23/03/2017

Kesempatan (part 1)

                                            Kesempatan 
Cerpen, Part1 


Eyang  putri, ya begitu aku memanggilnya. Wanita paruh baya dengan keriput yang menghiasi wajahnya, senyumnya sekilas mirip dengan artis Hj. Nani wijaya membuat aku susah melupakan nya.
            Kring...kring...kring suara telepon tiba-tiba  menghentikan lamunanku. Seketika aku menggambil telepon genggamku yang terselip di balik bantal, ternyata dari mama.
“Nduk, jangan lupa nanti jam sembilan eyang dikasih roti sama susu, nggih.”
“oh nggih ma, ini baru saja eyang selesai mandi,” Jawabku.
“ya sudah, jagain eyang ya assalamualaikum.”
“nggih ma, walaikumsalam.” Begini rutinitasku selama liburan semester lalu, berdiam diri dirumah dengan merawat eyangku yang sedang sakit. Kadang ditemani mbak Sarti. Beliau adalah orang yang membantu pekerjaan rumahku, namun beliau tidak sering datang kerumahku.  Cuma dua atau tiga kali dalam seminggu setidaknya itu sudah membantu  meringankan beban pekerjaan yang ada dirumah ini.
            Kedua orang tuaku bisa dibilang orang yang cukup sibuk. Ayahku bekerja sebagai kepala desa, sedangkan mamaku bekerja sebagai guru dirangkap dengan bu lurah. Ya karena ayahku seorang lurah, mau tidak mau mamaku juga ikut serta berperan sebagai bu lurah. Biasanya sih kalau liburan semester seperti ini beliau mengurus kegiatan PKK di desa. Kurasa mengemban dua pekerjaan sepertinya susah, maka dari itu aku ingin meringankan beban mama dengan merawat eyangku yang sedang sakit. Sakit yang diderita eyangku ialah saraf terjepit, entah apa nama penyakit itu dalam dunia medis yang aku tahu bahwa saraf di bagian tulang ekor eyangku itu terjepit karena pernah terjatuh dalam posisi terduduk. Akibat kejadian itu eyangku agak susah untuk berjalan karena saraf tersebut menghalangi kerja saraf yang lainnya untuk disalurkan ke otak. Kurasa kau bisa membayangkan betapa sakitnya saat berjalan, itulah yang dirasakan oleh eyang. Sudah lama memang eyang menderita penyakit ini. Hampir tiga tahun, namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Hari-hari berlalu, keadaan eyang begini saja dan tak menunjukan perubahan. Padahal setiap seminggu sekali sudah rutin menjalani check up di rumah sakit.
Hingga tiba bulan ramadhan, bulan yang sangat dinanti-nanti oleh umat muslim di seluruh dunia, begitu juga dengan keluarga kami. Di sepertiga malam pertama bulan ramadhan aku tersentak ketika sedang menyantap hidangan sahur bersama keluarga, tiba-tiba eyang memanggilku.
“nduk, rene.”
“Nggih eyang,” Sahutku sambil mengunyah makanan dengan buru-buru.
“eyang mau puasa, suapin ya.”
“oh inggih, eyang kuat puasa ta?” tanyaku
“insya Allah.”  Tak lama kemudian aku segera mengambilkan makan untuk beliau, sambil aku suapin. Dalam hati aku bergumam, “eyang saja yang dalam keadaan sakit mau menjalankan ibadah puasa, padahal harus minum obat yang lumayan banyak. Hm masya Allah”.
Hari pertama puasa Alhamdulillah eyang bisa menunaikan sampai berkumandangnya adzan maghrib, tapi hari kedua eyang tidak bisa menjalani puasa. Mungkin karena telat minum obat, pikirku. Dan mulai saat itu hingga pertengahan bulan ramadhan keadaan eyang semakin memburuk. Jam menunjukan pukul satu malam, terdengar suara jeritan kesakitan bersumber dari kamar eyang. Sontak saja ayah dan mamaku langsung terbangun dan segera menuju ke kamar eyang.
“ibuk kenapa? Yang mana yang sakit?” tanya ayahku.
“aduh le iki loro, ibuk pingin nang rumah sakit,” Sahut eyang sambil memegang bagian tubuh yang sakit.
“inggih buk, kula tak nyiappke mobil,” Balas ayah panik. Ayah segera menyiapkan mobil sedangkan mama menyiapkan baju yang akan dibawa jika nanti eyang memang diopname, setelah  menyiapkan mobil ayah segera membopong eyang masuk kedalam mobil disusul mama yang ada dibelakangnya, kemudian mama menitp pesan padaku.

“hati-hati dirumah dan jaga adikmu, nanti kalau sahur mbak sarti tak suruh kerumah,” Kata mama.

Oleh : Anindya Sanditiara

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search