30/03/2017

Kebisuan dalam Ruang Berbeda (Part.I)

Kebisuan dalam Ruang Berbeda
oleh Dwi Melly Aprilia Sari
Part.1


Cerpen,Banyak orang bilang menjadi anak pejabat itu membanggakan, terjamin hidupnya dan bla bla bla. Namun akankah perasaan bahagia dan bangga itu akan menghampiriku suatu saat nanti? Akankah rasa nyaman dari sepasang manusia yang selalu kuimpikan bertampang dan berhati malaikat itu akan menyambangi sisa waktuku? Tidak untuk setiap detik, setiap menit ataupun tiap hari, yang kuminta hanyalah rasa bertanggung jawab untuk menyumbangkan sedikit saja rasa sayangnya untukku. Namun nampaknya keinginan sederhana itu terlalu sulit untuk tidak mereka wujudkan dalam angan semu. Hingga titik kejenuhan yang begitu dalam akan menyapa langkahku, hingga tubuh ini terombang ambing dengan segontai - gontainya, bahkan hingga raut wajah itu mulai terlupakan satu per satu, apakah tak pernah ada rasa rindu yang tiba tiba menyergap akan tubuh mungilku ini? Andai saja aku diijinkan untuk memilih malaikat itu, tak akan kupilih sepasang sosok kaya yang hanya mampu mengemban tugasnya untuk pemerintah seperti saat ini. Tak akan kupilih sosok yang bahkan tak pernah memendam kasih padaku. Tak akan kupilih sosok yang malu atas kehadiranku. Tidakkah mereka sadar bahwa akulah yang paling tersiksa atas kasus ini?
            “Non, ayo bangun. Ayo kita shalat subuh jamaah” pinta seseorang yang begitu lekat dalam ingatanku, ia adalah satu satunya manusia di dunia ini yang tetap ingin ku ingat.
            Nampak samar - samar tiap ejaan huruf yang ia katakan. Ditambah isyarat tangannya yang melambangkan ucapan takbir. Namun seperti biasa tak ada yang mampu terdengar olehku meskipun tiap sujudku tak henti hentinya meminta agar gendang telinga yang menyatu dalam tubuhku mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Dan inilah aku, Ebba Rei Mafalda. Lahir dengan keterbatasan yang selalu ingin ku atasi meskipun tanpa seorang pun yang berniat membantu. Seorang tuna rungu yang berkepribadian sekuat namanya. Paling tidak hanya itulah satu satunya doa yang kutahu terlontar dari malaikatku. Mungkin dengan itu mereka menuntutku menjadi sosok kuat meskipun tanpa kehadiran keduanya.
            “Hey...!” kekuatan tangan Bi Ani sukses memecah lamunanku yang entah berantah itu. 
            Dengan hati menggebu - gebu kulangkahkan kakiku mengambil sepercik wudhu dengan jutaan manfaat yang melapisi tiap - tiap harapan.
**
            Mengingat semua rutinitasku yang hanya dikurung dalam rumah layaknya gedung berlantai tiga, rasa bosan dan kesepian acapkali menghampiri tanpa permisi terlebih dahulu. Ditambah dengan keheningan dinding - dinding yang tak pernah melukiskan kebersamaan pemiliknya. Hingga saat itu pula begitu ingin rasanya menengok dunia luar yang tak mampu terpahami olehku. Namun masih begitu lekat dalam ingatanku ucap lelaki yang untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya kupanggil dengan nama Abi itu tepat saat usiaku tujuh tahun. Dengan tegasnya laki - laki itu menghampiriku, tanpa sepatah senyum yang mampu kutangkap, dibumbui dengan muka yang tak mampu terartikan jelas. Ia memasangkan alat bantu pendengaran tepat di kedua telinga mungil yang mengajariku banyak hal. Sosok itu lalu berlalu begitu saja dan justru terhenti pada titik lain, Bi Ani. Untuk pertama kalinya ia memaksaku untuk mendengar kalimat yang tak pernah ingin menghampiriku.
            “Bi, tolong Ebba nanti diberi tahu, dia tidak usah bersekolah di sekolah umumnya. Saya dan uminya sudah membuat keputusan agar ia di sekolahkan di rumah saja. Ya sudah ya, Bi. Saya masih ada urusan.” ucapnya begitu tertata layaknya persiapan pidato di depan jutaan mata yang sudah menjadi santapan kesehariannya.
            “iya, Pak.” susul Bi Ani singkat.

Setidaknya hanya itu yang mampu terekam jelas oleh ingatanku akan suara, paras, dan bahasa tubuhnya. Meskipun hingga saat ini tak ada jawaban akan apa tujuan pasti dari pertemuan singkat kita itu, bagiku semua yang ia ucapkan hanyalah bentuk dari keegoisannya, lebih tepatnya semua itu hanyalah bagian dari usahanya menjaga nama baik sebagai pejabat kaya raya. Tak akan ia relakan citra yang ia bangun dengan jerih payah hancur begitu saja karena kehadiranku.
Bersabung.....

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search