31/03/2017

Kebisuan dalam Ruang Berbeda (part.2)

           Kebisuan dalam Ruang Berbeda
oleh Dwi Melly Aprilia Sari

Part II

   Belum lepas dari sosok Abi yang tak pernah bertatapan langsung denganku kecuali sepuluh tahun silam. Seperti itulah gambaran sosok Umi yang ‘katanya’ melahirkanku. Bahkan tak ada keharmonisan kata yang sempat mengalir dari mulutnya untukku. Ingin rasanya bertatapan muka dengan keduanya layaknya hubungan keluarga yang begitu nyaman. Begitu ingin pula rasanya mengatakan pada keduanya bahwa alat pendengar yang mereka berikan sepuluh tahun silam tidak mampu lagi membantuku mendengar alunan dunia atau sekedar mendengar langkah kaki kedatangan keduanya untuk sekedar merasa nyaman dan berbagi derita. Dan satu lagi, begitu ingin rasanya aku menegaskan bahwa aku tak pernah ingin mereka menyesali takdir akan kelahiranku. Namun saat ini, ada hal yang secara pasti ingin terlampaui olehku, melupakan mimpi akan kehadiran orang tua itu dalam hidupku. Karena nyatanya masa itu tak kunjung datang hingga penantian ini berada pada titik terjenuhnya. Saat ini yang nyata bagiku hanyalah kesemuan akan tiap tiap hal yang menyangkut kebahagiaanku.
**
            Malam ini adalah malam terakhirku diumur tujuh belas tahun. Tak berharap setumpuk kado berhias pita, tak berharap apapun karena bagiku harapan yang ku bangun adalah hal yang hanya akan menyakitiku. Satu kado istimewa dari diriku sendiri sudah lebih dari cukup. Menghapus apa yang seharusnya terhapus. Bagiku, dalam dunia ini hanya ada aku, aku, dan aku.
            “Mi... Bi...!” ucapku sekuat tenaga, meskipun yang keluar dari bibirku hanyalah abjad semrawut.
            Samar - samar sosok itu terlihat begitu dekat, memegang tanganku dengan begitu lembut, menyeka rambutku yang terurai tanpa khimar. Namun nyatanya nyali untuk membuka mata tak mampu terkumpul sempurna, akan begitu sulit bagiku jika nyatanya semua ini hanyalah mimpi semu. Namun apakah ini mimpi? Lalu apa maksudnya tangisan itu? Apa maksudnya tatapan penuh kasih yang mereka berikan? Lalu mengapa baru sekarang mereka datang? Benarkah mereka masih menganggapku ada selama ini....
            “Selamat ulang tahun, Ba....” lirih Umi disela sela isak tangis pilunya.
            “Umi, aku ingin berteriak sekencang kencangnya guna melepas rindu. Tapi tak ada yang mampu terdengar melainkan hangatnya hembus nafas yang kali ini terasa begitu dekat. Jikalau saja ini hanyalah mimpi, mimpi ini adalah mimpi terindah yang selalu ingin terwujudkan olehku. Terimakasih telah menjawab semua pertanyaan yang mengusikku meskipun hanya dalam kesemuan ini,” desisku dalam hati.
**
“Non, ini kado dari Umi dan Abi tadi malam. Mau buka sekarang?” pinta tulus satu satunya asisten rumah tangga yang dipekerjakan untuk membantuku menyelesaikan semua hal, dengan mata berbinar - binar.
Sekarang tangannya telah dipenuhi sebuah bingkisan pipih lengkap dengan foto bertahun tahun silam, tepatnya saat usiaku menginjak 5 tahun. Menaiki sepeda yang begitu canggih pada zamannya. Dengan tulisan tanganku yang masih begitu berantakan meskipun telah berkembang pesat dari sebelumnya, kutulis pertanyaan yang mengusikku semalaman.
“Bi, apa benar tadi malam Umi dan Abi menemuiku?” paling tidak, itulah kata yang ingin kusampaikan.
“Iya, Non. kenapa? bukankah setiap hari tuan dan nyonya kesini? Apakah mereka tidak pernah cerita?” tanya Bi Ani membalas tulisanku. Kali ini wajahnya dipenuhi tanda tanya.
Pertanyaan Bi Ani yang terkesan beruntun itu hanya mampu aku jawab dengan senyuman dan wajah innocent dariku, setidaknya hanya itu yang mampu kulakukan agar terpaan pertanyaan yang tak mampu terjawab seperti tadi tidak lagi menyergapku mendadak hingga terasa begitu sesak.
Jadi, tiap detik kejadian tadi malam bukanlah sekedar bunga tidurku. Kedua sosok itu telah menepati janjinya menjadi malaikatku. Bagiku, tak ada yang terlambat untuk mengakuinya. Bahwa tak akan pernah ada satupun yang mampu menggantikan hadirnya meski sesemu apapun itu.
Di sisi lain, Bi Ani masih berusaha menyodorkan kotak pipih itu kearahku. Raut wajahnya nampak begitu penasaran hingga mengalahkan deburan rasa yang bergejolak dalam tubuhku dengan irama tak tentu. Satu... dua... tiga...! Kotak itu berisi lima pucuk surat yang tiap tiap helainya dibungkus dengan sangat rapi, lengkap dengan kalimat singkat diatasnya yang sudah mampu terbaca dan terpahami olehku. Buka saat engkau merasa sendiri, buka saat engkau merindukan kehadiran kami, buka saat terlalu sulit untukmu tertawa, buka saat ingin kau tumpahan air matamu, dan buka sekarang.
Perlahan, bersamaan dengan derasnya air mata mengucur, kubaca surat yang diujung kiri bertuliskan ‘untuk Ebba, anakku tersayang’ itu...
Selamat ulang tahun, Nak. Semoga Allah mengabulkan tiap tiap untaian doa dalam sujudmu. Menjagamu dalam setiap langkah yang mengantarkanmu dalam kebaikan. Senantiasa memberkahi umurmu. Menguatkanmu dalam situasi apapun. Menjadikanmu wanita indah dirindu jannah. Umi dan Abi tercipta untuk menjagamu, mendukungmu, dan mendoakanmu hingga tak ada lagi nafas yang dijinkan berhembus. Sayang, selama ini ada banyak hal yang tak mampu kami sampaikan, ada banyak hal yang harus kami jaga hingga keyakinan ini mengatakan kesiapanmu. Maafkan kami ya, Nak. Maafkan atas apa yang tak mampu kami wujudkan dalam kenyataan. Maaf karena kami tak pernah mengajakmu berbincang atau sekedar bertatap muka. Maaf karena kami belum mengijinkanmu menatap dunia. Ketauhilah, bahwa tiap malam kami selalu menatapmu, melihatmu lekat dan mengatakan seberapa besar rasa sayang kami untukmu. Maaf karena Umi dan Abi hanya bisa menengokmu saat engkau terlelap, namun sungguh semua itu kami lakukan bukan karena kesibukan yang kami nomor satukan. Namun, karena kami tak pernah sanggup melihatmu tersiksa, rasa bersalah itu timbul dari yang terdalam sebagai orang tua. Jadi, hanya inilah yang mampu kami lakukan, melihatmu saat semuanya tak lagi nyata. Percayalah, engkau adalah bidadari yang sangat kami sayangi dan senantiasa kami jaga. Doa abi dan umi selalu menyertaimu, jadilah apa yang mampu kau lakukan dan lakukanlah apa yang kau inginkan.
            Air mata ini tak mampu lagi tertahan, rasa yang selama ini ku pendam dengan mudah terpatahkan oleh ketulusan yang begitu dalam oleh sisi lain kehidupan. Rasa bahagia tak terkira akan kehadiran keduanya. Rasa yang hingga kini tak mampu tersampaikan dengan kata kata, tak mampu terluruskan dalam sikap dan hanya mampu diukir dalam ingat. Kejadian terindah dan pilu yang terjadi bersamaan. Kecelakaan pesawat yang merenggut kedua orang terkasihku. Tepat di hari ulang tahunku. Di hari yang kebanyakan orang mengucapnya sebaagai ‘sweet seventeen’. Tepat satu tahun lalu.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search