23/03/2017

Kesempatan (part 2)

 Kesempatan
Cerpen, Part 2     


“iya ma, hati-hati,” Sahutku ternganga. Seketika mobil melaju kencang, aku kembali tidur di kamarku. Keesokan harinya mama dan ayah belum juga pulang. Aku mencoba untuk menghubungi mama, syukurlah tersambung namun belum diangkat. Kucoba lagi Alhamdulillah diangkat.
“assalamualaikum, ma gimana kabar eyang?”
“walaikumsalam, eyang diopname dan keadaanya memburuk. Nanti ayah pulang dan mama yang jagain eyang disini.”
“oh yasudah, hati-hati ya ma semoga eyang cepat sembuh,” Kataku seraya menenangkan.
“iya nduk, doakan saja yang terbaik,” Balas mama sambil menghembuskan napas.
Ramadhan tahun ini serasa berbeda dari tahun yang lalu, semua terasa mengharu biru. Entah, sebenarnya yang ada di pikiranku ramadhan kali ini terasa sempurna karena semua keluarga besarku berkumpul. Tapi Allah punya maksud dan tujuan lain mengumpulkan keluarga besarku, yaitu untuk menjenguk eyang yang sedang sakit.
Tak lama ayah datang dengan mobil Terios berwana hitamnya. Beliau terlihat lelah dan mengantuk, aku tersenyum untuk mendinginkan hatinya sejenak. Ayah hanya membalas senyumku dan tak berkutik sedikitpun. Setelah shalat tarawih, tiba-tiba ayah mengajakku untuk menjenguk eyang di rumah sakit. Kita berangkat bersama kedua adikku dan ditemani seorang supir. Sesampainya di rumah sakit kami langsung menuju ke kamar tempat eyang dirawat. Dengan refleks aku langsung memeluk mamaku. Rindu ini sudah tak tertahan lagi, begitupula dengan kedua adIkku. Lalu kami memandangi tubuh eyang yang belum siuman dan terbaring lemas ditempat tidur. Prihatin memang melihatnya hingga tak sengaja air mata ini menetes. Sekitar lima puluh menit kami di rumah sakit, akhirnya mama mengajak untuk pulang. Sedangkan ayah gantian berjaga dirumah sakit, nampak wajah mama terlihat berat hati meninggalkan ibunya tapi ayah memaksa untuk mama beristirahat di rumah agar besok bisa kembali menjaga eyang. Sebagai istri yang taat mama menuruti perkataan ayah, dan kamipun pamit pulang.
            Adzan shubuh berkumandang, aku berangkat menuju masjid terdekat untuk shalat berjama’ah, setelah menunaikan shalat shubuh aku melaksanakan aktivitasku seperti biasa yakni menyapu rumah dan mencuci pakaian. Sekitar pukul enam pagi, tiba-tiba terdengar suara sirine ambulance yang berheti didepan halaman rumah.
“Astagfirullah apa ini?” kata mama yang berlari menuju keluar rumah.
“ma, ibuk sudah tiada,” Balas ayah sambil memeluk mama. Mama seketika lemas tak berdaya dan akupun seperti itu, sempat menyangka ini hanya mimpi. Tapi tidak, ini adalah sebuah kenyataan. Ayah yang dengan tegas menyiapkan segala perlengkapan dan mengabarkan kepada pak RT tentang berita duka ini, agar eyang segera disemayamkan. Sementara aku dan tetangga sekitar berusaha menenangkan hati mama. Setelah jenazah eyang dimandikan lalu dikafani, mama menyisir rambut eyang yang hampir seluruhnya berwarna putih itu dengan lembut, sambil berkata. “maafkan anakmu ini buk, semoga ibuk tenang disisi-Nya.”

Selepas itu aku dan mama mengambil air wudhu untuk ikut sholat jenazah. Khusyu’dan pasrah rasanya. Kami sekeluargapun menghantarkan eyang ke peristirahatannya yang terakhir. Disana aku melihat pemandangan yang tak biasa aku lihat, banyak batu nisan bertuliskan nama dan tumbuh pohon kamboja disebelahnya. Ya Allah kali ini aku akan melihat batu nisan itu dengan nama eyangku, sungguh berat rasanya. Tak henti-hentinya kami membacakan Surat Yasin untuk beliau. Setelah proses pemakaman selesai. Ayah bercerita kepada kami, bahwa sebenarnya eyang tak hanya menderita penyakit saraf terjepit saja melainkan beliau juga mengidap penyakit kanker. Ah sontak kami sangat terkejut, karena penyakit ini tak terduga sama sekali. Kami sudah ikhlas eyang pergi, ini pasti rencana Allah yang terbaik. Dan aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk merawat beliau, sungguh ini kesempatan yang indah dan semoga beliau tenang di sisi-Nya. Aamiin.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search