22/03/2017

Lalai


LALAI


CERPEN “Tenang. Kiamat masih lama.”
Kata-kata itu acapkali kudengar dari mulut teman-temanku, kala mereka melakukan sesuatu yang menurut mereka buruk. Memang benar. Kiamat itu masih lama, dan entah berapa lama lagi. Pernahkah kalian merasa terlalu sering mengurusi urusan dunia? Bekerja keras demi meraih kebahagiaan yang bukan hakiki. Menjadi manusia yang seolah-olah  berani menunda ‘kiamat’nya sendiri.
Pikiran itu kadang terbersit sekilas setiap kali aku pulang sekolah dengan letih yang sangat, seperti siang ini.
Terlampau lelah, kuhempaskan tasku ke atas ranjang. Benar-benar runyam. Dengan mendadak, guru memberi tugas yang harus dikumpulkan besok. Mau tak mau, aku harus begadang malam ini. Kecamuk pikiranku berkelana.
“Sari... makan dulu!” suara ibu membuyarkan lamunanku yang tak berarti.
Nggih1, Bu!” jawabku ogah.
Setelah mengganti pakaian dan sebagainya, aku langsung menuju dapur untuk makan. Sempat kucurahkan isi hatiku pada ibu tentang tugas mendadak itu dan beliau hanya berkata, “Yawis ta, nduk.2 Digarap wae.3

Aku hanya melengos lesu. Ibu, ibu. Beliau memang selalu begitu, tipikal orang yang tidak pernah mengeluh tentang kehidupan. Akhirnya, berkat motivasi ‘digarap wae’ dari ibu, kukerjakan tugas itu hingga menjelang pukul sepuluh, walaupun berakhir dengan niat dilajut besok pagi. Mataku sudah terlalu letih untuk terjaga. Sempat kudengar teguran ibu, menyuruhku untuk salat Isya yang hanya kuiyakan. Sudah kuniati diriku untuk bangun nanti pukul tiga pagi. Yang penting, terpejam dulu.

Aku terbangun dengan perasaan nyaman. Kugeliatkan tubuhku sejenak, melepas penat punggungku yang terlalu lama duduk, mengerjakan tugas semalam. Jendelaku yang menghadap timur belum menyambut sinar matahari. Aroma embun masih tercium, melegakan rongga pernapasanku. Belum pula terdengar merdunya lantunan ayat suci Al-Quran, pertanda adzan subuh belum berkumandang. Diantara harmoni pagi yang melegakan ini, kuputuskan untuk mengerjakan kembali tugasku yang belum usai. Kunikmati alunan musik yang menenangkan. Ah, ternyata bila kita kerjakan dengan senang, tugas sesulit apapun lewat.
Perlahan, kudengar pintu diketuk.
“Sebentar!”
Kukecilkan bunyi musik yang mengiringiku. Pintu diketuk lagi, kali ini lebih keras. Lalu makin keras, makin keras, hingga yang terdengar kini bukan ketukan lagi, melainkan gedoran. Lantas sebelum pintu itu didobrak, kubukakan dengan kesal si empunya maksud.
Nihil.
Sebelum aku sempat mengira itu apa, seseorang berteriak padaku sambil pontang-panting berlari.
“Lariii...!”
Apa?
Diikuti teriakan itu, berduyun-duyun orang berlari dan nampak kalang kabut, melewati ruang keluarga rumahku. Suasana terlampau kacau. Ada apa ini? Sosokku hanya terperangah dan terhuyung, menatap kerumunan orang itu.
“Selamatkan dirimu!”
“Tolong!”
“Ampun!”
“Ampuni aku!”
“Tidaak!”
Batinku hanya berkata, apa orang-orang ini sudah gila? Mereka berteriak seperti terjadi bencana besar. Seperti biasa, aku bukan tipikal yang responsif, bukannya ikut lari, 

otakku malah sibuk menerka apa yang terjadi. Alam bawah sadarku yang gemar menganalisis sesuatu, teliti memerhatikan keadaan disekitar. Tidak ada kobaran api, perang, senjata, tsunami, banjir, bom, atau bahkan raksasa. Sempat kupikir itu imajinasi mereka saja. Atau mungkin saja aku yang terlalu lambat merespon apa yang terjadi. Sudahlah, mungkin ada seseorang yang mengerjaiku, mengingat seminggu lagi hari ulang tahunku. Bila memang terjadi bencana besar, sudah tentu orang tuaku yang tadi mengetuk pintu kamarku, bukannya sosok nihil yang tidak jelas apa-siapanya itu. Mengingat itu, sedikit terbersit rasa kesal. Bukan khawatir yang muncul, padahal aku berada di sekitar keributan yang akbar saat ini.
Lelah berdiri di depan pintu kamar, kuputuskan untuk kembali mengerjakan tugas yang belum rampung. Begitu hendak membalikkan badan, tatapanku terkunci di satu titik. Sosok itu begitu menarik perhatianku tatkala ia hanya berdiri dan tersenyum padaku, di tengah keributan yang nampak tak berujung itu. Matanya menelisik mataku seperti mengaduk memoriku tentangnya. Ketika terbersit kenangan itu, tubuhku bergetar. Dialah pahlawan bagiku, penasehat ulung yang menyayangiku tanpa terbatas waktu, dia ayahku. Teriakan-teriakan banyak orang kini hanya menjadi satu suara saja, dengung di telingaku. Yang kudengar hanya suara ayah, “Kemari, nduk.4
Perlahan, kuhampiri ayahku. Tangannya lalu merangkulku, mengajakku keluar rumah. Tidak sulit bagi kami melewati kerumunan itu. Sesampainya di ambang pintu, agak terkejut diriku menyadari sesuatu. Rupanya hari sudah seterang pukul sembilan. Padahal aku baru saja bangun sebelum subuh. Kuucapkan maksudku pada ayah dengan hati-hati, takut beliau marah atas kelalaianku.
“Astaghfirullah, kula dereng5 salat, Yah. Kula badhe salat rumiyin.6
Anehnya, ayah tidak marah. Hanya jemarinya menunjuk langit arah barat sembari berkata, “Deleng iku.7
Penasaran, kutengokkan kepalaku. Langit biru seperti biasa, awan nampak putih seperti biasa, dan matahari bersinar seperti biasa. Tunggu, matahari di arah barat?
“Allahu akbar!”
Seperti tersambar petir, tubuhku bergetar hebat. Air mataku terjun tak terbendung. Tanganku tak mampu lagi menggenggam, keringatku mengucur deras, dan gigiku tah hentinya bergemerutuk. Lisanku beku berucap, aku tak mampu berpikir keras. Allah. Inikah waktunya? Setelah yang kulakukan selama ini, setelah apa yang kupelajari selama ini, menjadi kenyataan. Akukah? Akukah hambamu yang termasuk dalam seburuk-buruknya kaum?
Seiring tangisku, kudengar pula jeritan dan rintihan orang-orang di sekitarku. Aku hanya berharap ini semu, namun semua terjadi begitu nyata. Sosok ayah disampingku sudah hilang entah kemana. Masih diantara kekacauan itu, kukuatkan pikiranku, yang akhirnya membuat keputusan untuk salat sebelum nyawaku diambil. Keputusan yang tidak logis, mengingat semua itu sudah terlambat, bukan?
Aku ingat. Sangat ingat. Tentang pelajaran agama waktu sekolah dasar, bahwa pada hari dimana matahari terbit dari barat, orang akan berbondong-bondong beribadah dan bertaubat, mengingat pencipta mereka. Namun itu semua sudah terlambat. Aku tahu itu, dan aku hanya ingin salat untuk menenangkan hatiku.
Kuambil air wudhu sebentar lalu kulangkahkan kaki untuk salat di musala rumahku. Aku salat hampir tanpa kekhusyukan, mengingat kuasa-Nya yang begitu besar di depan mataku tak hentinya membuat tubuhku bergetar dan air mataku menetes tanpa henti.
Tiba-tiba, aku merasa pundakku disentuh oleh seseorang. Kubalikkan tubuhku dengan segera, melihat apakah ini malaikat yang akan mencabut nyawaku. Ternyata bukan. Dia bukan malaikat pencabut nyawa, melainkan malaikatku di dunia. Dia ibuku. Seperti ayahku, ia hanya tersenyum dengan lisan yang berucap, “Sudah, Sari. Sudah terlambat.”
Butuh waktuku untuk mencerna kalimat ibu, sebelum akhirnya beliau menghilang tanpa kusadari. Menyadari kalimatnya aku kembali menangis, lisanku tak hentinya mengucapkan kalimat istighfar.
“Astaghfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah...”
Kulanjutkan terus salatku sambil terus menyebut nama-Nya. Tuhan, sepanjang waktu yang telah Engkau berikan kepadaku, kemana saja aku selama ini? Seperti ditampar, memori-memori tentang keburukan yang pernah kulakukan disibak secara perlahan. Penyesalan tiada terkira saat itu, hingga pada lembar terakhir yang kuingat hanya senyum orang tuaku saja. Senyum yang menenangkan. Senyum yang membuatku ingin memeluk mereka saat itu juga, bila mereka ada di sampingku. Ah. Pikiranku terlalu lelah untuk berpikir. Alam sadarku telah kosong, hanya hati saja yang mampu berharap. Sinyal-sinyal otakku sepertinya telah padam karena kejadian hebat yang tak pernah kualami sebelumnya ini.
Pada sujudku yang terakhir, aku pingsan.

***

Mataku terbuka dengan segera. Kutatap langit-langit kamar dengan waspada, sembari mengatur denyut jantungku yang berdegup cepat. Agak linglung, kususun memoriku satu per satu. Walaupun kejadian barusan terasa nyata sekali, namun tubuhku yang terbaring di atas ranjang terasa lebih nyata. Ternyata tadi itu bunga tidurku. Kuucapkan istighfar berkali-kali, lantas kulirik jam dinding di kamarku. Pukul tiga pagi. Allah membangunkanku sesuai niatku, tak lupa menamparku untuk mengingatkan sesuatu.
Aku belum salat Isya.

TAMAT

KaryaAfina Yura
SMA N 1 BOJONEGORO


Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search