22/03/2017

Salah Paham

SALAH PAHAM

CERPEN
Aldhi adalah seorang anak yang baru masuk SMA. Dia sedikit malas,tetapi juga patuh kepada orang tuanya. Karena kepatuhannya dia setiap meminta sesuatu selalu diturutin,sehingga menjadi manja.
Di pagi yang cerah,Aldhi dan teman-temannya berencana pergi melihat jalan santai. Setelah beberapa lama, mereka pun berkumpul di pertigaan jalan. Mereka pun melakukan perjalanan ke lapangan. Ketika mereka tiba disana, ternyata acara jalan santai telah dimulai. Aldhi dan teman-temannya hanya menunggu di lapangan karena telah tertinggal jauh.
            “Al, kita sudah ketinggalan jauh nih,” ucap teman-temannya.
            “Ya sudah kita tunggu disini saja,” jawab Aldhi.
            Setelah beberapa saat kemudian, peserta jalan santai pun datang dan acara pengundian kupon jalan santai pun dimulai. Ternyata, Ucil datang bersama peserta jalan santai.
            “Eh,kalian disini?” tanya Ucil.
            “Ya iya dong,” jawab Aldhi.
            “Kalian mau beli apa?” tanya Ucil.
            “Aku gak punya uang,” jawab Aldhi.
            “Aku traktir deh,” ucap Ucil
            Mereka pun mau karena ditraktir, mereka memakan pentol dan es. Karena Ucil sudah mentraktir mereka, Ucil diajak ke depan panggung.
            “Cil, ayo ke depan panggung,” ajak Aldhi.
            “Aku lagi malas nih, soalnya panas,” jawab Ucil
            “Ya sudah kita kesana dulu ya Cil,” sambung teman-teman.
            “Okey,” jawab Ucil
            Ucil pun ditinggal sendirian di sepeda dekat  pohon, sementara Aldhi dan teman- temannya asik berjoget.
            Setelah mereka capek, mereka pun kembali menemui Ucil. Aldhi pun mengajak Ucil untuk membeli kalung. Setelah mereka mencari-cari kalung,ternyata yang ada hanyalah kalung yang ada gantungannya. Karena Aldhi tidak suka gantungan, dia berpikir ingin membuang gantungan tersebut. Akan tetapi Ucil menawarkan untuk menyimpan gantungan tersebut. Segeralah Ucil menanyakan harga kalung tersebut.
”Bang kalung yang ini harganya berapa?” tanya Ucil
            “Oh yang itu Rp 15.000 dek, kalau yang kecil ini Rp 12.000,” jawab penjual kalung.
            “Ya sudah Bang, saya beli yang Rp 12.000,” ucap Ucil.
            Setelah mereka membeli kalung, mereka pergi berjoged di depan panggung. Karena mereka melihat ada teman bapaknya Ucil disana, mereka bersembunyi di bawah panggung. Setelah itu Ucil kembali ke belakang.
            Beberapa menit kemudian terjadilah ricuh di depan Aldhi. Aldhi berusaha memisah kedua belah pihak. Tetapi malah sebaliknya, Aldhi ditendang,dipukuli, dan dikejar terus.
            “Hey teman-teman itu kayak Aldhi,” ucap Ucil.
            “Oh iya itu beneran Aldhi, ayo kita pisah,” ucap teman-teman,ingin membantu.
            Setelah ricuh reda, Aldhi dan teman-temannya disuruh pulang dan mereka bertemu dengan temannya di jalan. Temannya pun berhenti dan menanyakan.
            “Ada apa ni?” ucap Rendi.
            “Temanmu lo habis dipukuli,” jawab salah satu teman.
            “Siapa yang memukuli?” tanya Rendi.
            “Panitia jalan santai,” jawab Aldhi.
            “Ayo kita kesana lagi,” ajak Rendi.
            Mereka pun mengikuti Rendi kembali ke lokasi jalan santai dan memanggil salah satu panitia untuk diajak berbicara.
            “Hey kamu kesini, maksudnya gimana kok temanku katanya dipukuli sama panitia” ucap Rendi emosi.
            “Itu salah paham mas, panitia kira dia yang membuat masalah,” jawab panitia tersebut.
            “La terus gimana ini?” tanya Rendi.
            “La mintanya gimana?” tanya panitia nyolot.
            “Ayo ikut aku, aku tunggu di selatan,” kata Rendi.
            Rendi pun meninggalkan panitia tersebut dan menunggunya di depan SMP.
            “Mana ini panitia yang tadi kok gak datang-datang? berani apa gak?” ucap Rendi emosi.
            “Tunggu 5 menit lagi, kalau tidak datang kamu kesana lagi,” jawab temannya.
            Ternyata mereka tidak datang juga dan Rendi pun datang ke lapangan lagi.
            “Hey, kamu berani bertanggung jawab gak?” tanya Rendi nyolot.
            “Kamu tunggu dimana?” tanya panitia tersebut.
            “Udah ayo ikut aku, aku boncengin,” ucap teman Rendi.
            “Udahlah kamu kesana dulu aja, aku kasih tau lokasinya,” jawab panitia.
            “Aku tunggu di SMP,” kata Rendi serius.
            Rendi akhirnya pergi lagi ke SMP. Beberapa saat kemudian panitia itu datang bersama teman-temannya.
            “Ini gimana temanku sakit semua ini,” ucap Rendi emosi.
            “La mintanya gimana?” jawab panitia tersebut.
            “La aku sakit semua kok, kalau orang tuaku tau dan nanti gak terima...ya lapor polisi,” Aldhi menyambung permasalahan.
            “Silahkan laporkan, saya atas nama panitia tidak takut dengan polisi,” jawab panitia menantang.
            Setelah itu Aldhi dan teman-temannya pun pulang ke rumah dan dari rumah ternyata orang tuanya sudah tau hal tersebut, padahal Aldhi belum memberi tahukan hal tersebut kepada orang tuanya.
            “Al,kamu habis berkelahi ya,” ucap ibunya.
            “Aku gak berkelahi tapi aku dipukuli,” jawab Aldhi.
            “Siapa yang memukuli?” tanya kakaknya.
            “Panitia jalan santai,” jawab aldhi gugup.
            “Panitia seperti apa itu?” tanya ayahnya.
            Aldhi terdiam dan ketakutan.
            “udah nanti kita kekantor polisi,” sambung ayahnya.
            Aldhi pun tidak bisa membantah lagi. Aldhi dan teman-temannya ikut ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan dan menjadi saksi.

            Akhirnya persoalan tersebut selesai dengan cara panitia harus mempertanggung jawabkan kesalahan mereka dengan membayar denda yang telah disetujui kedua belah pihak. Polisi itu juga berbicara kepada semuanya agar jangan bermain hakim sendiri ketika ada permasalahan.

Karya: Ahmad Tohari
SMA N 1 Bojonegoro

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search