27/03/2017

Nilai yang Bernilai

Nilai yang Bernilai



CERPEN,Waktu itu, aku adalah seoang anak yang masih duduk di kelas dua smp. Setiap harinya, aku berangkat dari rumah pukul 06.15 dengan sepeda. Sekitar pukul 06.45, aku sampai di sekolahku. Aku belajar di sana sekitar tujuh jam. Aku belajar di sana agar aku mengerti apa yang telah disampaikan oleh guruku. Setelah guruku menyampaikan pelajaran, diadakanlah ulangan harian untuk menguji kemampuan setiap siswa. Saat ulangan, prinsipku ialah lebih baik nilaiku pas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) tapi aku mengerti daripada nilaiku 90 tapi aku tidak mengerti. Entah mengapa, saat aku mendapat nilai pas KKM karena kemampuanku memang hanya segitu, muncul rasa puas tersendiri dan sedikit kesal. Kesal karena mendapat nilai rendah dan rasa puas karena inilah hasil dari pemikiranku sendiri. Intinya, kalau aku tidak mengulang kembali ulangan, aku sudah cukup senang.
Suatu hari, teman-temanku mulai membicarakan suatu teknologi baru yang lagi booming. Ya, kehadiran dari smartphone cukup mencuri perhatian teman-temanku termasuk pula diriku. Teknologi sebelumnya, yaitu Blackberry, tidak terlalu menarik perhatianku tapi cukup menarik perhatian lainnya. Aku pun mulai mencari-cari tentang smartphone. Aku ingin membelinya melihat teman-temanku cukup banyak yang memegang smartphone. Namun, karena harganya cukup tinggi membuatku mengurungkan niatku untuk membelinya. Apalah daya, aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku tetap optimis untuk mencari harga yang lumayan miring lewat internet, tapi sayang, aku hanya melihat yang paling murah di sana masih cukup mahal bagiku.
Jam pembelajaran telah usai. Aku langsung menghampiri sepedaku yang telah menungguku sejak pagi tadi dan menaikinya, lalu pulang menuju rumahku tercinta. Selama, perjalanan pulang, “ Oh, Ya, gimana kalau aku minta kepada orangtuaku saja untuk membelikan Smartphone, ya? Mungkin saja mereka mau membelikannya. Lagian, teman-temanku juga dibelikan sama bapak ibuknya kok, “ gumaman yang berasal dari pemikiran yang cukup logis dari seorang anak smp yang keinginannya ingin tercapai namun butuh tangga lain untuk menggapainya.
Sesampainya di rumah, segera kulepaskan sepatu hitamku dan  menuju kamarku untuk mengganti seragam putih biruku. Jam menunjukkan pukul 15.30. Pada pukul tersebut, aku melakukan apa yang disuruh ibu waktu pagi tadi untuk menyapu dalam dan halaman rumah. Seraya aku mengerjakan itu, terdengar suara sepeda motor yang sudah tidak asing di telingaku. Ya, itulah ibuku yang pulang kerumah dan disusul oleh ayahku dari tempat kerjanya. Aku ingin membuat permohonan kepada mereka saat itu juga, tapi melihat wajah lelah ayah dan ibuku membuatku menunda permintaanku.
Saat malam tiba, semua anggota keluargaku berkumpul di ruang tengah saling bercanda dan tertawa termasuk pula ayah, ibu, dan diriku.
“Yah, teman-temanku lho sudah punya smartphone,” kataku sambil melihat ke arah ayah.
Ayahku menjawab pertanyaanku dengan anggukan.
“Yang itu, sejenis HP tapi ada layar sentuhnya. Fiturnya juga banyak,” kataku sambil senyam-senyum.
Ayah kembali mengangguk.
“Aku ingin kayak teman-temanku, punya smartphone. Jadi, Yah, belikan aku smartphone, ya? Aku melihat di internet harganya itu kisaran dua jutaan,” pintaku dengan wajah memelas.
Ayahku mengiyakan dan memberi sejumlah uang untuk membeli smartphone yang aku inginkan. Ya, itulah ekspektasiku dimana yang sebenarnya ialah kebalikannya. Aku mendapatkan ‘pencerahan’ dari ayahku selama dua jam nonstop tanpa jeda atau sponsor. Inti dari ‘pencerahan’ itu adalah karena aku masih kecil dan belum bisa menjaga barangku dengan baik. Dikhawatirkan juga aku akan bermain dengan smartphone terus dan membuatku malas untuk belajar.
Sebenarnya aku cukup marah karena aku menganggap bahwa diriku telah dimarahi, namun aku tidak mengungkapkannya. Aku langsung masuk ke kamarku dan menutup pintunya. Untung saja besok tidak ada PR dan aku juga cukup mengerti dengan materi dari bab sebelumnya. Jadi, aku hanya berbaring di kasurku untuk menenangkan emosiku.
Sesudah emosiku reda, aku kehausan dan hal itu membuatku keluar kamar untuk meminum air putih. Setelah aku minum, aku mulai mengantuk dan membuka kembali pintu kamarku untuk segera pergi ke alam mimpiku. Saat aku akan masuk ke kamar, ayahku memanggilku. Aku pun menghampirinya sambil menahan rasa kantukku.
“ Bentar lagi kamu mau ujian kenaikan kelas dan kamu akan naik kelas tiga, kan? Saat kamu dikelas tiga nanti, juga akan memulai try out, ujian sekolah, ujian nasional dan kawan kawannya, kan?” tanya ayahku sambil menikmati teh hangatnya.
“Iya Yah. Hoooaaaam,” jawabku cukup lemas sambil menutup mulutku saat menguap.
“Yaudah gini wae, kalau kamu mendapat nilai memuaskan baik itu di rapor, try out, maupun ujian nasional, kamu akan mendapat apa yang kamu inginkan,” kata ayahku sambil kembali menyeruput secangkir teh hangatnya.
Seketika itu, aku langsung terbangun dari rasa kantukku dan perasaan senang mulai mencuat dari dalam hatiku. “beneran, Yah?” tanyaku.
“Iya. Kakakmu dulu juga baru punya HP saat mulai masuk sma. Kamu juga kaya gitu wae. Adil, kan?” jawab ayahku sambil menunjuk ke arah kakaku. Rasa senangku bertambah saat aku mendengar kata itu dari ayah tercintaku. Aku pun langsung berterimakasih pada ayahku. Karena sudah malam, aku disuruh untuk segera tidur oleh ayahku.
Dari sinilah perjuanganku dimulai. Aku mulai belajar lebih keras untuk mendapatkan tujuanku. Kelas dua smpku telah kulewati dengan nilai yang cukup memuaskan. Perjuanganku belum berakhir karena aku masih harus menghadapi UAS, try out, dan ujian nasional dan para sekutunya. Aku mulai mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dengan tujuan satu, yaitu untuk mendapat nilai yang bagus.
Tak terasa minggu depan akan diadakan ujian tengah semester pertama. Sebenarnya ada salah satu materi di pelajaran ilmu pengetahuan alam yang masih samar-samar di kepalaku. Biasanya, aku mulai bingung dan panik saat ada materi yang belum aku mengerti apalagi saat akan terlaksanya ujian atau ulangan. Namun, entah kenapa aku merasa tenang-tenang saja dan biasa saja. Mungkin karena aku merasa sudah terlalu banyak belajar pelajaran eksak dan merasa sudah bisa serta menggampangkannya, sehingga aku berpikir bahwa lebih baik aku belajar yang noneksak saja karena di sekolah, pelajaran itu tidak terlalu ditekankan.
Kesokan harinya, hari pertama ujian tengah semester pertama pun dilaksanakan. Pada awalnya, saat aku  mengerjakan soal ilmu pengetahuan alam, soalnya bisa kujawab dengan mudah. Namun, semakin lama aku mengerjakan, soalnya semakin berbobot. Sampailah dimana ada soal yang materinya belum kumengerti. Kupikir aku mengerti, tapi saat kukerjakan aku mulai kebingungan. “Iki piye?” rintihan hatiku akibat otakku yang sudah bekerja cukup keras tuk memahaminya. Aku mencoba lagi dan lagi untuk memahami, namun masih tidak bisa. Waktu mengerjakan soal kurang 10 menit. Hal ini membuatku tambah dag dig dug. Apakah ini yang disebut cinta? Tentu saja bukan. Aku hanya kurang satu soal saja yang belum kukerjakan ditambah lagi perutku yang sedang bernyanyi lagu keroncong. Aku mulai membayangkan ada dua donat yang bisa berbicara. Yang pertama donat putih yang ditaburi biji wijen. Yang kedua donat merah dilapisi selai stroberi. Di bayanganku mereka saling berdebat.
“Ayo, kerjakan saja semampumu, salah nggak apa-apa, yang penting ini hasil kerjamu sendiri,” rayu donat putih untuk jujur saja.
“Jangan! nanti kalau nilaimu jelek gimana? Belum tentu soal yang lain kamu benar lho. Kalau kamu jujur mungkin nanti kamu bisa ajur lho, ” sahut donat merah dengan sedikit emosi.
“Apa katamu?! Lebih baik dia jujur daripada kedepannya nanti malah menyesal. Kamu kok malah ngajak yang jelek sih?!” jawab donat putih sambil menghadap ke donat merah.
“Bodo amat. Biarinlah, gue ya gue, lu ya lu. Sewot banget sih lu. Ini juga demi kebaikannya,” sahut donat merah dangan nada menghina. “Hei, kamu jangan percaya dia, dia ditutupi biji wijen. Apapun yang dikatakannya hanyalah kebohongan,” katanya lagi sambil menghadap ke arahku. Aku merasa pernah melihat adegan ini, tapi dimana ya? Aku lupa dimana itu karena waktunya sudah tinggal 5 menit. Seketika itu bayanganku tentang mereka pun sirna. Aku tergoda oleh donat merah bayanganku sehingga aku pasrah dan bertanya kepada temanku apa jawabannya. Demi nilai bagus, aku mulai menyimpang dari prinsipku karena saat itu aku tidak memikirkan prinsipku.
Setelah hari pertama usai, aku memastikan apakah benar jawaban yang diberi oleh temanku. Ternyata jawaban itu benar. Aku mulai berpikir soalnya mudah sekali. Keesokannya, aku mulai kebingungan lagi dan bertanya kepada temanku lagi. Aku mengidap penyakit ketergantungan tuk melakukan itu terus sampai ujian tengan semester pertama usai tanpa kusadari.
Sekitar tiga minggu kemudian, rapor sisipan ujian tengah semester pertamaku. Awalnya aku ingin segera pulang dan memberikan rapor sisipanku kepada orang tuaku sekaligus meminta tanda tangannya. Namun, saat aku melihat isinya, nilaiku memang bagus, begitu pula dengan peringkatnya, tapi aku merasa nilai yang tertera sangatlah hampa. Aku sama sekali tak bisa merasakan perjuanganku di dalamnya.
Sepulang sekolah, kuberikan rapor sisipanku ke ayahku yang sedang duduk santai di teras rumah sekaligus meminta tanda tangannya. Aku tidak terlalu bersemangat sebagaimana biasanya saat aku menunjukkan raporku. Ayahku pun menandatangani rapor sisipanku.
“Kamu sepertinya tidak terlalu serius mengerjakan UTS ini,” kata ayahku sambil melihat kembali nilai-nilai di raporku.
“hehehe... , ya s..seriuslah aku m...mengerjakan itu,” jawabku sedikit terbata-bata sambil menutupi ekspresi asliku dan mencoba untuk terlihat bersemangat.
“Nggak usah dipaksa. Kamu lho udah keliatan saat mau memberikan rapormu. Jadi bener, kan?” tanya ayahku dengan nada yang pelan.
Aku hanya diam saja karena itu memang benar.
“Kalau begini caranya, nilai-nilai di sini hanyalah nilai yang tak memiliki ‘nilai’ sama sekali. Lebih baik kamu dapat nilai 80 tapi mengerti daripada 95 tapi tidak mengerti apa-apa,” kata ayahku sambil mengembalikan rapor sisipanku padaku. “Jangan sampai kamu mengejar nilai. Kalau kamu paham, nilai itu lho malah yang akan terbirit-birit mengejarmu. Nilaimu ini cukup bagus cuma, maknanya itu lho kurang. Berikan perjuanganmu di sana dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Perasaan ayah memberi tahu dulu itu untuk mendapat nilai memuaskan, ya kan?” katanya lagi sambil melontarkan pertanyaan ke arahku.
“Iya, maksudnya memuaskan itu ya nilainya tinggi, kan?” tanyaku kepada ayah
“Sepertinya kamu salah persepsi, dan ayah juga salah karena kurang jelas saat memberi tahumu. Kamu juga waktu itu sudah ngantuk, kan? Ya udah, maksudnya memuaskan itu terasa puas di mata, terasa puas juga di hati. Oh ya, ayah mau ke belakang, soalnya ayamnya dari tadi pagi belum diberi makan.” Kata ayah seraya pergi ke belakang rumah. Berkat perkataan ayah tadi, aku sadar selama UTS ini aku hanya memikirkan nilai bagus dan tinggi saja. Aku merasa bodoh hanya mengejar nilai karena itu, aku sadar dan akan kembali ke prinsipku dulu. Aku juga cukup kaget dan tak mengerti bagaimana ayahku bisa berkata seperti itu padahal selama ini aku tidak pernah membicarakan prinsipku dengannya. Kebetulankah? Entahlah, kupikir tidak. Mungkin ini yang karena ikatan anak dan ayah.
Pada ujian berikutnya, aku menggunakan prinsipku yang dulu, begitu pula saat ujian nasional. Tak terduga, aku mendapatkan nilai yang memuaskan karena nilaiku bagus dan penuh perjuangan. Ya... meskipun ada yang nilainya lebih bagus dari aku sih. Tapi, ayahku dan ibuku terlihat cukup bangga dengan nilaku yang telah kuraih ini.
Tiga hari kemudian setelah aku lulus dari smp, ayahku tiba-tiba memberiku uang yang cukup banyak.
“Kali ini, kamu harus berjuang untuk pintar-pintar dalam memilih smartphone mana yang kamu inginkan,” kata ayahku.
Jujur saat itu, aku lupa akan smartphone karena sibuk belajar untuk tes pendaftaran sma. Aku pun baru ingat setelah ayah bilang seperti itu padaku. Aku langsung senang sekali.
“Baiklah, aku akan membeli smartphone pilihanku. Terima kasih atas semuanya, ya Yah,” jawabku dengan penuh semangat.
Aku pun segera ganti baju lalu mencari smartphone di Kota Bojonegoro dibantu dengan kakakku. Akhirnya, aku pun mendapatkan smartphone yang telah kuincar. Sampai saat ini, smartphone milikku ini masih kujaga dengan baik karena ini adalah ‘nilai’ dari nilai yang kuraih dengan penuh perjuangan selama setahun.

Oleh : Azzatul Abidah

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search