa. Aku berunding dengan ibu mengenai SMA favorit.
“Ibu, enaknya aku milih SMA mana?” tanyaku pada Ibu.
“Menurut Ibu, kamu lebih baik sekolah di Bojonegoro saja. Jangan sekolah jauh jauh dulu. Ibu mengusulkan SMAN 1 Bojonegoro,” jawab ibu
“Aku sudah berencana masuk sana, Ibu,” aku berkata kepada ibu dengan percaya diri.
“Bagus nak, belajar yang sungguh-sungguh ya, Nak,” pinta ibu.
Aku yakin pilihan ibu adalah pilihan yang terbaik bagiku untuk masa depanku. Oleh karena itu, aku harus besungguh-sungguh dalam meraih mimpi. Maka, persiapan harus disipakan sedini mungkin. Jika kita melakuakan sesuatu tanpa adanya persiapan, hancurlah sudah apa yang telah kita lakukan itu. Untuk itu, aku terus berdoa dan belajar dengan sungguh-sungguh karena aku tidak mau masa depanku hancur. 
Aku mulai mempersiapkan diri dengan terus belajar dengan sungguh-sungguh. Kebetulan SMPN 1 Bojonegoro mengadakan bimbingan skolastik yang bekerjasama dengan salah satu lembaga bimbingan belajar yang ada di Bojonegoro. Aku mengikuti bimbingan itu dengan penuh semangat. Ternyata Genta juga mengikuti bimbingan itu.
Aku bertanya pada Genta, “Bagaiman, Ta? Siap bekerja keras?”
“Selalu siap demi mencapai kesuksesan,” ungkapan semangat dalam diri Genta.
Hari terus berlalu dan aku pun mulai kebingungan mendekati tes skolastik. Persiapan demi persiapan telah aku lakukan. Mendekati tes itu, aku semakin berusaha untuk memahami. Namun, ada satu materi yang belum aku pahami. Saat itulah aku mulai kebingungan.
“Waduh, gimana ni? Aku belum bisa yang ini. Aku harus bagaimana, Tuhanku?” gumamku dalam hati.
Aku terus berusaha walaupun tetap susah memahami. Berbagai bimbel sudah mengajari caranya mengerjakan, tetapi masih tetap bingung.
“Kenapa teman-temanku malah bisa materi skolastik yang tidak aku bisa? Kenapa? Kenapa?” kataku iri dalam hati.
Waktu itu, Yoga bermain dirumahku. Yoga belajar tes skolastik denganku.
“Yog, kamu sudah selesai belajar skolastik?” tanyaku pada Yoga.
“Belum selesai, waktuku selama ini, aku habiskan untuk bermain dota yang tidak ada gunanya,” Yoga menyesali perbuatannya.
“Loh kenapa masih kamu lakukan?”kataku pada Yoga.
“Aku tidak bisa hidup tanpa dota,” Yoga menjawab dengan sedih.
“Hmm. Lalu, kamu bisa materi yang ini?”tanyaku lagi pada Yoga.
“Oh, ini mudah sekali. Aku suka sekali materi yang ini karena ini berhubungan dengan game,”Yoga menjawab dengan percaya diri.
Kenapa Yoga bisa mudah memahami materi ini. Sedangkan aku masih kebingungan dalam memahami materi ini.
Akhirnya, waktu tes tiba. Persiapan demi persiapan sudah aku lakukan dengan matang. Namun, masalah materi yang belum bisa masih menghantui. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan karena percuma jika kita belajar dalam waktu sesingkat ini. Aku masih belum bisa tenang dalam menghadapi tes itu. Karena masih ada yang mengganjal di hati. Sudah bingung ditambah lapar karena puasa, jadi tambah bingung berlipat-lipat.
Genta menghampiriku, “Gimana, Dim? Sudah mau mulai lo tesnya.”
“Walaupun bagaimana keadaanya, tetap harus dijalani, Ta,” aku pasrah pada Tuhan.
Tes pun dimulai. Aku harus berkonsentrasi penuh dalam mengerjakan tes itu. Pertama, aku bisa mengerjakan dengan tenang dan penuh percaya diri. Lama kelamaan konsentrasi hilang dan mulai kebingungan. Soalnya banyak sekali dan aku harus menyelesaikannya dalam waktu 2 jam. Suasana kelas yang awalnya tenang menjadi gelisah. Para siswa gelisah dan kebingungan. Aku tetap mengerjakan soal yang aku bisa. Aku pasrah kepada Tuhan. Materi yang tidak aku kuasai tetap aku kerjakan dan menyerahkannya pada Tuhan.
Bel tes selesai mengerjakan berbunyi, “Kriiiiinnnnnggggg.”
Aku keluar ruang tes dengan pasrah. Aku masih kepikiran masalah materi yang belum aku kuasai. Namun, ada salah satu teman yang berusaha menenangkanku dan mencoba untuk membantu melupakan masalah tadi. Temanku ini bernama Faza.
“Sudahlah, tenang. Serahkan semuanya pada Tuhan,” Faza mencoba menenangkan dengan menepuk pundakku.
“Tapi…. bagaimana ya, Za? Aku takut kalau nilaiku jelek terus aku tidak diterima di SMAN 1 Bojonegoro,” kataku tidak percaya diri.
“Sudahlah, kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Kemudian, kita serahkan semuanya pada Tuhan. Apapun hasilnya kita harus mensyukuri,” Faza mencoba menenangkanku kembali.
“Ah sudahlah. Aku serahkan ini semua pada Tuhan,” kataku mulai lelah.
“Ayo main dota,” ajakan Faza.
“Ayo siapa takut,” kataku dengan mencari aktivitas untuk melupakan masalah tadi.
Hari-hari telah berlalu dan pengumuman seleksi sudah dapat dilihat. Aku sudah tenang dan percaya diri. Karena aku yakin bahwa aku akan diterima di SMAN 1 Bojonegoro. Akhirnya, itupun terjadi, aku diterima dengan  nilai yang memuaskan, yaitu peringkat 20 besar. Usaha yang telah aku lakukan tidak sia-sia. Jika kita berusaha dan dibarengi dengan doa, insyaallah kita akan berhasil.



Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search